Calar dari Babar Sari ((behind the scene)

Akibatnya, saya mendapatkan luka memar di belakang, letaknya persis di bokong sebelah kiri. Sakitnya usah ditanya. Minta ampun lah pokoknya. Itu luka kesekian dari banyak luka yang saya dapatkan. Belum lagi kalau dihitung luka di hati. Berdarah parah sudah. Hahay… Im joking, folks.

Gara-gara bebatuan di pemandian wisata Babar Sari, badan saya memar dan biru-biru. Meninggalkan gores dan calar yang tak mungkin hilang dalam sehari. Tak sepenuhnya salah bebatuan. Agaknya memang ke-freak-an saya cukup keterlaluan. Loco!

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya diajak tetangga (mayoritas emak-emak plus seorang nenek) berwisata ke Babar Sari. Saat saya tanyakan bagaimana medannya, mereka menjawab santai saja, macam tak ada yang penting dalam pertanyaan saya. “gak jauh, masih di Medan juga.” Jawab salah seorang dari 20 emak-emak ini. See, rupanya tak ada yang paham ucapan saya. Dan saya pun terlupa bahwa saya ikut dalam rombongan ibu-ibu komplek yang terbiasa dengan bahasa praktis, to the point, dan sederhana.

Malam sebelum berangkat, saya kembali menanyakan detektif Google apa dan bagaimana itu Babar Sari. Sebelas dua belas dengan saya, Ia pun tak tahu juga. “tak ada informasi yang bisa kutemukan. Apakah daerah itu ada dalam peta?” tanyanya pada saya. Sepertinya saya harus menyewa detektif lain. Bagaimana kalau Muchdi PR? Konon beliau lah otak dibalik kematian Munir (Ketua LSM KontRas) yang kasusnya nyaris raib (atau sudah?) sampai saat ini meski Suciwati tak lelah berjuang demi kebenaran akan kronologis kematian suaminya. Hmm… never ending story.

Sampai di Babar Sari, saya dihadapkan kenyataan pilu padahal sejak 2 jam di angkot asik membayang-bayangkan betapa ‘wow’ daerah wisatanya. Mulai dari berenang gaya dada, gaya katak, gaya punggung, sampai gaya kura-kura dalam perahu pun akan saya praktekkan di sana. Kalau diperkenankan, saya akan mencoba salto.

Dan ‘wow’, saya dihadapkan pada sungai berarus deras yang penuh bebatuan tajam. Here, Babar Sari. Menyesal sih tidak, tapi… Oke, terlampau sulit menjelaskannya. Tapi tahukah kalian bagaimana rasanya hendak muntah namun dikarenakan oleh sesuatu hal diharuskan menelannya kembali? Begitulah analoginya. Saya grogi pada Babar Sari. Diperparah lagi oleh pengunjung yang menurut saya, over capacity di tempat sekecil dan sesemak itu. Sejauh mata memandang hanya ada batu.

Mencoba mengusir kebingungan, saya pun nyemplung ke dalamnya seperti yang mereka-mereka lakukan. Berenang sejarak 7 meter, lompat-lompat di air setinggi leher, sampai bermain ban pelampung. Terlalu membosankan, saya bawa ban pelampung ke tempat air yang arusnya lebih deras dan lebih banyak batu, iseng berarung jeram. Saya meluncur bebas tanpa hambatan dan duduk stabil di ban pelampung. Tiba-tiba anak kecil pemilik ban yang saya pinjam barusan meminta bannya dikembalikan. Lalu ia meminjami saya ban berukuran lebih mini. Saya mafhum, namun masih berkutat pada kedegilan. Selanjutnya ban kecil tadi saya bawa ke tempat lebih ekstrem berbatuan cadas. Serasa super hero saya meluncur lagi. Namun sungguh apes kali ini, ban tersangkut di batu besar, menghempas saya yang pasrah sambil menutup mata. Bokong sexy saya dipermainkan arus ke sana ke mari, cukup lama, sampai saya terpikir pada kegelapan, rumah sakit, dan Nungkar Nangkir.

Sesaat kemudian mendarat ke air agak tenang seraya saya ber-wow panjang. Rombongan emak-emak hanya saling pandang, tercengang, kemudian tertawa girang. Tak seorangpun hendak menolong. Agaknya mereka berpikir saya sedang bermain akrobat karena melihat saya tertawa terbahak-bahak. Selanjutnya saya sa’i ke tempat semula di mana saya nyemplung bersama mereka, masih terbahak-bahak sekuat tenaga hingga menimbulkan suara tawa tak wajar bercampur nyengir.

Ajaib. Segala hal akan terasa lebih mudah apabila dibumbui kepura-puraan. Mereka tak tahu bahwa tawa sekuat tenaga itu hanyalah kamuflase menahan sakit dan malu. Atau, mereka juga berpura-pura?

Iklan

Babar Sari, boleh la

Jumat malam Kak Ros, tetangga yang rumahnya di persimpangan komplek (yang jelas bukan salah satu tokoh dalam film Ipin-Upin) berteriak memanggil-manggil nama saya dari balik pintu. Ia langsung masuk sebelum dipersilahkan. Saya pikir ia iseng menagih hutang, rupanya mengajak jalan-jalan.

“Dinna belum tau kak. Masih demam ni.” Jawabku seraya meneruskan meneyetrika baju. “besok lah ya keputusannya.” Antena kepala sejak tadi bergerak kesana kemari, pertanda setuju tanpa tapi. Padahal baru tiga hari lalu saya pulang liburan dari Pulau Berhala di pinggir selat Melaka, Malaysia.

“malam ini harus keputusannya” desak beliau berikut menjelaskan waktu keberangkatan dan tempat tujuan. “lagipun namamu sudah kakak catat. Jadi gak ada cerita gak ikut.” Inilah namanya rayuan berbuntut paksaan. Kalau sudah demikian, lantas apa yang bisa saya lakukan? Oleh karena itu, mengingat –hari sabtu schedulle saya kosong dan tidak ada pekerjaan-, menimbang –betapa girangnya saya jalan-jalan apalagi jika judulnya mandi-mandi- dan memutuskan pada saat itu saya sedang berada di bawah tekanan-, maka sah lah saya menjadi peserta ‘tour’ bersama rombongan emak-emak komplek Eka Dewi.

“nama sudah dicatat, Dinna pun wajib berangkat” jawab saya nelangsa.

“nah, gitu la” Kak Ros berbinar bahagia. “soal makanan, kau tenang saja. Kakak bawak banyak bekal.” Sepulangnya Kak Ros dari rumah, sempat saya terpikir kalau gaya Kak Ros tadi laksana Presiden Soeharto. Menjalankan pemerintahan dengan sistem otoriter, namun memberikan jaminan ketahanan pangan. Membatasi laku dan gerak namun ikut andil dalam menjaga stabilitas perekonomian. “kalau ditengok ke belakang dan dipikir  sekilas, kadang lebih baik demikian” ujar ayah saya kala kami mengkomparasikan pemerintahan Soeharto dan Pemerintahan SBY.

***

Jika schedul kosong, kerjaan rumah beres, dan deadline tulisan masih di ujung bulan, saya pasti duluan mengacungkan tangan tatkala mendengar ajakan jalan-jalan. Apalagi kalau tujuan jalan-jalan tersebut terselip kata air, sungai, laut, pantai, yang kemudian berhujung pada mandi-mandi. Tak perlu ditanya dua kali, saya segera menulis nama sendiri di kertas people list. Plus, anggaran yang dikeluarkan setimpal dengan perjalanan dan energi yang dikeluarkan. Tanpa dikomando, saya berteriak (dalam hti) kegirangan.

Setelah berpayah-payah melewati penyakit rutin tahun baru (traffic jam), akhirnya sampailah kami –dua puluh orang diantaranya saya dan gerombolan emak-emak komplek Ekadewi- di tempat pemandian Babar Sari, Kecamatan Kutalimbaru, Medan Tuntungan-Sumatera Utara. Ini merupakan pengalaman perjalanan pertama saya bersama rombongan beda usia. Satu kata, R I U H.

Tidak ada kenderaan khusus menuju ke sana. Lalu untuk menempuh Babar Sari, kami menyewa dua angkot (angkutan kota) dari Medan. Sebagian pengunjung ada yang mengendarai mobil, ada juga yang  memilih sepeda motor. Pilihan kenderaan yang cukup praktis sebab jarak tempuh dari Medan ke daerah ini tak terlampau jauh.

Setelah nego harga super ketat, supir sepakat di posisi 200 ribu per angkot dengan trayek pulang-pergi. Disertai wajah merengut tentu saja. Tapi supir tak ada pilihan. Sebabnya penumpang sepi, supir kurang setoran. Karena masih suasana tahun baru, orang-orang masih sibuk melancong ke berbagai daerah tujuan.

Berangkat dari pukul 10.30 wib, kami tiba di tempat tujuan pukul 12.30 wib. Kalau tidak macet,  perjalanan memakan waktu 1,5 jam saja. Medan yang dilalui bolehlah dikatakan sudah cukup rapi walau masih terlihat beberapa jalan bolong, tak terjal dan berliku seperti jalan menuju Berastagi. Untungnya, lahan parkir di tempat wisata ini cukup luas dengan penjagaan cukup aman pula. Jadi para pengunjung tak perlu khawatir mengistirahatkan kenderaannya di kawasan parkir manapun.

Untuk biaya masuk, tidak dihitung per kepala, akan tetapi dikenakan 35ribu rupiah per mobil. Saya kurang tahu berapa harga untuk pengendara sepeda motor.

Babar Sari, baru tadi saya mendengar dan menjejaknya. Seperti tempat pemandian wisata yang pernah saya kunjungi sebelumnya (Bukit Lawang, Aek Buru, Simbahe), air Babar Sari juga berasal dari pegunungan. Tempat pemandian ini tidak begitu dalam. Kira-kira satu sampai satu setengah meter. Airnya dingin, segar, dan jernih jika tidak sedang ramai pengunjung. Namun banyak bebatuan besar, licin, dan tajam pula. Untuk berenang, lebih baik diurungkan saja. Sebab Babar Sari bukan sungai pasang, akan tetapi merupakan jenis sungai buatan dengan banyak bebatuan. Yang ada memar di mana-mana.

Jika berbicara tentang arung jeram -prinsip ala kadarnya-, sebenarnya Babar Sari bisa dikatakan pas untuk aktivitas uji nyali tersebut. Namun pengelola tak menyediakan sarana untuk arung jeram. Karena semakin sore pengunjung yang haus akan ‘hiburan’ (murah meriah) selain Mall, menyemut di lokasi ini.

Ohya, bagi yang tak bisa berenang atau gugup menghadapi arus air, boleh memakai pelampung (sejenis ban hitam) yang telah disediakan. Hargan sewanya 5ribu per ban. Tak perlu terkaget-kaget. Di sini, bahkan di setiap daerah wisata manapun, semua diduitkan. Mungkin kelak untuk sekali bertanya (tanya jalan, tanya nama, tanya harga) sudah dibuat tarifnya. Bahkan juga di-SK-kan.

Selain mandi, tak sempurna rasanya jika tak menyewa pondok untuk jeda setelah lelah bermain air. Ada tiga tingkatan pondok yang bisa ditempati. Lokasi pertama pondok persis di bibir pemandian. Biasanya lokasi ini sulit didapat karena saking banyaknya pengunjung yang mengincar tempat rehat terdekat. Kalau cepat, maka beruntung. Lokasi kedua di atas lokasi pertama, yaitu tingkat dua. Selanjutnya lokasi ketiga, menjadi pondok teratas yang jarang ditempati. Harga per-pondok berkisar antara 20ribu sampai 25ribu rupiah. Kalau pintar tawar menawar, bisa mentok di harga 20ribu rupiah. Soal harga, dari tingkat 1 sampai tingkat 3 sama nominalnya. Hanya saja kelebihan tingkat satu, begitu ganti baju langsung bisa nyebur.

Penduduk (baca penjual) di Babar Sari tak menyediakan nasi dan lauk pauk. Mereka hanya menjual gorengan, jagung rebus, buah rambe, durian, mie instan, dan cemilan ringan. Jadi kalau mau berkunjung, harap persiapkan bekal sendiri. Karena melihat kebiasaan pengunjung di Babar Sari, sebagian besar membawa nasi dan lauk pauk untuk dimakan ramai-ramai bersama rombongan. Selain itu, mereka juga tak menjajakan pernak-pernik khusus yang worth it untuk dibawa pulang. Bentuknya sama saja dengan yang dijual di pajak USU-Padang bulan.

Meski tak mengecewakan, bagi saya Babar Sari bukan destinasi yang keren. Tak ada yang istimewa di daerah ini selain medan yang ditempuh mudah dan murah. Itu saja. Tapi bagi pengunjung berkantong sederhana, Babar Sari, boleh la… (Sabtu, 5 January 2013)

Sorry, karena belum punya kamera, saya pun tak punya rekam gambar sungai Babar Sari.

 b

a