Sebuah Kemewahan

Mengapa untuk dapat bersama, seseorang mesti bertemu dengan orang yang salah di awal kisah? Dan mengapa untuk sampai, seseorang mesti menempuh jalan panjang dan arah yang berliku lebih dulu?

Saya adalah seorang perempuan dengan hati berjelaga, akibat dibiarkan kosong terlalu lama. Kenyatannya saya tak begitu hirau dengan kesendirian. Hanya saja, ketika seseorang mulai menanyakan usia, perasaan was-was sontak muncul tanpa aba-aba. Saya nyaris limbung, untungnya saya sempat menemukan pegangan untuk tetap tegak berpijak. Tapi kepala saya berdenyut, seperti ada yang menghantam dengan palu raksasa. Namun tak semua pertanyaan harus dijawab sekalipun saya memiliki banyak kata dan referensi untuk menjawabnya. Saya memilih senyum, untuk kemudian beringsut pelan-pelan.

Di dunia ini, banyak hal yang tak dapat dimengerti. Salah satunya, mengapa perkara usia harus disejajarkan dengan pernikahan? Mengapa masa menikah harus ditetapkan oleh ambang batas? Bukankah ‘ambang batas’ hanya diperuntukkan pada peserta politik? Mengapa kita ikut-ikutan menentukan berapa batas usia layak untuk menikah? Manusia gemar menciptakan keruwetan yang tak berguna. Walhasil, keruwetan itu hanya menenggelamkan saya pada lelah.

Manusia tidak diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk menulis takdir sendiri. Andaikata bisa, barangkali kita bukan lagi cerita sedih. Atau mungkin kita adalah penguasa yang senantiasa berbuat semena-mena. Atau bisa jadi kita adalah makhluk yang saban hari, setiap waktu, berbuat kerusakan di muka bumi. Akan halnya Tuhan, apapun tuduhannya, tetap menjadi sutradara dalam hidup. Sementara manusia tetap tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak berisik pada takdir orang lain.

Begitu banyak teka-teki dan enigma yang tak dapat saya pecahkan. Kendati diberkahi anugerah secerdas Detektif Conan atau Sherlock Holmes pun, teka-teki tadi akan bertambah, berkembang biak, dan menyebar seiring waktu yang berputar. Teka-teki lama terpecahkan, lalu teka-teki berikutnya hilang bersama sisa hujan tadi malam, menjadi misteri dalam sejarah. Sebab itu, saya tak berminat menafsir-nafsir dengan siapa, seperti apa, dari kalangan mana nantinya yang membuat saya jatuh cinta. Oh, tidak begitu. Saya tak perlu menerka siapa kelak yang menjadi teman hidup saya. Saya tak begitu berminat meskipun teramat bersungguh-sungguh. Biarkan. Biarkan saja tersimpan di tangan Tuhan. Tuhan menghadiahkan saya kesendirian sepekat ini, dan saya berdamai untuk itu.

Perjalanan masih jauh. Rasanya saya menempuh rute yang sangat panjang untuk sampai. Begitupun perasaan ini. Saya belum menemukan (atau dipertemukan?) seseorang, yang mana saya ingin menghabiskan sisa hidup ini bersamanya, menciptakan keluarga, melahirkan keturunan, membangun peradaban. Sosok yang membuat saya lupa bahwa saya pernah terluka dan patah hati. Sosok yang bisa diandalkan di setiap keadaan, membimbing saat tersulit dan terindah, namun tetap menginspirasi. Sosok yang dapat menjaga marwah dan membimbing saya ke jannah. Tentu saja ‘dia’ yang dipilihkan dan diridhoi Tuhan, hingga bersamanya adalah sebuah kemewahan.

Ketika Kamu

ketika kamu adalah desir angin yang menyusup lebih dulu dari selembar pagi yang cemburu

ketika kamu adalah puisi yang membuat kata kehilangan makna dan penyair menjadi getir

ketika kamu adalah denting nada yang menjadikan penyanyi tak bersuara

ketika kamu adalah pelangi yang warnanya selalu berpendar dan tak pernah memudar

ketika kamu adalah segenap pasrah yang membuatku menunggu di ujung resah

ketika kamu adalah ketidakpastian untuk menghadapi ketaksempurnaan

ketika kamu adalah muara dari segala letih dan airmata

ketika kamu adalah takdir yang acap kuuntai menjadi lantunan zikir

maka kamu, adalah jawaban dari penantian panjang yang telah berakhir

Jum’at

Tiba-tiba sudah jumat saja. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tapi ia tak berlaku pada kita, entah mengapa.

Rasanya tali jarak memisahkan kita terlalu panjang ya. Lelah aku menghitung detik demi detik, seraya berdoa agar jarak digoyang gempa sampai sekatnya menganga. Atau setidaknya, bumi tempat kamu berdiri bergeser mendekati tanah tempat aku berpijak. Sedikit-sedikit, perlahan-lahan, hingga kemudian kita dipertemukan. Dengan begitu mata bisa saling menatap, hati berdetak hebat. Pastilah suaranya riuh, gaduh. Layaknya desingan peluru dan ledakan bom yang memborbardir Suriah.

Tapi sekarang, saat aku menulis lembar kelima, kamu hilang dari jarak pandang. Tak ada.

Oh, ini jumat. Aku lupa. Tentu saja kamu takbir di rumahNya. Khusu’ menyembahNya. Jangan lupa selipkan do’a untuk kita. Semogalah Allah mengijabah supaya lekas khatam kitab sua

Cinta

betapa aku merindukan wajah yang padanya dihiasi titik-titik air wudhu’. Rambut basah bersinar akibat ditimpa sinar garang surya. Cara kamu menyingsingkan lengan kemeja. Sikap tegak sempurna pertanda siap menghadapNya. Subahanallah, kerennya

Cinta, kamu kah imamnya?

Bioskop

Semalam, aku ke bioskop sendirian

Kedatangan pertama sejak setahun tak lagi pernah ke sana. Tak seorang pun yang berniat mengajakku nonton di layar besar itu. Kata mereka aku gak asik. Jelas saja. Karena kalau nonton, aku tak suka diajak bercerita. Aku hanya ingin menikmati setiap kisah dan peran yang dimainkan

Sekarang kamu sudah tahu kesukaanku yang lain kan? Jadi kalau kita bertemu nanti, sering-sering ajak aku ke bioskop ya. Tapi kalau aku sedang kesal, ajak saja aku bernyanyi. Meskipun suaraku hanya pantas untuk aku dengarkan sendiri

Cinta, aku memang berada di bioskop dengan tujuan menonton film yang kusuka. Namun kali ini tidak sedang mengamati peran, juga tidak sedang mendengar kisah. Aku memikirkan kamu. Mikirin kamu itu rugi, tau. Sintingnya, walau aku tau rugi, aku masih saja suka mikirin kamu

Cinta, tau tidak, tadi aku duduk di samping anak kecil. Ia bersama ibu dan ayahnya. Mereka berpegangan tangan, bahagia. Seperti pelangi. Tapi aku iri. Aku ingin seperti mereka juga. Sa’i menuju teater pertama, mengunyah coklat rasa strawberry, dan menghapus dahaga dengan segelas milk shake kongsi tiga

Cinta

Kapan ya

 

 

Di satu hujan yang lain

Di kotaku, hampir tiap malam turun hujan

Dingin, mengingatkan akan kamu. Kamu yang memberi teduhan. Kamu yang memberi pelukan. Kamu yang memberi ketenangan.

Bersama kamu, gundah tak pernah singgah. Di sisi kamu, amarah berhujung gairah. Kamu kerap memberikan kedamaian, meski sering pula menciptakan kepahitan.

Masih ingatkah kamu malam itu, di satu hujan yang lain kita pernah bertengkar hebat? Kamu berteriak garang di tengah hujan yang tumpah. Rasanya sangat perih. Saking perihnya, hingga dingin hujan tak lagi terasa menusuk tulang. Aku tak tahu apa yang salah. Kamu meracau begitu saja seolah-olah aku telah berbuat dosa besar.

Langit hitam, semilir angin, tanah basah, aroma hujan, ranting pohon, rerumputan, berkata bahwa aku tak ada cela. Seluruh alam satu suara, membela. Tidakkah kala itu kamu mendengar mereka? Kemana janji saling percaya kamu bawa?

Genangan air di pelupuk mataku jatuh perlahan bersama titik hujan. Mungkin saat itu kamu lihat. Segera aku berpaling. Membalikkan badan berusaha meninggalkan kamu. Lantas kamu berlari ke arahku.

Malam itu, di satu hujan yang lain, kamu bersimpuh di kakiku. Memegangnya erat seraya menangis kencang. Persis anak kecil yang tak diberi jajan. Lirih kamu berkata: aku cemburu

Tak biasa

Lelah juga aku nantikan

Tahun berapa? Bulan berapa? Tanggal berapa? Pukul berapa?

Ya, kamu. Jangan pura-pura tidak tahu.

Kapan kamu hadir di depan mataku? Apakah seperti cerita di film-film itu? Bahu kita bersenggolan, buku-bukuku jatuh kemudian. Kamu pungut, aku sambut.

Ahh, terlalu biasa

Ataukah dari nomor telepon salah sambung? Acak, kamu tekan  nomor telepon dua belas angka, aku jawab ‘ini siapa?’

Ihh, sangat mengada-ada.

Aku ingin cerita kita istimewa. Tak sebiasa kisah film, sinetron atau telenovela. Tapi unik dan bersahaja. Aku ingin cerita kita bermula dengan seketika, tak sengaja, namun untuk selamanya. Kelak kita akan menulisnya sebagai jejak sejarah bagi anak cucu kita, bahwa kita pernah punya cinta

Beginilah cinta kita

Tak biasa

Sudah aku tulis

Sudah aku tulis, dengan bahasa sederhana.

Mungkin tak sepuitis penyair yang karyanya pernah kamu baca. Tapi aku menulis dengan penuh cinta. Jujur saja, aku tak mampu mesra lewat suara dan gaya. Tapi aku berusaha wujudkan lewat bahasa. Kelak jika kita bertemu, kuharap kamu mengerti, beginilah caraku mencintaimu.

Ia adalah surat cinta pertama, khsus buat kamu.

Jadi maafkan jika terlalu banyak kata berlepotan. Kamu tahu? Betapa aku mencintaimu, sosok lelaki yang Tuhan ridho-i untukku (nantinya). Membayangkan senyum pembuka hari merekah untukmu. Membayangkan lipstick di bibir ini memudar olehmu. Membayangkan setiap inci tubuh ini hanya dilihat olehmu. Hanya kamu.

Kamu, jika halal waktunya kamu bagiku, akan aku tunjukkan surat cinta itu.

Kamu, segera jemput aku