Nana pasti menikah, Ayah

Belakangan ini aku terpikir tentang teman hidup. Bukan karena gaung pernikahan yang semakin kencang, juga bukan karena membanjirnya kartu undangan jelang Ramdhan.  Pemicunya ayah. Ayahku kerap mendongeng perihal menantu. Lalu setelah itu beliau akan menanyakan hal yang sama: ‘sudah ada calonnya?’
Jika jodoh adalah misteri, lalu kapan ia datang menghadap ayah untuk mengkhitbah? Sampai bila ia memantaskan diri untuk menjadi seorang suami? Berapa senja lagi akan aku habiskan demi menantinya di sini?
Seiring berlalunya roda waktu, bisikan-bisikan berupa pertanyaan itu berkelebat di benak. Menderu-deru seperti knalpot motor balap. Semakin lama semakin terang bagai cahaya. Sungguh menyilaukan.
Kuusir mereka dengan membaca pemikiran (konon dicap terlarang) Tan Malaka, melahap buku-buku motivasi dan hikmah yang ditulis pengarang Timur Tengah. Kusibukkan diri dengan mendengarkan ceramah ustadz paforitku, KH. Zainuddin MZ serta sekali-sekali menikmati musik Country, lagu-lagu Rhoma Irama dan dangdut-dangdut klasik.
Aku juga menambah jam aktivitas, menjadikannya kamuflase agar tidak peduli dengan bisikan-bisikan tadi. Ketidakpedulian itu memang berhasil, tapi hanya sekejap.
Ketika tabir malam direntangkan, saat tak ada siapa-siapa selain senyap, maka bisikan-bisikan itu hadir dan sangat nyata. Mereka hidup dalam figura kosong, menjelma guling, berserakan di ranjang, tergantung di dinding-dinding. Pada akhirnya, semua bisikan tersebut berkumpul dalam satu wujud, membentuk wajah ayah: “Belum ada juga?”
Aku mampu bersikap sempurna terhadap cibiran semua orang yang menyoal kesendirianku, dan tanpa rasa bersalah menghubung-hubungkannya dengan usia.
Aku siap berhujjah dengan jawaban-jawaban ilmiah ketika mereka bertanya tentang teman hidup yang sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya.
Aku selalu berbesar hati (meski sering gagal) saat semua saudara membanding-bandingkan nasibku dengan beribu perempuan di luar sana, yang masih belia tapi bergelar mahmud alias mamah muda.
Aku tak pernah tergoda dengan rekan-rekan yang berlomba-lomba jadi istri di usia dini.
Sedikitpun aku tak terluka apalagi sakit hati dengan teman seumuran yang berhasil melepas masa lajang. Sudah beranak pula.
Aku malah lebih berkonsentrasi pada pendidikan, sebab aku ingin memperdalam ilmu lewat sekolah, sekolah dan terus sekolah. Prioritasku ada pada karir, melahirkan buku, memperdalam segala bahasa khususnya arab, inggris, mandarin dan jerman. Perhatianku terletak pada seberapa besar manfaatku bagi orang banyak.
Dengan kata lain, aku sanggup mendaki gunung, melewati lembah, berlayar di lautan bergelombang garang, menapak Sahara dengan kaki telanjang. Meski sulit akan aku coba hadapi segala. Kendati mustahil aku akan berusaha sedaya upaya.
Aku sanggup menantang dunia, menanggung sendirian terhadap resiko-resiko yang datang nantinya. Meski terantuk-antuk pada bebatuan tajam, aku sanggup berdiri dengan telapak penuh goresan. Aku sanggup. Masih sanggup.
Tapi membuat orangtua merintih perih, menanggung setiap inci beban, aku tak kan bersedia. Aku tak pernah siap untuk itu. Aku tak mampu.
Apalagi sejak ibu dilamar kematian, ayah lah yang selalu ada di hadapanku. Ayah adalah orangtua satu-satunya dalam hidupku. Aku takut bila ayah bersedih. Karena itu aku berusaha menempatkan Ayah di peringkat nomor satu, laki-laki yang harus kudengarkan nasihatnya, kudahulukan kehendaknya. Laki-laki yang menjadi alasanku untuk selalu memelihara harapan, mengikat semangat, dan meraih mimpi, apapun rintangannya, apapun yang terjadi, demi ayahku.
Kupikir seorang ayah, ayah di dunia manapun itu, belum merasa bahagia saat anak-anak mereka yang layak disebut matang secara usia, mental dan pemikiran, masih betah menjomblo.
Jadi lima hari lalu, saat ayah kembali mengusikku dengan pertanyaan tentang teman hidup, lidahku kelu, tak sanggup berkata-kata. Aku lunglai. Jangankan badai, angin sepoi pun seolah menjadi sandungan. Aku rebah pada ilalang yang hangus dimangsa siang.
“Ayah sabar dulu. Nana pasti menikah,” jawabku sembari tersenyum penuh semangat. Begitulah jawaban terpasrah yang keluar dari mulutku. Berusaha meyakinkan ayah dengan kata pasti meski aku tahu itu tak berfungsi.
Sementara jauh di sudut sana, di dasar hati ini, aku tersakiti. Aku terluka. Sungguh-sungguh terluka. Bukan karena aku marah dengan pertanyaan ayah yang lebih mirip desakan. Pun tak jenuh mendengar soalan-soalan yang dibunyikan hampir saban hari, sehingga lebih mirip alarm.
Hanya saja, aku marah dengan keadaan. Aku mencerca kesendirian. Pada akhirnya aku merutuki skenario yang telah ditetapkan atasku.
“Takdir Yah, takdir…” Ujarku kadang-kadang.
“Takdir la memang, tapi harus berusaha”, sambung ayahku.
Jangan ajari ayah tentang takdir. Ia mampu menjelaskan berbab-bab kisah perjuangan menemukan teman hidup padamu. Atau ingin menjelaskan pada ayah sifat ikhlas? Ayahku memiliki sejuta jawaban berikut bantahan tentang arti ikhlas. Selesai di situ saja? Tidak. Ayahku akan menceramahimu mengenai risalah Rasulullah, sahabat-sahabatnya, serta akhlaknya. Cukup? Cerita masih berlanjut. Ayahku akan menanyaimu tentang sosok yang tak dikenal di bumi, tapi sangat populer di langit, yang sangat mencintai ibunya hingga ia disebut sebagai ahli Sorga: Uwais bin Rabbah.
Barangkali kau akan mengatakan Uwais adalah pemain felem action? Maka bersiaplah diserang habis-habisan oleh ayahku.
Memang benar beliau bersekolah di SR (sekolah rakyat), itupun hanya sampai kelas III. Tapi beliau adalah predator buku. Melahap habis semua bacaan dari kelas ringan sampai kelas berat. Beliau sangat menyukai sejarah dan buku mengenai tokoh-tokoh.
Dengan mengandalkan SR yang tak berijazah itu, ayah telah mengelilingi ASEAN dengan kapalnya sendiri. Sebuah kapal besar bernama Bintang Pelangi.
Ayahku yang keras kepala itu, tak kan sudi mengaku kalah sebelum berhujjah. Ayahku akan mencelamu jika kau berani mengata-ngatai pendidikannya. Itu sebab ayahku mau muntah saat mendengar ribut-ribut perkara bebek nungging. Ia tersinggung ketika mendengar pernyataan ngeles si bebek “Eneng cuma tamat SD”.
Lantas bagaimana? Jurus paling ampuh untuk menyingkirkan kicauan ayah tentang menantu adalah menimpanya dengan cerita. Menambal isu dengan isu. Aku belajar jurus ini dari para Politisi kita. Mereka mahir melakukan itu.
Tentang mereka yang akan berlaga untuk memimpin Jakarta, tentang menteri Susi, tentang penerus pemimpin otoriter di Libya, juga tentang Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Di situlah ayahku mulai serius dan sibuk menyampaikan hasil bacaannya serta menjelaskan pandangannya.
Tema tentang menantu segera menguap. Aku pun selamat, setidaknya seminggu. Tapi sampai kapan aku bertahan dengan jurus tambal menambal isu?
Tuhan, ayah telah memberiku begitu banyak kebahagiaan yang tak sanggup kuhitung, tak mampu kubalas. Salah satunya saat di usia 15, ayah mengajakku berHaji ke rumahMu. Kendati aku tahu, Engkaulah yang mencukupkan rukun Islam ke 5 itu bagiku.
Tuhan, kebahagiaan ayah adalah kebahagiaanku. Saat ia berkata ‘mengelus dada jika mendatangi undangan pernikahan anak rekannya’, aku tahu itu bahasa bersayap. Selain pemarah, ayahku ahli berkata-kata satir.
Tuhan, ayahku pernah berkata bahwa ia akan merasa sedih kalau lelaki lain membawa anak perempuannya. Tapi ia pasti sangat bersedih lagi kalau menantu idaman bagi anak perempuannya tak kunjung tiba.
Kesepian tiba-tiba menusukku dari segala penjuru. Dadaku disesaki sesuatu yang tak dapat kupahami. Kulihat sekeliling, kudapati sorot mata garang ayah, kerlip harapan lewat mata teduh ibuku, serta lambaian tangan dari mereka yang mati dalam kesendirian. Semuanya hadir silih berganti, membentuk lingkaran yang memusingkan. Tiba-tiba air mataku menepi karena kesendirian yang tak tertanggungkan.
Tuhan, selain sebagai ayah, beliau merupakan ibu bagiku. Jadi Tuhan, tinggikan derajat ayah sebagaimana Engkau meninggikan derajat ibuku.
Tuhan, demi cintaMu pada Ayahku, demi jiwaku yang berada dalam genggamanMu, segerakanlah takdir itu. Tapi jika masih lama, jika kami masih membutuhkan waktu untuk saling memantas-mantaskan diri agar dapat bertemu dalam ridhoMu, segerakanlah kebahagiaan lain untuk ayahku. Segerakanlah kejayaanku, bantulah aku meraih mimpi-mimpiku.
Sebab selain cinta tulus dari almarhum ibuku, kejayaan anak-anaknya lah yang dapat membuat hati ayah megah hingga senyum ayah kembali merekah.

Tentang rambut dan teman hidup

Pada masa ketika emak masih terjaga, emaklah yang selalu bertugas mengurus rambut panjang saya. Disisir, diberi minyak kemiri, kemudian didandan. Tiga hari sekali rambut saya dikeramas. Jika dirasa terlalu panjang dan bercabang, ujungnya dipangkas. Sedikit saja. Supaya terlihat rapi dan lemas.

Rambut saya lurus, hitam dan panjang sampai ke pinggang. Jika saat itu saya ikut casting iklan, saya yakin, tepatnya meyakin-yakinkan diri, bahwa produser akan menerima saya untuk membintangi iklan sabun cuci.

Model kepang paling tenar di ketika itu adalah kuncir kuda. Jadi tiap ke sekolah rambut hitam saya selalu dikuncir kuda. Jalinan rambut itu akan bergoyang kiri ke kanan tiap kali saya berjalan.

Pernah sekali dipotong pendek gara-gara kutuan. Emak panik melihat kutu yang beranak pinak di kepala saya. Kadang-kadang mereka piknik di jangat. Lalu pindah ke poni. Mereka juga gemar bersembunyi di balik telinga.

Jijik? Iya, saya juga jijik bila mengingatnya. Tapi karena masih berupa anak gadis berseragam putih merah, saya cuek saja dengan kutu-kutu yang hilir mudik tanpa mengenal waktu. Saya lebih memilih sibuk dengan patok lele, bermain kelereng, dan tambuku. Sementara kepanikan emak yang amat berisik, membangunkan keluarga kutu yang sedang asik memahah biak, pelan-pelan menghisap darah menuju tengkorak.

Akhirnya Emak membawa saya ke salon khusus perempuan. Rambut saya dibabat. Gonjes, begitu nama model rambut pendek itu. Tapi setelah melihat gambar mendiang Lady Di seukuran post card yang tertempel di lemari buku, baru saya sadar bahwa model rambut pendek saya persis rambut ibu Pangeran William.

Poto kenangan berambut Lady Di tersebut masih awet tersimpan di album poto dengan cover bergambar Meriam Belina. Setelah dipandang-pandang, ternyata berambut pendek sangat menyenangkan. Merawatnya cukup mudah dibanding rambut panjang. Hemat waktu, kalau sudah kering tinggal disisir pakai jari. Setidaknya dua hal tersebut sangat dibutuhkan oleh tipe pemalas seperti saya.

Ngomong-ngomong, ayah tak pernah mengizinkan anak perempuannya berambut pendek, terkecuali alasan darurat dan dapat dimaklumi. Itulah sebabnya rambut saya masih panjang hingga ke lutut, sampai kini.

Apalagi setelah berkerudung, rambut ini tak pernah lagi tersentuh gunting pangkas walau sekedar dirapikan. Hanya dikeramas dan disisir dua kali sehari. Ia terus memanjang tanpa saya peduli.

Saya bisa saja mengelabui ayah dengan mengatakan kalau rambut saya masih tetap panjang. Toh, rumah ayah dan rumah yang saya diami jaraknya berjauhan. Satu provinsi, tapi beda kota. Lagipula saya memakai kerudung, di dalam dan di luar rumah. Tentu sangat sulit bagi ayah mengintai rambut saya.

Akan tetapi berbohong bukan ciri seorang muslim sejati. Dan ayah terlalu berharga untuk saya sakiti.

Tentu saja keinginan untuk memiliki rambut pendek tetap terpatri di hati. Rencananya akan saya bawa ke salon  jika tiba saat menikah nanti. Sebut saja wish list. Tapi jodoh saya seperti hilal yang acap jadi perdebatan tiap mendekati ramadhan. Belum kelihatan.

“Bagaimana kalau jodohnya masih lama?” Tanya Lily, adik bungsu saya.

Pertanyaan yang membuat jantung berdegup kencang. Lama saya terdiam hingga akhirnya suara saya mencelat keluar dengan jawaban terpasrah.

 

“Biarkanlah. Barangkali akan terus memanjang sampai menyeret tanah. Tapi doakan saja jodohnya segera singgah.”

Saat itu saya berusia 60. Barangkali setiap pagi saya akan menyeret bangku ke beranda. Duduk bersandar seraya mengamati cuaca. Tersenyum, menyahuti tegur sapa orang-orang yang dikenal. Membaca buku sembari memilin-milin rambut yang telah memutih seperti tertumpah salju.

Jika malam tiba, saya kembali duduk di beranda. Melihat cahaya temaram bulan, menghitung bintang, dan membunuh waktu dengan melahap teori Karl Marx, mengangguk-angguk pada petuah Rumi, serta mengulang kembali cerita Andrea Hirata. Tak lupa saya me-turn on DVD Rhoma Irama.

Hingga suara jangkrik lebih bingar dari suara sendiri, maka malam tak lagi bersahabat dengan perempuan tua. Tertatih saya berjalan menuju ranjang.

Sebelum mata mengajak lena, saya memikirkan teman hidup seperti malam-malam sebelumnya. Masih adakah? Masih mungkinkah? Tanpa disadari bulir bening mengalir ke pipi: saya masih dipeluk sepi.

____________

Sinting! Sinting sekali! Itu khayalan tentang kesendirian yang paling buruk dan mengerikan.

Tapi folks, saya tetap ingin memendekkan rambut jika dikhitbah kelak. Bukan karena fashion, melainkan ingin memberikan yang terindah pada dia yang Allah janjikan. Well, doakan ya, agar teman hidup saya segera dipertemukan.

Hello Saturday

Hello Saturday

Ini pekan terakhir di bulan Maret. Semoga bukan yang terakhir bagiku juga kalian. Aku masih ingin meraih asa, menggapai mimpi, kemudian berusaha sedaya upaya membuatnya jadi kenyataan. Meski tertatih dan tak tahu apa yang menunggu di depan, akan tetapi perjalanan menyibak misteri akan terasa sangat menakjubkan.

Beribu gundah pasti menghampiri, onak halus tentu tersebar di badan jalan, hawa angin tenggara membakar pipi, namun langkah pantang terhenti.

Di suatu ketika, ada saat mengambil jeda. Untuk sekedar merentang tangan di tengah padang, menyesap lelah di halte tak bertuan, mengusap peluh yang tak sudah, atau menyeka air mata yang menetes tiba-tiba.

Seperti sabtu ini, entah mengapa hatiku gerimis. Kupikir, aku butuh jeda sejenak. Iseng kususuri jalan kecil yang berada di areal gedung milik pemerintah. Lahan luas yang berisi bangunan separuh jadi dan berantakan. Sudah bertahun-tahun bangunan tersebut terbengkalai. Rencananya pemerintah akan mereinkarnasi pasar utama. Kenyataannya, pasar sentra yang dijanjikan untuk rakyat hanya bualan.

Meski jalan kecil tersebut tak semulus jalan beraspal, namun cukup layak untuk menapak. Banyak penduduk melaluinya untuk mempersingkat jarak menuju nasib, mencari jawaban dari sebuah soal, juga menemui cinta yang tak perlu pengakuan. Mereka melenggang pelan, ada juga berjalan tergesa-gesa.

Dan aku, menyeret langkah sembari menatap kosong ke ujung tembok yang membatasi areal pemerintah dengan pemukiman penduduk.

Terjadi begitu saja. Di jalan kecil itu aku terjatuh tanpa sebab. Terduduk dan mengaduh. Pergelangan kaki kananku terkilir. Aku pasrah, tak sanggup mengangkat wajah. Sakitnya menghujam jantung dan kepala.

Rasa sakit itu mengingatkanku tentang kau yang pergi tanpa kata, menghilang dari jarak pandang. Lalu, sayup-sayup kudengar kau telah bersama seseorang.

Rasanya sama, menghujam jantung dan kepala.

Di jalan kecil itu aku terduduk dan mengaduh. Aku pasrah, tak sanggup mengangkat wajah. Kakiku sakit. Hatiku sakit.

Aku butuh jeda sejenak. Menghalau perih yang masih menyerpih. Mengobati luka yang masih menganga.

Semestinya tak kan lama. Sebab aku masih ingin melangkah ke stasiun berikutnya. Menemukan jawaban atas segala tanya, mencari segala di sebalik rahasia.

melupakan

dalam hidup ini, akan selalu ada yang ingin dilupakan. entah itu seseorang, momen, atau kenangan. sebab ada hal pahit yang tak ingin dibicarakan. namun semakin keras usaha untuk melupakan, semakin kuat pula kukunya mencengkram.

melupakan adalah kesia-siaan. sebab segala telah mewujud dalam pikiran.

tentangmu yang kupikir telah usai, rupanya segenggam rasa masih tersisa, di sini. kini.

IMG_20160324_101815

Menghadapi Customer Nakal

-Berteman dulu beberapa waktu, kemudian baru bisa menilai, seseorang tersebut termasuk jenis teman yang baik atau buruk, membawa manfaat atau hanya mudharat, meringankan atau memberatkan-

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya ini owner online shop Dynamic Square yang menjual make up, sepatu & sandal, kacamata, underwear, mukena, fashion beserta software dan hardwarenya. Dengan catatan, material atau bahan baku adalah pengecualian.

Customer saya berasal dari beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Utara seperti Kota Tanjungbalai, Kisaran, Medan, Batubara, Limapuluh dan Deli Serdang. Bahkan ada customer yang berasal dari luar Sumatera Utara seperti Kalimantan, Ambon dan Pekan Baru.

Selama 1 tahun 5 bulan membidani Dynamic Square, tentu saya hafal tipe dan perangai pembeli atau customer. Sebagian mereka menyebalkan, sebagian lagi menyenangkan. Beberapa di antaranya membawa ketenangan, sisanya merepotkan. Ada customer yang awet sampai sekarang, namun banyak juga yang menghilang. Kadang-kadang mereka membuat saya jejingkrakan bahagia, tapi tak jarang saya dibikin menganga, marah, ngomel sendirian, dan menangis dalam hati.

Untuk yang terakhir, tadinya saya merasa sudah kebal karena berkali-kali diajarkan pengalaman. Sebabnya, pembeli nakal banyak berkeliaran di area Dynamic Square. Mereka sopan berbicara, bahasanya manis tapi berbisa. Mereka bertanya-tanya seputar produk di etalase. Banyak hal, salah satunya apa manfaat kosmetik A, bagus atau tidak, berapa harganya, bagaimana cara mengaplikasikan kosmetik tersebut ke wajah, dan seperti apa efek sampingnya bila digunakan dalam jangka panjang.

Selanjutnya mereka meminta saya menghitung harga barang beserta ongkos kirim. Kemudian meminta nomor rekening bank untuk mentransfer total belanja yang sudah saya berikan. Sama halnya dengan pakaian, sepatu, underwear, juga kerudung/jilbab.

Umumnya, setiap toko mempunyai rules atau kebijakan yang harus disepakati oleh buyer. Mau tidak mau, suka atau tidak suka.

Jika berkenan dengan rules, silakan melanjutkan belanja. Jika keberatan, pintu toko terbuka lebar, dengan segala kerendahan hati buyer dipersilakan keluar.

Tujuannya, mengantisipasi pembeli nakal yang termasuk dalam kategori php (pembawa harapan palsu), suka ingkar janji, gemar berbohong, aktif bertanya namun lenyap seketika, hobi menawar sampai jauh di bawah modal.

Adalagi yang bikin gerah. Tipe ngotot. Mereka ingin barang orderan secepatnya sampai tujuan. Padahal, seller/owner telah mengusahakan ekspedisi sesuai permintaan buyer. Setidaknya menggunakan ekspedisi terpercaya seperti Si Cepat atau JNE.

Akan tetapi, ekspedisi tersebut masih memakai tenaga mesin dan manusia. Bukan tangan Tuhan beserta malaikat-malaikatNya. Oleh karena itu, kendala bisa berwujud bencana alam, kebakaran, atau transportasi yang mengangkut barang mengalami error system. Jadi bila ada keterlambatan setelah seller memberikan nomor resi, maka tanggung jawab ada pada pihak ekspedisi. Peran buyer sangat diharapkan di sini, agar kedua belah pihak tidak merasa dirugikan, tidak menimbulkan miskomunikasi, sehingga kerjasama dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Walaupun begitu buyer tak perlu cemas berlebihan sebab seller (contohnya saya) akan ikut berpartisipasi mengontrol dan mengonfirmasi keberadaan barang.

Barangkali, saya adalah satu dari sedikit olshop yang tidak menyusun apalagi menerapkan rules. (Tadinya) menurut saya, rules yang berisi poin-poin a-z dianggap menyeramkan, membuat buyer merasa tidak nyaman. Sebab sebagai orang yang pernah dan masih berstatus buyer, saya juga merasa demikian. Enggan berbelanja ketika melihat rules segunung. Apalagi jika rules bernada mengancam, lepas tangan, dan terkesan egois.

Nyatanya, rules tetap diperlukan. Hanya saja perlu ditulis dengan sopan, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami agar tidak terkesan angker. Rules juga harus ditulis secara detil, rinci, dan sederhana, supaya buyer dapat menangkap pesan seller dengan gamblang.

Nah, tulisan ini sampai pada intinya. Pada suatu ketika, seorang buyer perempuan belanja di olshop saya. Sebut saja namanya Raflesia Arnoldi. Karena nama samaran itu cukup panjang, maka saya singkat menjadi RA. Kalau cukup panjang, kenapa nama samaran tersebut tidak ditukar saja? Karena artinya pas sekali…

RA, teman dari teman saya, kelak menjadi teman saya. RA seorang Mahasiswi kedokteran di universitas swasta. Berkulit putih, cantik, tinggi. Ia punya rumah (rumah orangtua) di seputaran kota Medan, tapi ia memilih tinggal di kost-kostan.

Punya mobil Honda Brio terbaru, menggunakan Iphone 4, tidak fashionable, tapi entah kenapa paling update soal kosmetik atau skincare.

Pertemanan saya dan RA baru berjalan 3 minggu. Dari situ RA tahu kalau saya pemilik Olshop. Saban hari ia bertanya perihal kosmetik. Kata RA, ia sudah (lelah) mencoba beragam kosmetik mulai racikan dokter, kosmetika dari klinik kecantikan, skincare dari merk-merk terkenal hingga krim wajah abal-abal. Tak ketinggalan facial, peeling dan jenis perawatan lain.

Masalah RA cuma satu yakni jerawatan. Lantas saya merekomendasikan Tabita, cream kuning putih tanpa BPOM, tanpa expired date, tanpa daftar bahan baku.

Kira-kira setahun lalu, saya pernah menggunakan Tabita untuk mengatasi jerawat lebay dan kulit break out gara-gara menggunakan skincare ternama dari Korea. Saya mengetahui krim ini berdasarkan info dari beberapa teman yang berhasil lebih dulu memerangi jerawat.

Alhamdulillah setelah satu bulan pemakaian, jerawat saya hilang dan kulit wajah menjadi cerah. Karena itulah saya berani mengenalkan Tabita pada RA.

Setelah tanya sana sini, mengingat dan menimbang, akhirnya 2 minggu kemudian RA memutuskan membeli 1 set Tabita Reguler seharga Rp.750.000, yang terdiri atas toner, sabun, day cream dan night cream. DENGAN CATATAN: dibayar setelah barang datang. ARTINYA: pakai uang gue dulu.

Sayang sekali saya tidak menetapkan rules di awal terbentuknya Dynamic Square. Tapi baiklah, karena si RA teman saya, maka saya ikut. 1 set Tabita dibayar di belakang. Deal!

Tiga hari setelah pemesanan (pengiriman menggunakan jasa JNE Reguler), Tabita pun sampai ke alamat tujuan. “Kak, Tabita uda sampe. Makasih yaa…” Klikk. Ponsel dimatikan. Tak ada pembicaraan mengenai uang.

Karena prasangka yang bergegas dapat melenyapkan kebijaksanaan, saya pun tak hendak buru-buru menagih.

Keesokan harinya RA mengirimi saya pesan singkat bahwa uang Tabita akan dibayar Sabtu malam, di acara hajatan kawinan seorang teman.

Janji adalah hutang, dan berhutang membuat banyak janji.

Tapi RA teman saya. Baiklah, janji saya turuti. Cepat-cepat saya usir cemas yang merambati pikiran meski sebenarnya sangat sulit menanamkan kepercayaan ketika kau hidup di tengah lautan manusia yang mengagungkan kebohongan.

Detik demi detik berlalu menuju janji Sabtu malam, RA semakin rajin ber-bbm dengan saya. Setiap hari ia menanyakan perihal kulit wajahnya yang sedang menggunakan Tabita. Sungguh saya jenuh. Sangat jenuh. Dalam hati terlintas sesal teramat dalam, kenapa dulu saya merekomendasikan Tabita ke RA. Bahkan terselip kesal berlipat ganda, kenapa dulu saya bertemu dan berteman dengan RA.

Ya salaam.. Selain teman dan pihak seller, saya juga merangkap dokter pribadinya. Dokter tanpa biaya konsultasi.

Enam hari berlalu sejak kehadiran Tabita di kost RA. Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, saya harus menagih janji itu.

Dan benar saja, di akhir acara hajatan teman, tepat pukul 10.30pm, RA memberikan uang 750rb. Thanks RA, karena sudah kooperatif meskipun membuat saya menunggu lama.

Sejatinya aktivitas jual beli harus memiliki beberapa fondasi yaitu saling percaya, saling menguntungkan, saling terbuka, dan saling melegakan. Jika satu fondasi saja tidak terpenuhi, maka jual beli tentu mengalami ketimpangan. Salah satu pihak akan merasa dicurangi. Di sinilah alasan pentingnya rules harus ditulis dan diterapkan.

Akan tetapi, selang 3 minggu setelah RA membayar uang 750rb di penghujung sabtu malam, peristiwa Tabita kembali berulang. RA memesan day cream Tabita, masih dengan catatan.

Saya sudah meminta RA untuk mentransfer uang seharga day cream tersebut (250rb) ke rekening saya: Mandiri, BRI, BCA. Tapi RA beralasan bahwa rekening tabungan yang ia miliki hanya BNI.

“Kakak aja ambil uangnya di kost ya. Kalo transfer dari BNI ke rekening lain, kena charge lagi.”

Wallahi saya nelangsa. Baru kali ini saya bertemu teman bersifat demikian. Yang saya tahu, seorang teman tak akan pernah merepotkan, memberatkan, merugikan teman sendiri.

Baru sekali itu juga saya bertemu customer yang merepotkan. Padahal customer saya sebelumnya, tak pernah bertatap muka, alamat rumahnya jauh di seberang lautan (Batam), tak pernah telpon-telponan, serta sangat jarang sms-an, tapi fine-fine saja mentransfer uang 1,8 juta.

Kasus RA membuat saya bertanya-tanya, apa salahnya mentransfer 250rb lebih dulu? Bukankah kami berteman dan berdekatan rumah? Apa dia tidak percaya pada saya? Bukankah saya telah pernah memberanikan diri (mengabaikan resiko) dengan mendahulukan uang 750rb untuk membeli 1 set Tabita pesanannya?

‘RA temanmu, Na. Ikuti sajalah’ bisik suara di ujung sana.

Meski dengan berat hati, permintaan RA masih juga saya turuti. Day cream Tabita saya pesan ke supplier. Pengiriman menggunakan jasa JNE OKE dengan estimasi 3-4 hari sampai ke alamat tujuan.

Singkat cerita, Tabita tiba sesuai perkiraan. Karena saya belum ada waktu ke kost-nya, sampai sekarang uang 250rb masih tersimpan di kost RA, terhitung 1 bulan sejak kedatangan. Saking lamanya, barangkali tumbuh putik di keempat sudutnya.

Pagi di bulan Februari, bbm saya berbunyi. Seharian RA bertanya-tanya mengenai jenis Tabita lainnya. Ternyata ia ngin mengorder lagi: day cream Tabita, sabun, dan loose powder. Totalnya 650ribu.

Jenis Tabita yang ia pesan sudah saya totalkan berikut biaya kirim serta uang 250ribu dari pembelian Tabita yang ia order sebulan lalu. Plus, saya ingatkan untuk mentransfer uang lebih dulu ke rekening yang ia mau: Mandiri, BRI, BCA.

Stok sabar saya terbatas. Jual beli macam ini harus dihentikan. Kalau RA masih tidak berniat mentransfer lebih dulu, maka orderan saya batalkan. Tak peduli dengan untung yang akan saya peroleh dari penjualan, tak peduli kemana nantinya ujung pertemanan. Saya senang berbisnis, saya senang pada uang. Akan tetapi dalam hidup ini, ada yang lebih penting dari itu yakni: ketenangan.

Faktanya, RA tak memiliki I’tikad baik sama sekali. Ia malah terus menagih kapan pesanannya dikirimkan.

Bercermin dari kejadian itu, saya membuat keputusan final. RA saya hapus dari friend list BBM. Mengenai uang 250rb, secepatnya akan saya ambil di kost-nya.

Lalu, kesimpulan apa yang dapat dipetik dari kejadian menyebalkan ini?

1. Pilihlah teman berkualitas

2. Dua orang teman di kala jatuh jauh lebih baik dari milyaran teman di kala happy

3. Tulis dan terapkan rules dalam setiap urusan

4. Miliki prinsip hidup, dan teguhlah memegang prinsip itu

5. Ketenangan jiwa sangat besar manfaatnya daripada segudang harta namun membawa sengsara

 

Menyoal Aurat (muslimah)

Perihal menutup aurat, kiranya telah pernah saya tuliskan di timeline facebook. Tapi rasanya kurang afdol jika tidak berbagi di blog pribadi.

Tulisan ini tercipta karena ramainya gunjingan, soalan, perdebatan tentang ‘wajib atau boleh’ atas perempuan memakai jilbab.

Saya berusaha menuangkan hasil pemikiran ini dengan segala kerendahan hati, tanpa tekanan dari pihak manapun, tidak ditunggangi oleh aliran dan organisasi lokal, nasional maupun internasional, juga tidak karena aliran dana dari sesiapapun.

Sekedar berbagi namun tidak untuk mewacanakan kembali. Menyusun benang pikir barangkali dapat dijadikan diskusi. Sebab sebuah pendapat bukan harga mati. Mestilah ada sanggah dan hujjah atasnya.

Allah menjamin kebebasan berpikir bagi setiap orang. Setiap orang memiliki cara pandang sendiri untuk melihat sesuatu dari berbagai sisi. Karena itu saya tidak memaksa saudara agar sepakat dengan saya. Silakan diperdebatkan, mungkin saudara memiliki pemikiran yang dapat menambah informasi dan memperkaya pengetahuan.

Menutup Aurat: Jilbab vs Khimar

Beberapa waktu lalu, tak sengaja saya membaca sebuah tulisan singkat berlatar belakang poto Nazwa Shihab, di laman facebook seseorang. Kira-kira bunyinya demikian: “Islam tidak mewajibkan perempuan islam berjilbab…”

Saya tidak tahu betul apakah kalimat tersebut murni pernyataan Nazwa Shihab atau pernyataan orang lain dengan melekatkan gambar presenter kondang itu sebagai backgroundnya. Yang pasti, di sini saya tidak sedang menyoal seseorang.

Sejatinya saya hendak menyetujui kalimat di atas. Bahwasanya benar, Islam tidak mewajibkan perempuannya berjilbab. Akan tetapi dalam Al-Quran diterangkan, perempuan mukmin diperintahkan menutup aurat.

Seperti bunyi QS. An-Nuur: 31 “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Apakah berjilbab tidak sama dengan menutup aurat?

Melihat konteks dan praktek jilbab dewasa ini, definisi jilbab sebagai penutup aurat seringkali disalah arti bahkan direduksi sehingga sangat kerap kita dibingungkan dengan penggunaan kata jilbab tersebut. Alih-alih syar’i, jilbab malah kehilangan makna.

Misalnya, perempuan yang menutup kepala (rambut) dengan sehelai pashmina atau kain satin (seperti saya) akan dikatakan berjilbab kendati pakaian yang ia kenakan berupa full press body, menerawang dan (masih) membentuk lekuk tubuh. Padahal, penutup kepala disebut dengan khimar atau kerudung. Sedangkan definisi jilbab tidak seremeh itu.

Perlu dipahami bahwa jilbab, bentuk jamaknya jalaabiib artinya pakaian yang lapang/luas, memiliki makna yang lebih dalam yaitu pakaian yang lapang, longgar, dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sedangkan penutup kepala atau kerudung, disebut khimar.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya lebih suka menyebut: ‘islam memerintahkan menutup aurat’. Pijakan berpikirnya adalah, sebagian besar masyarakat khususnya muslim/muslimah, dapat memahami bagian tubuh mana saja yang disebut aurat.

Lalu, mengapa muslimah yang menutup aurat (berkhimar atau berjilbab) beberapa di antaranya masih gemar bermaksiat?

Berjilbab, tidak berkenaan dengan kapan hati terniat, pun tidak berhubungan dengan prilaku. Terlepas dari rasa terpaksa atau tidak ikhlas, menutup aurat merupakan ciri hamba yang taat. Jadi ketika seorang muslimah menutup aurat, maka ia telah mengikuti perintah TuhanNya.

Memang, perintah menutup aurat tidak terdapat dalam rukun islam atau rukun iman. Akan tetapi, setiap muslimah yang telah bertauhid ‘laa ilaaha illallah’, tentu akan menaati perintahNya. Setiap muslimah yang meyakini dan memahami rukun iman yang salah satu bunyinya ‘beriman kepada kitab Allah’, tentu akan mengimani al Quran serta mengamalkan isinya.

Lantas, salahkah perempuan yang berusaha keras menutup aurat kendati dalam keadaan penuh cela?

Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang bebas nilai. Sebab manusia adalah makhluk yang sering khilaf, bisa alpa, tempatnya salah dan lupa.

Cukuplah seseorang dikatakan beriman ketika ia mempercayai serta tidak meragukan Allah, malaikatNya, kitab_kitabNya, para utusanNya, hari akhir, dan beriman kepada qadar baik dan qadar buruk.

Sungguh, saya tidak akan mengatakan bahwa seorang Nazwa Shihab tidak beriman hanya karena dia tidak berkerudung atau menutup aurat. Barangkali tahajjud dan dhuhanya lebih baik dari saya. Atau sholat wajibnya selalu tepat waktu dari saya. Hidup ini adalah sebuah proses yang terus akan berlanjut selagi masih bernafas. Hidayah bisa datang kapan saja. Tugas manusia hanya mengingatkan, bukan memaksakan. Sebab itu, usah membuat islam menjadi seram dan menakutkan.

Namun jika menutup aurat harus menunggu ‘saat sempurna’, maka ia akan menunggu sampai hari dimatikan dan dibangkitkannya manusia. Dengan kata lain, ia akan menunggu selamanya, hingga nyawa terlepas dari raga.

Meski demikian, menutup aurat tidak hanya dimaksudkan sebagai ‘pembungkus’ tubuh, tapi merupakan bekal untuk menjadi pribadi yang berakhlak dan beradab. Artinya, ketika telah menutup aurat, saat itu juga kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab menjaga lisan, pandangan serta tindakan, dari perbuatan maksiat, amoral dan tercela.

Namun jika saudara memilih tidak menutup aurat, silakan. Saya tak rugi, Tuhan apalagi. Bahkan jika saudara ingin berbuat kerusakan di muka bumi, sedikitpun kekuasaan Tuhan tak pula berkurang.

Tak seorangpun bisa lepas dari perbedaan pendapat kendati ia minta mengasingkan diri ke puncak gunung. Jadi, akan selalu ada orang-orang yang bertentangan dan tak sepemahaman.

Namun jika saudara tak mampu mencari solusi, sebaiknya diam. Jika saudara tak sanggup menjadi penengah, setidaknya berhentilah menambah kisruh. Sebab tujuan kita bukan bagaimana bisa sepakat, melainkan bagaimana tidak bertikai dan berselisih. Sebab hidup ini terlalu pendek daripada sekedar mengumbar permusuhan.

Di kesempatan ini saya merasa perlu mengutip sepenggal bait dalam lagu Moderenisasi yang ditulis oleh Rhoma Irama:

‘memakai jilbab rapi sopan dan beradab/dan ini perintah Tuhan, dipersoalkan.

pakaian mini yang membangkitkan birahi/dan mengundang kejahatan, tak keberatan…’

Akhirul kalam…

Hidup menyediakan ruang kebebasan. Silakan memilih dan menjalankan prinsip. Jika saudara berpendapat bahwa berbikini sepanjang hari merupakan hak asasi?  Silakan laksanakan. Jika saudara bersepakat menutup aurat merupakan kewajiban, mari bersama saya, terus belajar, saling mengingatkan dan melangkah pada kebenaran, dengan berimam pada Al-Quran. Kenapa? Karena ketika pada manusia datang perintah membaca (Iqra’), di situ tersirat perintah memahami, di dalam kata memahami tersirat perintah mengamalkan.

Wassalam