Terlanjur sayang

Pernah baca tulisanku tentang pendatang baru yang telah ku posted-kan beberapa minggu lalu? Tentang Hugo, kucing tampan yang kubawa diam-diam di depan warung tetangga. Bukan bermaksud membela diri, yang jelas ketika aku melarikannya, itu bukan merupakan suatu kesalahan. Saat itu, tak sengaja aku menemukannya mengais-ngais sisa ikan yang sudah disiangi persis di depan warung tetangga. Sekali lagi, menemukan! Kukira ia kelaparan. Lantas kularikan ke rumah, kuberi makan dan minum susu. Selanjutnya Hugo memilih tinggal di rumahku, tanpa ada pemaksaan. Ia tak kupasung, tidak kukunci di kamar mandi, juga tidak kurantai. Sepertimana halnya aku menyepakati hak asasi dan kebebasan terhadap manusia, begitupula aku memperlakukan hewan peliharaan maupun hewan yang berkeliaran. Bagiku, Hugo adalah makhluk bebas.

Ternyata Hugo sudah ada pemiliknya. Aku tahu nama dan orangnya, tapi sudahlah. Aku sangat malas membicarakannya. Sedangkan rumahnya berdekatan dengan warung di mana Hugo kutemukan. Kira-kira berjarak enam rumah. Katanya, sudah satu minggu ia kehilangan kucing yang sudah dipeliharanya sejak kecil. Ia datangi setiap rumah, menanyai mereka satu persatu, namun kemana raibnya tak ada yang tahu.

Mengenai kabar kalau ia mencari kucingnya sudah sampai di telingaku. Dari tetangganya yang juga temanku. Aku tak peduli. Hugo adalah kucing pasar yang kutemukan di depan warung tetangga. Itu sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu diklarifikasi.

Rupanya pemilik lama Hugo tak lelah mencari. Akhirnya dua orang anak perempuan sampai di rumahku. Mereka menemukan Hugo sedang bermain-main di beranda. Mereka menggendongnya, lalu membawa Hugo ke rumah pemilik lamanya.

“sudah dapat kucingnya?” aku hanya berbasa-basi pada dua orang anak perempuan di depanku. Tadi mereka menanyakan tentang kucing padaku. Ciri-cirinya putih mulus, masih ABG, dan memiliki sepasang mata beda warna, biru dan hijau. Tak lain tak bukan itu adalah Hugo. Sambil berjalan mereka membelai-belai Hugo. Dapat kulihat kucing itu menatapku, meski sekilas

Sejujurnya aku tidak rela saat mereka membawanya. Tapi aku tak bisa melakukan apapun, karena Hugo memang bukan kucingku. Aku hanya bisa terdiam seraya berlalu. Nelangsa sudah pasti. Sedih pun ada. Sebab aku terlanjur sayang padanya.

Aku ini terlalu c epatsayang pada apapun, seperti manusia atau hewan. Kupikir ini salah satu sisi terdalam aquarius. Baik memang. Namun oleh karena sifat inilah sosok Aquarius mudah kecewa dan terluka. Tidak berarti sulit move on. Jika boleh kukatakan, sosok Aquarius itu pengingat. Kerap merindukan kenangan, meski demikian tak ingin berlama-lama larut dalam kenangan. Seperti halnya ketika mengendarai sepeda motor atau mobil, sesekali kau pasti melirik kaca spion untuk memastikan bagaimana keadaan di belakang. Apakah sudah aman bagimu berpindah posisi, membelok, atau terus melaju. Yahh, begitulah kira-kira analoginya.

Nasib baek bukan suami orang. ^_*

Hugo, dua hari yang lalu.

 

 

Iklan

Pendatang baru

Membawa kucing ABG liar (sebelum ia berganti nama menjadi Mike, Maxy, Nicholas dan pada akhirnya Hugo Chaves) ke rumah bukan suatu tindakan yang bijak. Mengingat ayah telah mewanti-wanti agar aku tak memelihara kucing lagi, atau jenis hewan peliharaan lainnya. Tapi aku sangat menyukai hewan berbulu itu. Selalu geram bila menatap mata tajam mereka, juga melihat ekspresi lucu mereka yang tak pernah disengaja.

Kadang-kadang untuk mewujudkan ambisimu, kau tak perlu membuat keputusan bukan? Sekali-kali bertindak di luar akal normal sangat dibutuhkan. Bahkan tak memberi kesempatan pada pikiranmu untuk mereka-reka untung rugi dari sebuah tindakan. Just do it. Dan kau hanya menunggu ‘apa’ selanjutnya.

Mari kita memutar ulang piringan memori beberapa tahun silam, saat masih anak-anak, saat emak masih hadir di antara kami. Sepasang kucing berjalan dengan tampang kelaparan, mengeong-ngeong di depan rumah. Mereka abang beradik. Tanpa pikir panjang emak mengasuh mereka, memberi makan, dan dengan mata teduhnya meyakinkan kami bahwa akan ada keluarga baru di rumah. Kami sepakat tanpa ada pemilihan suara. Jadilah kucing abang beradik itu menetap di rumah, sebagai kucing pertama dengan nama Manis dan Belang. Hari-hari berikutnya kami menjelma menjadi penyayang binatang, kemudian naik tingkat menjadi pejuang kebebasan hewan. Kedengaran manis sekali kan? Sangat disayangkan pada saat wafatnya si manis aku tak sempat merekam kejadiannya. Kalian pasti melihat kami, -aku dan kelima saudaraku- bersimbah tangis meratapi kepergian Manis. Bersama-sama kami menyanyikan lagu gugur bunga, tersingguk-singguk mengenang kepergiannya. Sukar kubayangkan betapa dungunya aku kala itu. Tapi sejauh ini aku bersukur pada saat peristiwa itu tidak ada CCTV atau kamera pengintai. Terlebih lagi aku bersukur karena seusia itu terlalu tolol menggunakan tape recorder atau handy cam.

Alasan ayah tak mengizinkanku memelihara kucing, katanya demi kebaikanku. Ayah tak ingin aku larut bersama mereka, kemudian menghabiskan sisa hidupku hanya bersama kucing. Dalam artian, aku enggan menikah. Kudapati dugaan-dugaan ayah terlalu ekstrim, seringkali. Aku yakin, pastilah beliau cemas dengan usiaku yang sudah menginjak 27 tahun namun masih belum memiliki tambatan hati. But folks, usia adalah hal lain dan kucing merupakan hal lain lagi. Mereka adalah dua hal yang berbeda. Meski terkadang ditambah hadirnya seekor kucing rasa kesendirian dapat teralihkan. Tapi itu hanya sejenak. Sekali lagi, s e j e n a k. Tetap saja naluri ingin mengakhiri episode single diam-diam menyelinap dalam benak. Tak seorangpun menginginkan kesendirian. Tak seorangpun betah bertahan dalam kubangan sepi. Tanpa kecuali!

***

Keseluruhan bulunya putih bersih. Wajahnya malu-malu. Bola matanya unik, sebelah kanan berwarna kuning, sebelah kiri berwarna biru. Ia seperti makhluk alien yang tersesat di komplek rumahku. Kutemukan di depan warung tetangga, mengais-ngais sisa ikan yang sudah disiangi. Sambil belari, kugendong ia ke rumah dan kutunjukkan pada adikku. Tepat dugaanku, adikku menyukainya. Kucing itu sudah cukup dewasa, kira-kira berumur satu tahun. Ngomong-ngomong, kemana saja ia hingga lama baru kutemukan?

Tak seperti anak atau cat baby, dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra untuk menjinakkan seekor kucing liar agar ia betah di rumah. Bukan pekerjaan mudah mengajarinya makan di piring, minum susu, dan buang hajat di saluran kecil kamar mandi. Jujur saja, menambah masalah. Tapi aku terlanjur menyukainya.

Tak ada debat atau polling pendapat untuk memelihara kucing liar ini. Semua terjadi begitu cepat, bahkan kini ia sudah punya nama, Hugo Chavez. Adikku menamainya seperti nama Presiden Venezuella. Luar biasa sekali. Aku mengangguk setuju meski setengah terpaksa setelah nama-nama yang kusarankan tak ia amin-kan.

*berbisik* Ssssttt, si Hugo Chaves (aku akan selalu menyebut-nyebut namanya agar terbiasa) telah tidur pulas. Dan jangan lupa berdoa agar Tuhan mengabulkan do’a ayah untukku. Gak pake lama. Sebelumnya, kalian harus janji untuk merahasiakan hal ini  dari ayahku.

selamat jalan philip

Akhirnya, kebersamaanku dan Philip hanya sehari saja. Setelah di suatu malam dingin dimana seorang anak kecil menjatuhkan Philip ke tanganku, kemudian dengan waktu yang amat cepat ia dijemput sang pemilik takdir menuju tempat baru. Meski pertemuan itu beberapa saat, hanya 24 jam, tapi merupakan suatu hal menyedihkan jika kau tak lagi bisa melihat orang yang kau sayangi. Dan itu, untuk selamanya.

Masih ingat dengan tulisanku tentang semut itu kan? Hewan yang sangat aku benci, menyebalkan serta hewan tidak sopan yang kerap mengakuisisi kopi? Nah, makhluk memuakkan itu yang melakukannya.

Kira-kira pukul delapan malam, Philip yang kutempatkan di dalam kotak bersama sepiring susu dan bubur roti, rupanya sudah dikerumuni semut kecil. Lalu segera kubersihkan seluruh tubuhnya dari semut-semut tadi. Kubalut ia dengan kain kecil agar tak kedinginan. Setelah itu Philip kumasukkan ke sangkar burung murai. Maksudku, supaya ia bisa bergerak nyaman dan leluasa. Karena sangkar burung murai itu cukup lebar dan tinggi.

Sebenarnya, hati nurani mengatakan bahwa keadaan Philip tidak akan aman bila ditinggal sendirian. Tapi, aku ini hampir selalu mengabaikan hati nurani. Aku sering tidak mempercayainya, padahal pada kenyataannya, jika hati nurani berfatwa, seringkali betul ada kejadiannya.

Nah, kepergian Philip ini cukup menyedihkan bagiku. Orang lain mungkin menganggapku lebay. Baru satu hari memiliki, tiba kehilangan, sudah nyelenehnya demikian. Ah, peduli amat. Aku memang mudah menaruh simpati, empati dan rasa kasihan terhadap sesama makhluk, tak terkecuali pada hewan. Apalagi Philip sudah mengerti dan mengenal orang yang mengasuhnya. Seperti ketika aku mengelusnya, matanya tertutup seperti tertidur. Philip juga mau minum susu dan bubur roti dari tanganku. Aku sayang Philip. Begitulah, sifat alamiah memang tak bisa disembunyikan. Tapi satu yang pasti, kesedihan karena kehilangan Philip masih bisa kuatasi dengan mengingat, bahwa ia kembali ke tempat Tuhan, tempat yang lebih baik dari tempatku tentunya.

Dua jam kemudian, aku pulang ke rumah dan menyempatkan diri mengintip Philip di sangkar burung murai. Kuperhatikan, kuamati, tapi Philip diam. Sangkar murai yang tergantung di besi kanopi kuturunkan. Dan Philip, telah berakhir di tangan semut-semut bangsat itu. Keadaannya menyedihkan, laksana mutilasi. Bulunya rontok, matanya bolong dan kaki mungilnya putus…

Tengah malam itu juga Philip kubersihkan. Kubungkus ia dengan koran bekas. Kuletakkan di teras samping rumah. Aku ingin proses ‘ritua’ terhadap Philip terjadi secara normal dan wajar. Coba pikirkan. Tak ada orang yang melakukan ritual terhadap jenazah pada tengah malam kan? Tak seorangpun yang ingin itu terjadi. Kecuali bandit atau penjahat yang berbuat tindak kriminal.

Keesokan paginya, aku bergegas menuju teras samping rumah untuk menjalankan prosesi. Namun Philip hilang. Ia tak ada lagi…

Philip, bertahanlah…

Malam itu, seorang anak membawa seekor burung kecil berwarna hitam di tangannya. Burung super mini, matanya belum terbuka dan belum bisa terbang pula.

“bukan kuambil dari sarangnya kak. Burung ini aku temukan di pinggir jalan, mungkin terjatuh dari pohon” ujarnya agak cemburut saat ia kuinterogasi tentang burung tersebut. Kemudian ia pun berlalu sambil menyodorkan burung kecil itu ke tanganku, “nih, untuk kakak saja”.

Syahdan, burung itupun menjadi milikku (sementara). Suaranya riuh dan kencang. Kubelai perlahan dengan tanganku yang cukup kasar. Kasihan sekali, bulunya belum tumbuh betul, tubuh mungilnya masih lemah dan ia kedinginan. Pasti Philip butuh belaian dan dekapan ibunya. Lalu kumasukkan ia ke dalam sangkar burung murai milik ayah. Kututupi dengan rumput gajah varigata, biar ia merasa hangat. Untungnya, mereka bisa hidup harmonis.

Oya, aku menamainya Philip, meski sampai sekarang aku belum tahu ordo dan jenis kelamin burung tersebut. Nama Philip kuambil dari dari nama His Royal Highness The Duke of Cambridge, William Philip Louis. Beliau adalah raja Inggris yang diinginkan oleh rakyatnya. Menurut sejumlah survey yang dilaksanakan jauh sebelum pernikahan William, telah menempatkannya menjadi calon raja yang diinginkan rakyat Inggris. Jadi bila besar nanti, si Philip bisa seperti Raja Inggris yang dicintai seluruh makhluk dunia. Dicintai dan dikasihi, bisa terbang bebas kemanapun ia mau, tanpa gangguan dari tangan-tangan usil penghuni bumi.

Tapi, Philip juga punya nama yang sama dengan merk bohlamp, dengan slogannya yang terkenal ‘terus terang Philip terang terus’. Semoga begitu juga dengan nasib si Philip.

Pagi ini, Philip aku tempatkan di dalam kotak bekas minuman ringan nutri jeruk. Jadilah ia punya rumah baru. Sebelumnya, kotak itu kulapisi dengan koran dan lebih banyak rumput gajah verigata. Kucoba membuatnya lebih nyaman agar ia bertahan.

Karena aku tidak tahu persis makanan baby bird, kuberi saja Philip minum susu dan bubur roti. Senangnya, Philip mau meminum susu serta mengunyah bubur roti tadi dari jari telunjukku. Mungkin terpaksa kali ya… Makanya ia ‘ngoceh’ terus. Atau apa kelakuan baby bird memang begitu?

Ohh…, sayang sekali di kota kecil ini tidak ada Dokter Hewan. Seandainya ada, segera Philip kutitipkan di klinik agar terawat dengan baik. Setidaknya Dokter hewan mengerti mimik muka, suara dan gerak tubuh hewan. Malangnya, mereka, Dokter Hewan itu, tidak begitu diperlukan oleh penduduk kampung kami. Penduduk disini memiliki sifat kanibal dan tak kenal mengasihani sesama makhluk. Sudah sering kuperhatikan penduduk kampungku menyiksa hewan. Seperti menendang kucing kecil, memakan ayam peliharaan sendiri, membiarkan ikan mas koki hidup tersiksa di aquarium yang airnya berlumut, mengikat kaki kumbang kelapa dan menerbangkannya bak layang-layang, juga membunuh kepik dan mengubur belalang hidup-hidup.

Tuhan, tolong jaga Philip ya. Jika Philip mulai besar, sehat, dan semakin kuat, ia akan kulepas ke alam bebas.

sejak fidel punya pacar dan mengapa ayah menangis

Sejak Fidel punya pacar, dia jarang pulang ke rumah. Tak pernah lagi bermanja-manja denganku. Tak nyaman dibelai, digendong dan dipangku. Jika dipanggil, dia tak segera datang. Hanya menoleh ke arahku kemudian berlalu. Fidel akan berlari mengejar jika dia merasa lapar. Fidel mengeong keras jika diluar tak dia temukan sesuatu untuk dimakan.

Biasanya, ketika aku pulang dari kerja, dia sudah menungguku di depan pintu. Tak jarang saat ia melihatku dari kejauhan, ia mengeong dan mendekat ke arahku. Berlari seperti singa yang hendak menerkam mangsa. Dulu, kami sering tidur bersama dan menghabiskan waktu berdua. Bercengkrama hingga mata mengajak lena. Keesokan paginya, aku mendapati Fidel tidur terkulai disampingku. Terkadang, Fidel juga menungguiku sholat. Hanya karena dia ingin bercerita dan mengadu. Apa saja. Tentang kucing tetangga yang kerap mengajaknya adu ponco hingga gulat, tentang kucing hitam yang coba-coba mengganggu gadis pujaannya, tentang nenek Sugeng yang galak minta ampun hingga Fidel pernah dilemparnya pakai sepatu, tentang dia yang berebut dengan tukang butut di tempat pembuangan sampah demi seekor tulang ikan, dan banyak hal lagi yang dia ceritakan padaku.

Kini, hal itu tak kujumpai. Fidel pulang ke rumah jika dia merasa lapar. Kalau tidak, seharipun aku tak kan smelihat kumis kasarnya. Fidel seakan-akan menjauh. Seringkali dia pulang pagi. Tak pernah tidur di rumah lagi. Ketika pagi hari aku terbangun, Fidel sudah tak ada. Mungkin dia tidur di rumah kucing tetangga dan bercinta. Tiba-tiba sepi menyelinap ke dalam relung hati. Rupa-rupanya sosokku sudah terganti. Memang, Fidel sudah beranjak dewasa. Umurnya sudah 2 tahun lebih. Bisa disebut cukup matanglah dalam dunia per-kucingan. Wajar saja jika dia mencoba mandiri dan mencari jati diri. Tapi aku merasa kehilangan. Aku sedih. Mau tak mau hal ini harus kuhadapi. Karena Fidel tak selamanya menjadi anak kecil. Dia berhak menikmati hidupnya. Berhak merasakan perubahan-perubahan zaman. Mengikuti perkembangan hormon dimana nafsu bercinta mendesak-desak keluar dari ruang sempitnya. Juga, berhak pergi dan meninggalkanku bersama istrinya untuk memasuki hidup baru, menapakinya bersama.
Seperti ayahku, saat dimana kami sedang mencabut rumput, dimulailah cerita itu.

“kalau nanti nana menikah, nana mau dengan orang mana?” tanya ayah suatu hari padaku. Kami membersihkan halaman depan rumah. Mencabut rumput halaman yang sudah tumbuh tinggi.
“sama orang luar negeri Ayah. Nana mau orang bule. Kalau bisa orang Francis atau Jerman. Karena mereka cerdas, berpandangan terbuka, berwawasan luas. Lagipula, keturunannya kan bisa lagak”. Dalam bahasa melayu, lagak artinya molek, cantik atau ganteng. Biasa digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Cerocosku sambil mencabuti rumput-rumput liar.

“jauh ya.. Nana pasti meninggalkan ayah dan ikut dengan suami Nana” jawab ayah yang semula berhadapan denganku, jadi beralih posisi membelakangiku. Samar kudengar Ayah terisak. Aku yakin lelaki berwatak keras dan berhati lembut itu sedih. Namun berusaha ia alihkan reaksi itu, dengan berpura-pura serius membersihkan halaman dari rumput liar yang mengganggu. Aku yakin lelaki yang kusayangi itu sudah meneteskan airmata. Namun segera ia sembunyikan demi mempertahankan harga diri, bahwa ia sanggup ditinggal pergi.

“Tapi kan Nana bisa pulang kapan saja Ayah.. Atau Nana akan tinggal disini bersama ayah. Nana akan menjaga Ayah”. Aku tak bisa menahan airmata. Kulingkarkan tangan kanan ke bahu Ayah. Kupeluk ia erat dari biasanya. “Nana juga sedih ayah. Nana juga ingin tetap bersama ayah. Berdiskusi dengan ayah. Tertawa bersama ayah. Jalan-jalan bersama ayah. Menghabiskan waktu bersama ayah. Ayah masih ingat kan, kalau kita masih punya rencana ingin melihat laut”. Aku berceloteh. Tujuanku satu, ingin membuat suasana tak kelabu, tak diselimuti mendung dan didekap hujan.

Ayah suka laut. Laut biru yang hangat menyapa hingga membuat berkeringat. Laut biru yang luas membentang. Kita bias bermain dengan ombak yang tinggi hingga tangannya menampar wajah. Memandangi sekawanan burung camar yang terbang lalu lalang di langit sana. Merasakan angin yang datangnya membawa sejuta makna. Membisikkan berbagai nama dan peristiwa, menyingkap jilid demi jilid nostalgia.

“tapi kalau itu pilihan Nana, tak apa. Karena Ayah tak berhak memaksa Nana harus tinggal bersama ayah”. Tutur Ayah. Kemudian Ia mengambil keranjang sampah, memunguti sisa-sisa rumput yang telah kami cabut. Kesunyian hadir 10 menit diantara aku dan Ayah. “jadi, kapan kita melihat laut?” tanya ayah kali ini berbalik melihatku.

“Nana sayang Ayah” jawabku seraya berazam agar suamiku kelak, siapapun yang Allah pilihkan, tidak membawaku pergi jauh dari Ayah.

Disini, aku cukup merasakan kesedihan saat sering ditinggal Fidel. Padahal masih ada Kimmy. Meski Fidel seekor kucing, kedekatanku dengannya membuatku bisa memahami tingahlakunya, memahami arti saat mendengar dia mengeong. Dan sejak Fidel punya pacar, baru aku mengerti mengapa Ayah sedih ketika berbicara tentang pernikahan anaknya. Baru aku paham mengapa ada kabut di matanya saat mendengar Ia akan ditinggalkan. Kemudian, ‘hari itu’ harus ia hadapi dengan wibawa. Meskipun ‘hari itu’, aku juga tak tahu kapan.

Headline news: Peralatan makan Fidel dan Kimmy dicuri

Kabar tidak sedap, berasal dari rumah ku. Bukan tak sedap karena ada bau sampah. Di jamin, rumah kami bersih dan menyenangkan meski tidak segar. Sampah tertata dengan baik. Terkumpul dalam plastik dan menjadi 2 – 3 gundukan. Bulu kucing mengambil tempatnya sendiri, tersusun rapi di deretan sepatu dan kaus kaki. Bungkus makanan ringan sukses menyingkir di balik pintu.

Sebenarnya kabar ini sedih, karena menimpa nasib Fidel dan Kimmy. 2 piring makan gambar Winnie the pooh, 1 sendok dan 1 mangkuk susu, telah raib bukan disebabkan makhluk gaib, tapi diserabut sama tukang butut. Alhasil, Fidel makan di piring kaca, dan Kimmy makan di piring plastik. Kesal sekali rasanya ketika peralatan makan kucingku diambil oleh tukang butut. Mungkin otaknya terletak di lutut. Makanya tanpa pikir-pikir lagi semua barang itu ia bawa lari. Terang aja aku berang. Karena Fidel dan Kimmy sudah menjadi bagian dalam hidupku. Jadi, siapapun yang mengganggu mereka, akan berhadapan denganku. Aku rela perang, dimana aku sudah siapkan pasukan: Iin menghunus pedang, Ida membawa parang, Aman siap-siap menendang, dan aku duduk di belakang memukul gendang.

Sungguh… Saking kesalnya, rasanya ingin kucongkel bijik mata tukang butut itu. Padahal peralatan makan Fidel dan Kimmy kuletakkan masih di pekarangan rumah. Tapi mereka nekat masuk ke dalam rumahku. Itu sama saja dengan mencuri. Kriminal..! Tapi masalah ini tidak akan kulaporkan ke polisi. Percuma. Sekali lapor, 2 lusin peralatan makan kucing sudah bisa kubeli.

Sabar ya Fidel dan Kimmy… Hari ini emak gajian. Emak janji, peralatan makan baru akan segera emak beli.

Anmum Essential untuk kutita (kucing tiga tahun)

Setelah liputan di acara susu, adikku Ida yang wartawan Star Berita diberi 1 kotak susu batita oleh panitia. Lalu ida mengirimiku susu tersebut untuk minuman Fidel dan Kimmy. Nama susunya Anmum Essential yang untuk batita alias tiga tahun keatas. Jadinya, Fidel dan Kimmy minum susu Anmum Essensial. Mereka suka. Apalagi Fidel, dia hobi minum susu. Masa kecil Fidel kan suram. Karena Fidel di angkut Iin dari parkiran Mall Palladium Medan. Bisa saja dia gak pernah minum susu.

Cukup terbantu juga dengan adanya susu Anmum, apalagi diberi gratis. Karena aku selalu telat memberi makan Fidel dan Kimmy, jadi mereka lebih sering kelaparan pagi-pagi. Aku pikir, susu Anmum itu cocoklah untuk gaperta (ganjal perut sementara) buat Fidel dan Kimmy. Terimakasih Anmum..