[Writing Contest] #RememberParis #Email4Manu

imagebs

To : Emmanuel LEGRAND
From: Kirana RAHAYU

Hi Manu,

Maaf karena aku mengabaikan semua suratmu. Kupikir kamu telah mengerti bahwa diamku merupakan jawaban. Tapi rupanya surat itu terus berlanjut hingga surat ke 127. Untuk itu perlu aku jelaskan, agar kamu tak lagi menatap Eiffel seraya berharap cinta kembali utuh.

Kenyataannya, seiring berjalannya waktu jejakmu mulai memudar. Hingga surat ke 127-mu yang tak sengaja kubaca dengan mata nanar.

Manu, semua manusia membuat pilihan, tapi hal terberatnya adalah menjalaninya. Begitupun aku. Bagiku berpisah bukanlah hal mudah. Sebab kita tak bisa menghapus masalalu begitu saja walau sekeras apapun kita menginginkannya bukan? Akan tetapi aku tak ingin menghabiskan seluruh hidupku berkubang dalam masa lalu. Aku harus berdiri menata masa depan, tak peduli betapa sakit kemungkinan-kemungkinan yang akan datang.

Manu, kamu adalah bagian terindah dalam hidupku. Hanya saja bagian terindah itu harus kuhapus dan tak ingin kutengok kembali. Jadi, kumohon mengertilah…
Semoga kamu bisa menemukan sosok terbaik. Seseorang yang ingin kau habiskan sisa hidupmu bersamanya
.

PS:
Anyway, selamat atas pekerjaan barumu. Itu merupakan pencapaian yang mengagumkan. Sejak dulu aku yakin, bahwa kamu bisa menaklukkan Paris sendirian.

Lomba Puisi UCAP

Sungguh, sembilu terasa menyerang jemariku ketika kali pertama bertukar sapa denganmu. Kau tahu kenapa? Karena aku melihat Tuhan dalam dirimu; dari caramu menghargai keberadaanku dan kelembutanmu. Ialah membawa kehidupan.

 Aku mencintaimu. Sungguh! benar-benar mencintaimu. Dan jika aku boleh memohon padamu, jua pada pereka cipta alam semesta, aku ingin kau pun mencintaiku. Dan cinta kita tetap hidup: hingga mentari tak lagi diterbitkan, hingga awan pagi tak lagi putih, hingga angin sore tak lagi mendamaikan, hingga rembulan tak lagi bersinar, hingga bintang malam tak lagi berkelap-kelip, dan hingga Tuhan menyatukan kita di kehidupan selanjutnya*

(Aku Melihat Tuhan Dalam Dirimu-Avet Batang Parana)

 

Terinspirasi dari cuplikan prosa liris di atas, kami—Penerbit Meta Kata bermaksud menyelenggarakan lomba menulis lagi—dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Lomba terbuka untuk umum, mulai tanggal 14 April 2013 s.d 19 Mei 2013 (pukul 23:59 WIB).
  2. Membagikan info lomba ini ke minimal 25 teman di jejaring sosial facebook, twitter atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  3. Menjadi pengikut blog Penerbit Meta Kata: http://redaksi-metakata.blogspot.com/ (untuk memudahkan peserta melihat info lebih lanjut mengenai lomba ini).
  4. Tema lomba: “UCAP (Ungkapan Cinta Ala Penyair)”, dengan sub tema: ungkapan cinta kepada sang Kekasih.
  5. Naskah dalam bentuk Prosa Liris (maksimal 100 kata) atau Puisi (maksimal 21 baris) dengan format file Ms Word 2003/2007, kertas ukuran A4, font TNR 12pt, spasi 1.5, margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
  6. Naskah merupakan karya asli penulis dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk buku.
  7. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 naskah terbaiknya, lengkap dengan biodata narasi, maksimal 30 kata.
  8. Naskah yang telah memenuhi ketentuan di atas, dikirim ke email: redaksi.metakata@gmail.com (berupa attachmant, bukan di badan email), dengan subyek email: UCAP_JUDUL NASKAH_NAMA PENULIS dan nama file sesuai dengan nama penulis.
  9. 111 naskah terpilih, akan diumumkan di blog resmi Penerbit Meta Kata pada tanggal 26 Mei 2013
  10. Hadiah
  • JUARA I: Paket Buku AKU, KAMU, DAN KITA; Tersandung Cinta Tanpa Jeda (Karya Avet Batang Parana Dan Risty Arvel) + Voucher Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-Sertifikat
  • JUARA II: Paket E-Book AKU, KAMU, DAN KITA; Tersandung Cinta Tanpa Jeda (Karya Avet Batang Parana Dan Risty Arvel) + Voucher Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-Sertifikat
  • JUARA III: Paket E-Book AKU, KAMU, DAN KITA; Tersandung Cinta Tanpa Jeda (Karya Avet Batang Parana Dan Risty Arvel) + Voucher Penerbitan Senilai Rp 50.000 + E-Sertifikat
  • JUARA IV: Paket E-Book AKU, KAMU, DAN KITA; Tersandung Cinta Tanpa Jeda (Karya Avet Batang Parana Dan Risty Arvel) + E-Sertifikat
  • JUARA V: Paket E-Book AKU, KAMU, DAN KITA; Tersandung Cinta Tanpa Jeda (Karya Avet Batang Parana Dan Risty Arvel) + E-Sertifikat
  • JUARA VI: E-Sertifikat
  • JUARA VII: E-Sertifikat
  • JUARA VIII: E-Sertifikat
  • JUARA IX: E-Sertifikat
  • JUARA X: E-Sertifikat
  • 111 NASKAH TERPILIH: Diterbitkan Secara Indie di Meta Kata
  • SEMUA KONTRIBUTOR BUKU: Mendapatkan Diskon 20% Untuk Pembelian Buku Terbit

Demikian pengumuman lomba dari kami. Selamat berkarya dan sukses selalu untuk kawan-kawan semua.

 

# PENTING #Berdasarkan pertimbangan pihak sponsor lomba dan tim juri dari Redaksi Meta Kata, batas akhir pengiriman naskah lomba menulis puisi “UCAP” akan diperpendek menjadi tanggal 10 Mei 2013 dan pemenang akan diumumkan paling lambat tanggal 17 Mei 2013. Untuk teman-teman yang belum sempat mengirim naskah puisinya, jangan berkecil hati dulu karena naskah yang masuk ke email Redaksi Meta Kata di atas tanggal 10 Mei 2013, akan dimasukkan ke dalam daftar peserta lomba menulis puisi “UCAP #2”. Persyaratan dan hadiah, sama dengan lomba menulis puisi “UCAP #1”. Pengiriman naskah lomba menulis puisi “UCAP #2” berlangsung mulai tanggal 11 Mei 2013 sampai dengan tanggal 26 Mei 2013. Dan pemenang lomba menulis puisi “UCAP #2” akan diumumkan paling lambat tanggal 02 Juni 2013

 

3 Karnaval

Minggu siang 27 Januari 2013, saya ada agenda menghadiri pernikahan kedua seorang teman. Seminggu lalu teman itu menelepon saya, mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan seorang wanita single yang seumuran dengannya, 40 tahun. Beliau teman lama, sudah dua tahun tak bersua. Saya kerap menjadi teman sharingnya di kala duka. Namun terlupakan saat bersuka cita. Mmm…, mungkin beliau sedang sibuk ya. Tapi beliau tetap teman saya. Ketika itu, saya menyanggupi dan berjanji hadir di acaranya. Telah saya bayangkan, jika muncul di sana, itu akan menjadi semacam reuni dadakan.

Tapi juga seminggu lalu, abang saya, si empunya hajatan, mengabarkan kalau beliau akan datang ke Medan bersama ke-empat adik-adik saya. Konon, mereka naik bus pariwisata dari Tanjungbalai menuju Lapangan Benteng, Medan. “dalam rangka 3 karnaval” ujarnya suatu hari. Abang saya ini punya toko ponsel terbesar di kota terkecil, Tanjungbalai. Ia menjual beragam provider berikut segala atribut. Agent, begitu sebutannya. Toko beliau sesak dengan voucher, timbunan kartu mulai dari yang cantik sampai yang jelek, assesoris handphone,  segunung stok pulsa, dan sebagainya. Saking ramai ia punya barang, sering ia diganjar hadiah, menang undian, juga dapat bonus dari hasil penjualan yang alhamdulillah ya, lancar tanpa pelet. Itulah sebabnya ia mendapat kesempatan mengikuti 3 karnaval ke kota Medan. Mengenai ajakannya, You know what? Saya meng-iyakan.

Kemudian, tibalah minggu yang penuh schedulle. Minggu siang di mana surya memancarkan sinar garang. Dan saya, harus memutuskan. Pertama, tak seorang pun yang siap jadi partner undangan. Tidak juga pada adik lelaki saya yang sangat menghargai makan gratis itu. Kedua, keluarga saya datang dari jauh. Ketiga, sifat dasar yang tidak begitu tertarik dengan pesta.

Akhirnya, acara 3 karnaval menjadi pilihan.

Sebenarnya saya tak begitu familiar dengan acara tersebut meski sejak enam bulan lalu saya menjadi pengguna provider 3. Semua kekacauan minggu itu ulah adik lelaki saya. Dia inilah orangnya, yang membujuk saya untuk hadir di acara itu. Berusaha keras mempengaruhi pilihan saya. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, saya patuh ketika ia membonceng saya di sepeda motor. Hingga sampailah kami di Lapangan Benteng, di bawah terik matahari yang tak kenal kompromi.

Semula saya mengira acara ini akan menjadi minggu yang tak seronok dan membosankan. Tapi  setelah sampai di sana, kenyataan tak membuktikan demikian. Benar-benar keren! Ramai betul pengunjungnya. Ada panggung musik, badut spongebob, doraemon, dan vampire.  Walau terik menyayat kulit, kami tetap bisa having fun.

Bazar makanan tradisional, es krim Walls, buah-buahan, soft drink, fast food, bisa ditemukan di sana hanya dengan menukar kupon yang diberi cuma-cuma. Belum lagi mengantongi ratusan hadiah keren jika garis nasib sedang cemerlang. Ada juga kesempatan dengan menukar poin, maka para agent bisa mendapat barang-barang yang diinginkan, mereka menyebutnya duit 3. Jujur saja, ada banyak keberuntungan menggunakan 3 dibanding provider lain. Murahnya biaya online, gratis 10 situs populer walau sedang gak ada kuota pulsa, bonus sms sepanjang hari, juga hematnya biaya telpon. Sayangnya jangkauan signal 3 belum luas. Saya pikir, itu yang membuat gema 3 kurang terdengar.

Well, I am not a buzzer, but for sure, 3 is super. Thanks for your all service. Rasanya, tak lengkap cerita jika tak ada bukti sejarah. Yang demikian disebut hoax bukan? So guys, check ‘em please.

8

5

12

7

6

4

3

2

1

11

21

22

31

10

13

15

16

17

18

19

20

23

25

26

27

28

29

30

Anyway, 3’s manager, sering-sering buat acara karnaval ya. Musti lebih heboh, lebih wah, lebih mantap!

Ulang tahun (cerita)

Tatkala Adam tergoda memakan buah terlarang (kuldi) yang menyebabkan ia dikeluarkan dari Surga hingga kemudian seluruh keturunannya tak sempat menikmati pesonanya, saya adalah diantara sekian orang yang tak hendak mengutuk ketidaksengajaan moyang saya tersebut. Tak ingin saya meracau tentang ketidakberuntungan menikmati Surga, tak hendak pula menyalahkan Adam jikalau hidup saya pilu bagai sembilu. Saya paham, demikian itu adalah retak tangan alias kehendak Tuhan.

Dan sekarang saya terdampar di sini, hidup dalam dunia yang penuh ketidakpastian. Berjalan di titian nasib yang tak pernah bisa saya ramalkan. Melalui hari demi hari, mengisinya seraya tertatih, kerap terjatuh pula. Rupanya, hidup ini keras sodara-sodara.

Terkadang lelah juga saya menapak. Sebab, telah sudah saya berusaha, keras bekerja, tak lupa berdoa, layaknya Ulama yang tunduk turut pada peraturan, namun hasilnya empty. Sempat terbersit rasa kecewa, tapi karena mengingat bahwa saya masih diberi nafas, segera saya usir agak tak menambah tinggi tumpukan dosa.

Di suatu hari yang lain, kembali saya merenungi garis nasib. Saya pikir-pikir, betapa sulit saya punya keadaan. Betapa keras ujian yang Dia berikan. Sungguh, saya sangat lelah. Amat pegal di sini, di dalam hati. Kelelahan yang saya rasakan memaksa hadir bulir bening di pelupuk mata. Masalahnya, saya ini sok kuat, sok tangguh! Saya malu melihat kelemahan dan kerapuhan saya. Itu sebab saya paksa kaki ini berdiri. Saya ukir senyum dengan kuas yang tak lagi berwarna. Saya keras-keraskan suara supaya tiap orang tak mendengar sisa isak tangis, meski kenyataanya sangat aneh.

Pada laman sebelumnya telah saya singgung perihal kisah di balik ulang tahun. Tadinya saya pikir horor sudah berhenti. Eh, terjadi lagi. Sadar banget, Background hari lahir saya bukan lagu happy birthday to you, bukan pula lagu selamat ulang tahun yang biasa terdengar pada pesta anak-anak sosialita. Its terrible horrible.

Ceritanya, saya terlambat mendaftar kelas diploma bahasa arab. Alias gagal. Via telepon, petugas mengatakan pendaftaran sudah ditutup. Padahal sabtu lalu salah seorang dari mereka menyuruh saya datang kembali hari senin karena saat saya datang, di kantor mati lampu. Artinya, kesalahan bukan pada saya.

Selanjutnya pada hari yang sama, siang yang sangat panas, sewaktu saya dan kakak saya berencana pulang naik kereta api. Saya sudah memesan tiket jauhjauh hari. Tiba tanggal keberangkatan, kami menuju stasiun naik becak motor. Sampai di sana, pada petugas saya sodorkan dua tiket panjang berwarna biru, mirip tiket pesawat. “KTP-nya ada?”  tanya petugas penjaga gerbang masuk. Saya tunjukkan padanya KTP elektronik. Tapi kakak saya tak dibolehkan berangkat karena tak mempunyai tanda pengenal apapun. Baru saya tahu kalau peraturan kereta api mewajibkan tanda pengenal (KTP, SIM, Paspor, dan lain-lain) sebagai pendamping tiket.

Karena penasaran, saya adukan persoalan tanda pengenal ini pada rekan saya yang bertugas di kereta api. Tapi ia dan dua orang pegawai yang ada di sebelahnya tak bisa membantu sama sekali. Saking kesalnya, saya robek tiket dan lempar ke arah mereka. “pukimak anjing kalian semua!!” , maki saya seraya berlalu meninggalkan tempat itu.

Tapi saya harus pulang hari itu juga. Lantas saya putuskan naik KUPJ, semacam bus kecil dan sempit yang sejak dulu tak pernah memberikan rasa nyaman. Sepanjang jalan saya terus mengomel, mengumpat siapapun yang menghalangi langkah saya, sambil sesekali menyeka air mata yang tumpah. Ia menetes perlahan kendati berpayah-payah saya tahan. Menangis hanya akan membuat saya sakit kepala.

Setelah menangis rasanya malu sekali. Sebab saya pernah mengalami keadaan yang lebih pahit dari ini. Sebenarnya saya tak sedih karena peristiwa pahit yang saya alami. Tapi Tuhan, izinkan saya bertanya, mengapa kengerian itu seakan tak berhenti? Kegagalan demi kegagalan terus datang laksana bayang-bayang. Kalau saya pikir-pikir, peralanan saya ini mirip presiden Amerika, Abraham Lincoln. Layaklah diganjar award sebagai ratu gagal.

Tuhan, saya ikhlas menerima kengerian tersebut jika bukan karena kemarahanMu. Saya bersedia menjalaninya jika perkara demikian bukan akibat dari kemurkaanMu. Sungguh, saya patuh. Tapi saya mohon, jangan tinggalkan saya. Jangan benci saya. Gantilah segala kengerian dengan berkah dan anugerah yang berlimpah. Terimakasih.

Hidup acapkali menjatuhkan kita. Tapi kita bisa memilih untuk tetap diam, atau bangkit melanjutkan perjalanan. Mari sejenak jeda, dan kita tertawakan kengerian hidup ini, sodara-sodara!

Ulang tahun (makna)

Sepintas lalu, tanggal kelahiran benar-benar sebagai angka biasa yang hanya berguna bagi tukang catat imunisasi.  Sangat keramat bagi dukun pelet. Perlu kata para guru. Juga penting bagi pegawai pencatat akta lahir. Tak lebih. Namun di sebaliknya, ia sebagai penanda jejak kedewasaan, halte pemberhentian, fase tua memperingati sisa usia, juga bab dalam kitab peristiwa. Padanya, tersimpan banyak kenangan beraneka rupa. Luka, suka, lara, bahagia, lucu, pilu.

Tepatnya 4 february 1985, anakmudanya melihat dunia. Meski samar, yang ia sampaikan kali pertama adalah tangisan. Saat ini, sosok perempuan aquarius tersebut dapat giliran tarikh khusus (lagi). U L A N G T A H U N. Keren ya kalimatnya.

Awalnya, saya tak mengingat tanggal spesial ini kalau saja tak dikejutkan oleh adik-adik saya. Sebab saya sibuk dengan tulisan, sibuk mengejar mimpi dan cita-cita, dan terlalu sibuk dengan pikiran saya sendiri. Jadi perkara tanggal, biarlah para pegawai yang mengingatnya.

Mungkin bagi ramai pihak, tarikh lahir sangat penting untuk terlaksananya sebuah pesta atau pula mengidamkan bermacam hadiah dari rekan sejawat. Saya tak kisah terhadap niat semacam itu. Biarlah, mereka orang punya pemikiran dan hajat. Tak perlu repot-repot mengatai juga men-judge. Kita musti bertindak sesuai keinginan dan selera bukan? Sedangkan saya, tak begitu suka pesta. Saya tak suka keramaian. Tapi bila ingin memberi hadiah dan kejutan, saya ikhlas dan segera mengulurkan tangan.

Perlu bagi saya mengingat tarikh kelahiran, sebenarnya. Dengan mengingatnya, saya dipaksa merenungi masa lalu yang penuh jelaga. Dengan mengingatnya, saya diharuskan menciptakan kemajuan, prestasi, dan karya apa yang bisa saya persembahkan jelang sisa usia. Dengan mengingatnya, saya di-press agar lebih kaya, kuat, tangguh, dan bijak menapak dunia. Intinya, saya dipaksa berubah. Dipaksa pula membuat resolusi, kemudian tertatih-tatih mewujudkannya.

Hai usia, sudah 28 tahun rupanya. Waktu begitu cepat berlalu hingga tak sempat menghitungnya. Terkadang alpa bersyukur pada Dia yang telah memberi saya berkah dan anugerah yang tak terhingga. Lalai istighfar, gemar bermain-main dengan dosa, kerap rapuh sebab dibutakan oleh masalalu yang pahit bak empedu. (hiperbola sekali ya. Padahal di luar sana banyak yang hidupnya lebih sulit dari saya). Saya pikir, cukuplah semua kemalasan itu. Tak ada lagi cengeng, tak ada lagi putus asa, tak ada lagi bermuram durja. Walau apapun yang terjadi dalam hidup ini, saya harus semangat. Sebab semangat akan terus bergerak dalam diri, mengalir dalam tubuh, dan memberi kekuatan. Cukuplah kedunguan itu saya lakukan. Saya tak boleh kalah, tak boleh menyerah pada tiap rintangan. Ini hidup saya. Saya harus menjadi nakhoda yang super hebat untuk mengemudikan kapal di tengah amukan topan. Saya harus menjadi perempuan yang tak hanya pintar menari dalam hujan, tapi juga lihai menari dalam badai. Saya yakin saya bisa, sebab Allah selalu bersama saya.

Di hari ulangtahun ini, ada beberapa hal (utama) yang ingin segera saya wujudkan:

  1. Lanjut sekolah pasca sarjana
  2. Menjelajahi bumi Allah
  3. Menyelesaikan tulisan, kemudian tulisan menjadi buku
  4. Semoga lirik yang saya tulis segera menjadi lagu
  5. Membuat design baju
  6. Berbisnis
  7. Menulis skenario film
  8. Umroh
  9. Beli rumah dan mobil
  10. Mendirikan sekolah
  11. Membangun mesjid
  12. Menikah

Allah, bantu saya untuk fokus pada mimpi dan cita-cita. Aminn…

Ulang tahun (kejutan)

Selain cerewet, sifat bawaan saya adalah perasa kemudian mudah menangis. Saya bisa menangis karena apa saja, yang mungkin orang lain menganggapnya biasa-biasa saja dan tak harus meneteskan air mata. Seperti nonton film hero di mana pemerannya terus survive berhadapan dengan bahaya, melihat anak kucing tercebur parit berlumpur, kelelahan karena tersesat begitu lama di jalan, belum berhasil mewujudkan cita-cita dan banyak lagi perkara biasa yang mampu menohok ulu hati.

Hari ini, satu lagi perkara yang bisa membuat mata saya panas. Ketika adik saya yang nomor lima menunjukkan sebuah poto yang di uplod ke facebook dan whatsapp. Mata saya langsung berkaca-kaca dan perut mencelos. Rasanya jantung seperti hendak keluar dari tempatnya.

Sungguh, tak pernah saya bayangkan peristiwa seperti ini bakal ada. Sesuatu yang amat sederhana, ucapan ulang tahun dan poto saya yang diedit sedemikian rupa. Inilah kado terbaik sepanjang usia. Saya bangga memiliki keluarga ini. Mereka adalah anugerah terhebat pada tiap desah nafas, inti utama dalam kekosongan hati saya. Seperti yang telah pernah saya katakan, ayah saya yang keren itu tak pernah tegoda akan program ‘cukup 2 anak’ pemerintah. Efeknya, saya bahagia tinggal dan tumbuh di tengah-tengah keluarga besar yang saat ini sudah sama dengan kesebelasan sepak bola, plus 1 wasit dan dua hakim garis. Ahh, anugerah Allah benar-benar dekat rupanya. Saya saja yang kerap menutup mata hingga tak melihat begitu banyak berkah yang Allah hadirkan.

Sebenarnya, banyak kejadian menyedihkan tiap kali pertamban usia. Hal-hal yang membuat saya pilu, lebih pilu dari hari-hari lainnya. Salah satunya pada tahun 1999,setelah saya ber-ulang tahun, esoknya emak saya berpulang menghadap Allah. Kemudian sejak saat itu saya tak suka ulang tahun. Saya enggan mengingatnya. Kalau saja tidak dikejutkan dengan poto barusan, saya lupa bahwa hari ini, tanggal 4 february, adalah peringatan di mana saya dilahirkan. Saya ulang tahun sodara-sodara. Bodoh sekali ya.

Jujur saja, beragam cerita masa lalu terus membayangi saya. Membuat saya jadi terlalu keras pada diri sendiri. Hingga berkali-kali adik saya mengingatkan agar saya ikhlas dalam setiap keadaan. Lambat laun saya semakin paham bahwa Allah telah mengatur garis nasib, tanpa terkecuali.

Usia telah bertambah, saya duduk di singgasana ke-28. Usia matang untuk lebih bertanggungjawab, lebih tawaddu’, dan lebih ikhlas dalam menapaki tiap langkah hidup. Kejutan ini, telah berhasil mengobati luka di hati. Saya senang ber-ulang tahun.

Tuhan, jika Engkau memberi kesempatan akan mengabulkan satu pinta di hari Ulang tahun saya, saya mohon, ijabah segala doa ayah dan doa keluarga saya. Aminn…

Ini kejutannya,

1

Ini dari Iin, yang sekarang stay di Banjarmasin, Kalimantan Tengah

521985_471375792917890_2020700675_n

Bertandang ke Selangor

Sebelumnya, terimakasih telah memberi saya kesempatan untuk mengikuti ajang kreativitas Blogger dalam rangka menyemarakkan pesta pariwisata Selangor. Sungguh, kegiatan seperti ini sangat baik dan mempunyai nilai positif terhadap perkembangan kepribadian, daya nalar dan tingkat analisis peserta.

Apakah Anda patut menjadi 20 yang terbaik tahun ini? KENAPA Anda ingin menjadi bagian dari My Selangor Story.

Saat ketika saya mendapati sebuah kompetisi, lomba, atau apapun namanya, adrenalin saya seringkali memacu kencang, pemikiran menjelajah liar ke segala penjuru, dan detak jantung seolah-olah berteriak lantang, memaksa saya menjadi bagian dari kompetisi tersebut sekalipun saya tak pernah tahu bagaimana hasil akhir akan mengubah hidup saya. Bukankah masa depan milik sebuah ketidakpastian? Yang jelas, hanya ada satu kata bercetak tebal dalam kepala, yaitu M E N C O B A. Sebab kompetisi akan membuat saya semakin hebat dan lihai mengukur sejauh mana kualitas dan kuantitas yang saya miliki.

Setiap orang berhak mengikuti kompetisi. Siapapun orangnya, dan bagaimanapun ia. Karena hal demikian merupakan bagian dari hak asasi, dan hak asasi adalah bagian dari manusia secara otomatis, tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi. Namun, perkara pantas atau tidak pantas menjadi yang terbaik, adalah sebuah hal berbeda.

Di sini, saya yakin bahwa saya pantas menjadi top twenty. Sebab saya memiliki semangat, kemauan dan ide yang bisa membawa saya kemana-mana. Meski tidak memiliki target –bagi saya target adalah sebuah nafsu yang hanya akan menarik manusia pada level puas, kemudian berhenti berambisi- tapi saya memiliki tujuan (saya kira boleh disebut mulia). Yaitu, membawa misi perdamaian Indonesia-Malaysia yang mana hubungan diplomasi belakangan kian memanas, tentunya melalui Program Pariwisata Selangor-My Selangor Story 2013. Saya harap, dengan menjadi bagian di dalamnya, riak-riak kecil antar kedua belah negara lambat laun mereda. Pertikaian yang mencuat hendaknya tidak mecipta jarak, akan tetapi menjadi perekat agar semakin dekat.

Saya harus memenangkan kompetisi ini agar bisa menghadapi peserta-peserta kuat dari berbagai area, wilayah, maupun negara, hingga berikutnya saya bisa bertemu dengan jawara-jawara terbaik dalam satu arena. Lagipula, Tuhan memilih saya bercengkrama, bertukar pemikiran, berbagi ilmu dan menyiarkannya pada banyak manusia di luar sana. Namun selain itu, saya sangat menikmatinya (kompetisi).

Untuk dicatat, terlahir sebagai seorang Aquarius, saya cenderung berfokus pada “apa yang bisa” ketimbang “apa yang terjadi seharusnya”. Jikapun kelak keputusan juri tak berpihak pada harapan saya, namun setidaknya saya kalah dengan wibawa.

Terimakasih.

Salam perjuangan,

Dinna F. Norris