Akhir

Bagaimana aku akan bercerita tentang hatiku yang berat?

Kesepian memelukku erat. Hingga aku tak lagi menghitung berapa sepi yang telah aku lewatkan sejak tangan kita tak saling menggenggam.

Adakah kau merasakan hal yang sama? Atau mungkin sudah lupa pada kita di ketika itu, tentang janji yang kita tulis di sekeping dahan cemara?

Ya, kenangan bisa dipilih.

Saat sapamu sirna begitu lama, aku menduga kau telah menghapus cerita kita dan kemudian menukarnya dengan kebencian.

Tak apa. Aku memang terluka, tapi aku masih berdiri di sini sembari menatap tebing yang tak bisa kupanjat dan langit yang tak bisa kusentuh.

————
“Ini siapa?”

Aku terkesiap sesaat setelah membaca pesan singkat darimu. Sms yang kukirim kemarin baru kau balas hari ini. Dan fakta bahwa kau tak lagi mengingat nomor ponselku, dua belas angka cantik yang kau pilihkan untukku kala itu. Rupanya nomor ponsel ku pun telah menjadi masalalu bagimu.

Kupikir, inilah saatnya aku harus benar-benar melepas tanganmu. Melepas harapan, kemudian menutup buku.

March 4-2015, via Blackberry

Adakah puisi terindah selain dia?

Tema:

Dalam segala hal dia adalah laki-laki biasa. Sama biasanya dengan laki-laki sebelumnya, yang pernah hadir mengusik rasa. Ia bukan sekedar singgah, tapi menetap. Ia bukan sekedar menyapa, tapi mengajak lena. Ia bukan mengajarkan cinta,tapi ia adalah cinta yang sesungguhnya.

Ketika ia tak ada, aku merasakan lengannya bersamaku. Ketika ia bicara, aku merasakan ucapannya adalah ketulusan.
Kata yang kuuntai tak lagi berguna. Kalimat yang kurangkai telah kehabisan makna. Lalu adakah puisi terindah selain dia?

kamu tahu, baru saja ia menelponku. suaranya mencipta debar, membuat cahaya rindu semakin berpendar. “aku selalu gagal ketika berhenti mengingatmu, walau sekejap” ujarnya dari seberang.

waktu tak pernah menunggu. rodanya berjalan begitu cepat, mustahil untuk aku cegat. karena itu aku berlari menyongsong harapan untuk bertemu dengannya, dalam ritme nafas yang bergegas.

Hari ini, aku dan dia telah berjanji untuk bertemu, selepas senja yang cemburu. Hanya aku dan dia. Hanya kami. Tentu saja tanpa puisi.

Flash Fiction ditulis untuk mengikuti program ##FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter

bersamamu aku utuh

Tema:

Tidak banyak orang yang berani jatuh cinta tanpa tahu balasannya. Dan aku, adalah pengecualian dari ketidakberanian itu.

Zanne, mencintaimu, adalah suatu kemewahan bagiku. Sebab untuk sampai ke tempatmu, aku harus melewati berpuluh pasang mata, banyak mulut yang acap memaki,menghina dan mencerca. Lalu, mengapa kaki harus berhenti melangkah hanya karena pandangan remeh dan ucapan kejam tanpa rasa bersalah?

Memang perjalanan kita masih jauh dari hampir. Meski demikian aku tak akan membiarkan semuanya berakhir.
Zanne, percayalah bahwa pelangi tak kan pernah memudar sekalipun hujan hanya bisa kita tatap dengan nanar. Setelah berbuhul hari kita tinggalkan, tapi saat ini tangan kita masih berpegangan bukan?

Kau tahu Zanne, bersamamu aku utuh meski harus mengaduh. Jadi kumohon bertahanlah, resah ini hanya seketika, akan lenyap saat kita membuka mata di keesokan paginya.

Medan, 4 Februari 2015

Flash Fiction ditulis untuk mengikuti program ##FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter

Quelle

Sepertinya ini akan menjadi kepulanganku yang terakhir. Menaiki kereta api kelas C, aku berangkat dari kota Maliau ke kota Radamnville, menuju rumah ayah. Bertemu seluruh keluarga besarku, menatap dan memeluk mereka satu persatu.

Ucapan ‘tak sengaja’ ayah padaku via telepon kemarin, merupakan signal aku harus pergi. Sebenarnya ia tidak mengusirku. Sama sekali tidak. Aku tahu, -meski tidak yakin- rasa sayang ayah padaku masih sama. Tapi beliau ingin aku tumbuh dewasa, tangguh, dan berjuang mengejar impianku.

Baru kali ini aku benar-benar siap bertualang sendirian. Setelah sebelumnya aku selalu ragu meninggalkan ayah dan keluarga. Karena selain Tuhan, ayah dan keluarga adalah sahabat terdekatku, tempatku meluahkan peduli dan percaya.

Aku berada di sana kira-kira seminggu. Kemudian aku harus ke kota Maliau lagi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. I have no idea mau ke mana. Ke ujung dunia barangkali. Di mana aku akan bertemu orang-orang baru, hari baru, daerah baru, dan kuharap bisa menata hidup lebih baik dari yang pernah kualami.

Tentunya aku tak berharap kembali lagi. Oh, aku tidak kehilangan rasa di sana. Bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Kupikir, inilah saatnya. Aku percaya Tuhan akan menjaga ayah dan keluargaku.

Kematian, pasti akan mendatangi setiap yang bernyawa. Tak peduli seberapa tingginya benteng yang dibangun, tapi jika pena telah digariskan, tinta telah kering, maka maut akan menjemput. Jadi, kuharap kita semua bisa mengikhlaskan kehilangan. Karena kita pun telah pernah mengalaminya beberapa kali.

***

Quelle membaca ulang tulisan di netbooknya. Seyum tipis khasnya menyeruak seiring bulir bening yang jatuh perlahan. Belum pernah aku sekuat ini, gumamnya sendirian.

Panggilan kedua kereta telah berbunyi dari mikrofon raksasa. Petugas di balik mic kembali meneriakkan pengumuman, mengingatkan para penumpang agar segera naik ke kompartemen masing-masing sebab kereta akan berangkat.

Buru-buru Quelle mengetikkan satu kalimat di akhir tulisannya, pemberani adalah mereka yang diam walau dalam kesedihan yang mendalam. Ia segera menutup netbook dan melemparnya ke ransel besar. Lalu ia melangkah ke peron A, menaiki kereta yang akan membawanya ke Radamnville.

*ini fiksi coba-coba. Ditulis tadi pagi, selama 20 menit. Usah diseriusi ya. Silakan dikritik, dikasi saran, atau apa saja boleh. Terimakasih. ^_^

 

Fiksi Malas

Ini tulisan coba-coba dan tercipta saat sedang malas. Jadi, saya harap usah terlalu serius membacanya.

Bagi yang masih (ngotot) baca, saya ucapkan terimakasih banyak. Apalagi jika ikut sumbang saran dan semangat. Terimakasih banyak-banyak lah untuk itu. Kalau kalian dekat rumahku, akan kutraktir segelas aqua.

Hehee…

_________

Akhir-akhir ini Selma sering menghabiskan waktunya di sebuah rumah kecil di kaki bukit. Rumah itu terbuat dari kayu mahoni berpelitur. Hanya satu lantai, berjendela besar, dan bentuknya mirip jamur. Atapnya terbuat dari pucuk nipah yang dijalin rapi, dibentuk melengkung hingga menyerupai jamur. Di atapnya ditumbuhi tanaman merambat sejenis pergola. Ia tinggal sendirian di sana. Sebenarnya tidak. Selma memiliki seorang teman yang bisa diajaknya bicara saban hari.

Joph, ia menyebutnya begitu. Sebuah boneka dari kapas yang tingginya 30 cm, kedua matanya berbentuk kancing, tidak punya mulut, tapi memiliki dua telinga. Itulah mengapa begitu istimewanya Joph bagi Selma.

Tidak tahu apa yang membuatnya murung, tapi kelihatannya Selma sangat berduka. Ia curahkan kepedihannya pada sebuah netbook hitam yang telah menemaninya selama tiga tahun.

Jika sebelumnya seseorang telah mengetahui bahwa kelakuan buruk berdampak fatal dan global, maka percayalah, ia tak kan pernah menginjak tempat terlarang meski satu langkah kaki.

Maka, setelah kesalahan yang kau perbuat, pernahkah kau disebut ‘trouble maker’ atau ‘penghancur keluarga’?

Karena tidak terbiasa berterus terang atau curhat-curhatan, maka jangan pernah mengira bahwa aku tak menderita akibat ulahku sendiri. Efek yang kurasakan, lebih dari yang kalian alami.

Tuhan,

Bawa aku sejauh-jauhnya. Di mana tak seorangpun bisa menjangkauku karena saking panjangnya jarak, tidak ada signal telepon untuk berkomunikasi, tidak ada sarana transportasi untuk bertemu, tidak ada televisi untuk mengabarkan keadaanku.

Hanya ada Netbook, Joph, dan masyrakat asing. Aku ingin memulai hidup baru dengan orang-orang baru yang nantinya akan jadi keluargaku.

Tulis Selma di tengah gundah.

Object Of The Affection

Setiap orang, siapapun itu, tentunya memiliki sosok istimewa yang ia tempatkan dalam hatinya. Mencintainya tanpa sarat, tak peduli bagaimanapun keadaannya. Seseorang yang paling ia sayang, bahkan ia rela mati untuknya. Meski demikian, sesekali ia juga menyakiti perasaan orang yang dicintainya, dan pada akhirnya menyesali perbuatannya. Ia merasakan cinta dan sakit pada saat yang bersamaan.

Aku pernah mendengar cerita tentang seorang ayah yang mencuri ayam tetangga hanya untuk memberi makan anaknya yang kelaparan. Entah ini disebut kejahatan atau tidak, tapi aku tak setuju ia dipenjarakan. Bagiku ia tak jahat. Kasusnya pun tak berat. Hanya mencuri seekor ayam yang kelak akan ia tukar dengan sekilo beras.  Tapi di negeri ini hukum dijunjung tinggi, konon. Berbekal pengacara yang baru lulus ujian advokat, ia duduk di kursi terdakwa. Namun pembelaannya tak dihiraukan, lelaki miskin tersebut diganjar 2 tahun kurungan. Sedang di sana, koruptor, pengguna narkoba, penabrak maut, dihadiahi kebebasan. Pengacara-pengacara bertarif dollar pun ramai-ramai memperebutkan mereka. Ada yang tahu berapa harga keadilan dalam rupiah?

Walau aku tak pernah mengalami kasus ‘cinta tanpa sarat’ seperti itu, tapi aku juga memiliki sosok istimewa. Seorang lelaki terhebat di dunia, yang tak pernah melepaskan pegangan tangannya saat aku belajar mengenal dunia. Acap kali menjadikan bahunya sebagai pijakan untuk aku meloncat lebih tinggi. Sukar kujelaskan dengan kata-kata betapa aku menyayanginya. Dia, ayahku.

***

Seperti pertemuan minggu-minggu sebelumnya, minggu ini rumahku mendapat giliran di mana para ledis berkumpul untuk membicarakan pelajaran dan tugas-tugas perkuliahan. Oh guys, c’mon, apa kalian pikir aku serius? Membicarakan pelajaran adalah pencitraan, mengobrol tentang cowok-cowo impian adalah kenyataan. Itulah yang sebenarnya terjadi.

Dihuni oleh tiga orang perempuan, yaitu aku, Amy dan Faradiba, genk ledis ini terbentuk setahun lalu persis saat-saat terakhir orientasi. Meski banyak yang ingin bergabung, tapi kami sepakat untuk tidak akan menambah anggota lagi. “tiga orang perempuan kece sudah cukup untuk mengubah pikiran ngeres seribu pria” ujar Amy berapi-api, -ketua genk ledis yang mengangkat dirinya sendiri-, saat memproklamirkan nama genk ini. Jujur saja, aku agak geli dengan nama ledis. Tapi Diba tak se-ide denganku yang lebih menginginkan Cewek Hero sebagai nama genk. “sorry Nai” ujar Diba sembari menggeleng lemah, “itu memang nama yang unik, tapi aku tidak ingin bermusuhan dengan Loki The Avengers. Sekalipun penjahat, aku merasa dia terlalu tampan untuk kita lawan.” Sekilas, aku yakin telah melihat sesuatu yang aneh di matanya.

Setelah penolakan itu, aku mencoba peruntungan nama unik ‘Cewek Hero’ sebagai nama member radio. Kenyataannya, dari awal bergabung, tak satu member pun berkirim salam padaku. Mereka malah memintaku memadamkan kebakaran di kilang minyak koko Aweng. Ironis!

“hei ledis, hari ini nonton yuks.” Cetus Amy setelah ia puas mengobok-obok lemari buku. Dia ketua genk ledis, tetangga, sekaligus teman sekampus. Ketika kutanyakan mengapa ia suka menambahkan huruf ‘s’ dalam kata tertentu, ia malah mengajariku fungsi huruf ‘s’ dalam bahasa inggris. “artinya jamak atau untuk menunjukkan sesuatu lebih dari satu” ujarnya kala itu. Jujur saja, sampai sekarang aku tak pernah mengerti, namun aku memutuskan tak akan bertanya lagi.

“minggu depan aja ya” pintaku dengan sedikit memelas. “hari ini aku harus ngambil jahitan di pajak Horas.” Selain sebagai mahasiswa jurusan komunikasi di sebuah universitas ber-flat merah, aku juga tukang gambar pakaian, tukang rancang busana. Bahasa kerennya designer.

“senin pagi apa gak bisa Nai? Hari ini ada film keren loh.” timpal Diba yang sedang tiduran di sofa kamarku. “Minggu depan gak bakal tayang lagi, soalnya ini sudah minggu kedua film itu nangkring di XXI.”

“dan filmnya main pukul 3 siang ini, sedang kita masih leyeh-leyeh seperti mendapati kaki waktu terjebak dalam kolam bersalju” sambut Amy. “jahitannya penting Nai? Maksudku, harus sekarang juga?”

“iya. Yang satu untuk dipakai ayah malam ini ke acara sukuran haji temannya, satunya lagi gaun panjang untuk dipakai senin siang sama bu Camat.” Aku mengalihkan fokus dari design ke Amy. “tentu saja aku setia menunggu cerita kalian tentang film itu.”

“tepatnya menunggu sate madura plus sambel cabe rawit.” Diba.

“dan kau selalu lebih dulu menonton filmnya lewat donlot film di situs gratis.” Amy.

“kalian berdua sangat memahami sahabatnya. Benar-benar ledis” Aku.

***

Jalanan sangat becek dan berlumpur akibat hujan turun sepanjang hari. Sepatu baruku basah dan kotor dibuatnya. Apa boleh buat, tak ada tempat untuk menghindari cipratan. Belum lagi kakiku yang sudah terinjak dua kali. Entah sengaja entah tidak tapi tak seorangpun minta maaf setelah melakukannya. Apa mereka pikir aku ini patung lilin yang tak bereaksi jika ditendang, dicubit, disenggol, diinjak, juga ditembak? Lihat saja, untuk ketiga kalinya aku akan teriak!

Beginilah kondisi pekanan di Pajak Horas. Padatnya minta ampun, persis semut karnaval. Kutaksir, tiap pekanan penduduk se-kota Medan ramai-ramai mengunjungi pajak ini. Padahal sudah penguhujung bulan, tanggal tua kata karyawan, tapi orang-orang seperti tak ada habisnya lalu lalang. Mustahil jika isi dompet mereka tak menipis. Mereka beralih dari satu kios ke kios lainnya, berjalan terburu-buru dan berdesakan tanpa menghiraukan genangan air di jalan bolong tak beraspal. Lantas apa peduli mereka pada sepatu baruku? Pada kakiku?

Untung saja langganan jahitanku berada tak jauh di depan jalan masuk. Jadi aku bisa buru-buru membereskan urusan, kemudian berdiri manis menunggu angkot yang akan mengantarku pulang.

“di mana kau tadi?” tiba-tiba seorang Edak muncul dan menumpahkan amarahnya pada seorang lelaki yang baru tiba dengan sepeda motor. Tergurat kekhwatiran di wajah si Edak sebab menunggu terlalu lama. Mamak tengok jugak kau di depan tukang ayam, tapi gak adak”.

Rupanya lelaki ber-helm di atas sepeda motor itu adalah anaknya. Kutaksir umurnya 20 tahun, sebaya denganku. Mereka persis di sampingku, di tepi badan jalan, diapit tukang buah dan tukang gorengan.

Sejak tadi, sekitar 20 menit sebelum anaknya muncul, aku dan si Edak berdiri bersisian. Kepalanya menoleh ke kiri ke kanan, celingak celinguk seperti sedang menonton pertandingan Badminton. Kupikir ia senasib denganku, menunggu angkutan kota.

“tadi aku di sini” ujarnya agak memelas seraya menjelaskan kalau ia sempat menunggu mamaknya di tempat yang telah dijanjikan. “tapi karena diusir tukang parkir, kutunggulah mamak di depan toko kelontong di ujung sana”. Diambilnya bungkusan hitam besar berisi sayur dari tangan mamaknya. Ia letakkan di stang kiri sepeda motor. Si Edak menyodorkan satu bungkusan lagi. Kali ini berisi alat-alat dapur. Padahal stang di kiri kanan sudah dipenuhi bungkusan. Anaknya mencari tempat kalau-kalau masih ada ruang tersisa untuk menggantungkan barang belanjaan. Sesekali ia membetulkan letak helm yang masih menempel di kepalanya seraya curi-curi melirikku. Tampaknya berusaha menyembunyikan malu, namun tak berhasil.

“mamak pikir pulang kau”

“manalah pulak kutinggalkan mamak sendiri di pajak ni”

Aku jadi asik memperhatikan mereka sejak tadi. Senang rasanya ketika melihat seorang anak begitu dekat dan sayang pada ibunya, pada orang tuanya. Memiliki objek kasih sayang yang tulus. Juga tanpa tawar.

Aku jadi teringat ayah. Saat menunaikan ibadah haji dua belas tahun silam di Jabal Rahmah. Orang itu terheran-heran memandangiku. Badannya tinggi besar, mata bulat dengan kelopak tertekuk ke dalam, kulit hitam legam, dan jari jemari raksasa yang telah mendorong ayahku itu, tampak kasar dan kokoh. Ia menaikkan bahu serentak dengan mengangkat kedua tangan ke udara. Kusempatkan melihat identitas yang tergantung di lehernya. Rupanya ia jamaah asal Sudan.

“apa?!! Kenapa rupanya kalau ayahku mau lebih dekat ke tugu jabal rahmah? Apa masalahmu? Jangan kau dorong ayahku. Sekali lagi tanganmu menyentuh ayahku, matilah kau!!” Kuarahkan kepalan tinjuku padanya. Aku tak peduli walau saat itu kami jadi pusat perhatian orang yang sedang beramai-ramai berdoa dan menuliskan nama di tugu. Lebih tidak peduli lagi pada bahasa yang kugunakan untuk memarahi orang besar itu.

“limadza hunaka ya hajj? Limadza?” Penziarah Jabal Rahmah mulai terusik dengan keributan yang kuciptakan. “sobrun ya hajj” Sabar katanya? Meski dalam keadaan beribadah Haji dan sedang menziarahi Jabal Rahmah sekalipun, aku tak kan menyurutkan marah karena ia telah mendorong ayahku yang sedang berdoa di Jabal Rahmah. Memang ayahku tak terjatuh, hanya nyaris. Tapi dalam hal ini, bagiku ‘nyaris’ sama dengan mengusik. Betul ia tak sengaja. Tapi saat itu aku ingin benar-benar meninju batang hidungnya, juga dengan ‘tak sengaja’.

Si Negro itu ditarik teman-temannya menjauh dariku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak paham. Yang jelas, aku sudah cukup puas karena telah membentaknya. Sekalipun ia tak mengerti bahasaku, tapi aku yakin ia bisa melihat emosiku menggebu-gebu.

***

“lama kau menunggu mamak?” Si Edak memegangi pundak kiri anaknya erat-erat. Sepertinya ia kepayahan menaiki sepeda motor.
“agak lama jugak la” disodorkannya satu bungkusan ke mamaknya. “pegang ini ya mak. Tak muat stang ku”. Di starter-nya motor, dibetulkannya kembali letak helm. “pegang kuat mak?” ujarnya memastikan mamaknya duduk nyaman sebelum motor melaju. Lalu ia akhiri teatrikal 20 menit itu dengan seulas senyum dan anggukan ke arahku.

_________

Jabal Rahmah: sebuah bukit atau gunung yang berada di bagian timur Padang Arafah di kota Mekkah Arab Saudi.

Pajak : pasar (bahasa Medan)

Angkot : angkutan kota

Edak : ibu/kakakMamak : ibu, mama (bahasa batak)

limadza hunaka ya hajj? Limadza? : kenapa engkau ya jama’ah? ada apa? (bahasa arab)

sobrun ya hajj : sabar ya jama’ah (bahasa arab)

Koko : abang (bahasa tionghua)

Pelangi di Rumah Genteng Merah

Sejak tadi aku mencari Suci di setiap sudut ruangan rumah kecil ini. Rumah bertipe minimalis berukuran 30×16, bercat kuning gading, bergenteng merah. Tidak besar, namun cukup nyaman karena memiliki halaman yang ditumbuhi rumput gajah. Letaknya menjorok di salah satu jalan kecil, di desa paling desa di kotaku. Jauh dari perkotaan, tersembunyi dari hingar bingar kenderaan, terselip di antara kebun kelapa seluas dua hektar dan tanah kuburan milik ayah. Genteng merah menjadi petunjuk bila ada orang-orang bertanya di mana aku berada. Begitulah akhirnya. Genteng merah tak sengaja menjadi nama, melekat erat tanpa selamatan, tanpa pesta.

Sebenarnya rumah genteng merah juga milik ayah. Tapi sudah ia hibahkan padaku. Lebih tepat bila kukatakan, terpaksa ia berikan karena tidak tahan ditodong terus-terusan. Aku memang meminta ‘paksa’ salah satu rumah dari 50 rumah kontrakan ayah. Kebetulan rumah genteng merah belum berpenghuni Kebetulan rumah genteng merah belum berpenghuni. Aku tahu, sama sekali ayah tidak keberatan bila aku meminta rumah kontrakannya, tipe apapun itu. Toh beliau juga sedang membangun 4 unit rumah lagi. Hanya saja ia amat terkaget-kaget ketika kujelaskan bahwa aku punya maksud dan tujuan menjadikan rumah genteng merah sebagai rumah pendidikan. Terlonjak ia dari duduknya.

“tak salah dengarkah telinga ayah ini, Nak?” seru ayah seraya melipat koran dan meletakkannya di atas meja.

“meskipun sudah lima puluh-an, tapi ayah belum cukup tua untuk menjadi tuli” jawabku menyertakan kalimat pujian sambil nyengir kuda agar ayah takluk. Ayahku tak terbiasa mendengar kata tua. Sensitif kuping besarnya.

Dengan gerakan memutar yang dibuat sedemikian rupa agar menimbulkan kesan dramatis, ayah menyeruput kopi dalam-dalam. Padahal sudah tinggal ampas.

“sungguh tak menyangka ayah kalau rumah genteng merah yang banyak diincar orang itu akan dijadikan rumah pendidikan” tambahnya kemudian. “halamannya cukup luas, catnya masih baru belum ada yang lepas, modelnya pun mirip-mirip rumah kompeni. Kalaulah dirupiahkan, sewanya bisa lima juta per tahun. Dan Nana boleh membelanjakan uangnya ke manapun Nana mau”.

Ayah memanggilku Nana. Nama itu kubuat sendiri sewaktu hendak didaftarkan emak ke sekolah Taman kanak-kanak, di mana ketika itu emak mentasbihkan namaku menjadi ‘Ana’. Aku protes. Kuhujani emak dengan interupsi sebab aku tak sepakat dengan nama ‘Ana’. Kubuat alasan selogis-logisnya bahwa aku akan sakit malaria bertahun-tahun jika dipanggil Ana. Emak acuh. Aku mengancam kalau aku tidak mau sekolah. Emak bergeming. Atau aku tak mau mengaji. Emak merinding. Akhirnya aku dan emak mencapai kata mufakat setelah perdebatan alot kami di depan gerbang sekolah TK. Mulailah saat itu aku dipanggil Nana, hingga kelak aku berniat ingin menukar namaku lagi.

“urusan belanja, lain perkara ayah. Nana ingat ayah pernah janji kalau Nana boleh minta rumah itu”. Kukeluarkan jurus maut. Menundukkan kepala, menekuri ujung jeans belel, plus suara serak hampir tak berdaya.

“tapi,”

“tanpa ‘tapi’, ayah” potongku cepat dengan penekanan kata ‘tapi’, memaksa ayah mengerutkan dahi pura-pura mengingat. “perjanjian kita saat itu tanpa tapi”.

“inilah agaknya arti telinga kiri ayah yang berdengung sejak tadi”. Ayah memegang-megang telinga kirinya berlagak cenayang. Menurut hasil pengamatannya, jika telinga kiri berdengung, maka akan ada kabar buruk menimpa. Meski tak pernah ia percaya pada teori yang dibuatnya sendiri, tapi ayahku ini sangat aneh. Senang hatinya membuat orang terbawa aura mistis. “apa boleh buat, perjanjian kita” ia menghela nafas berat“ tanpa tapi”, ujar ayah kemudian.

Mission complete! Menjadikan rumah Genteng Merah sebagai rumah pendidikan, petak belajar bagi anak-anak yang tak mampu mengenyam bangku sekolah. Wadah berkumpul bagi siapapun yang ingin belajar, mengajar dan diajar.

Aku pun melenggang gembira sambil menyanyikan lagu potong bebek angsa. Semakin aku menyadari bahwa rupanya ‘negosiasi’ adalah bakatku sejak kecil. Tak sengaja aku temukan bakat alamiahku sewaktu menonton film ‘The Negotiator’. Perangai pemain film itu serupa dengan aksiku. Ya, ahli negosiasi. Senyum-senyum sendiri aku membayang-bayangkan kata negosiasi yang bagiku sungguh romantis. Andai ayah tahu, betapa keren anak gadisnya ini.

***

Hari hampir malam. Matahari akan tenggelam berganti senja temaram. Cahayanya khas, semburat merah, kuning keemasan. Manis menyilaukan. Aku tak pernah melewatkan senja. Sekalipun waktuku tak banyak, senja akan kucuri, kusimpan dalam saku dan kantong kemasan. Cukuplah untuk stock besok, di mana aku akan bertemu senja-senja lainnya.

Sudah saatnya aktivitas di Genteng Merah diistirahatkan. Beres-beres. Menempel figura bergambar ayah memakai baju taqwa dan kopiah, merapikan taplak meja, menyusun berkas dalam file kabinet, terakhir, menata dapur. Sekian untuk hari ini.

Tapi di mana anak itu? Bisa-bisanya ia menghilang seperti di telan bumi. Aku sudah berlari-lari mencari kesana kemari. Berputar-putar mengitari ruangan demi ruangan gedung ini. Melongok ke bawah kolong tempat tidur, membongkar isi lemari makan, kugoyang-goyangkan juga kipas angin, kurogoh dust bag belanja sapa tau Suci terselip di tumpukan kubis dan bawang yang kupindahkan dari lemari es rumah ayah. Ajaib! Ia tak juga ku temukan.

Aku sampai di perpustakaan mini. Ruang favoritku setelah kamar mandi. Ruang seluas 3×4 tempat aku menyimpan koleksi buku-buku yang kubeli sewaktu kuliah di Medan. Juga terdapat buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan universitas yang sampai detik ini belum kukembalikan.

Hei, aku tidak mencurinya. Aku hanya meminjam tanpa izin. Tapi aku berniat mengembalikannya. Soal waktu, tak bisa kubicarakan. Yang pasti bukan sekarang.

Kulihat terbentang buku sejarah hidup Che Guevara seorang pemimpin gerilya Kuba, di atas meja. Tepat pada halaman ‘surat Che kepada Fidel Castro, Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)’.

Di desa terpencil ini, pemuda mana lagi yang tertarik membaca buku pergerakan itu selain aku? Di era fashion, zaman di mana penampilan lebih utama ketimbang isi kepala, pun di masa K-pop, episode di mana terlihat centil dan genit lebih legit dari pada berprilaku matang dan dewasa. Buku itu sama sekali tidak ada romantisnya untuk seukuran penghuni Genteng Merah. Cerita perjuangan seorang lelaki yang resah dikelilingi hidup nyaman, pada akhirnya mengambil keputusan bergerilya bersama rakyatnya. Che, lelaki garang namun penyayang. Aktivis bersahaja yang selalu dikenang.

Tergesa aku berjalan ke hutan kecil yang jaraknya hanya 100 meter dari Genteng Merah. Firasat membawaku ke sana.

Mengenai firasat ini, seringkali hasilnya terbukti dan jitu. Rupanya, selain berbakat menjadi ahli negosiasi, aku juga berbakat jadi ahli nujum. Ditilik dari kombinasi antara ahli negosiasi dan ahli nujum, agaknya sudah pantas aku bekerja di Badan Intelijen Negara. Kemudian, saking briliannya cara kerjaku, FBI dan CIA berebut merekrut. Tapi dikarenakan ide-ide cemerlangku yang kerap membuat Indonesia terpana, Kepala BIN berang tak terkira. Maka disembunyikanlah aku ke suatu daerah rahasia. Dalam perjalanan menuju daerah tersebut, segerombolan pasukan berseragam hitam-hitam yang entah berasal dari satuan mana berusaha menculikku. Kudengar desingan peluru dan magasin meletus riuh di angkasa. Sepengetahuanku, pastilah mereka saling serang. Aku tegang tak dapat melihat keadaan di luar karena disekap di dalam Rubicon abu-abu. Jantungku berdetak satu-satu. Nyaris hilang. Mereka menembaki Rubicon di mana aku terduduk pasrah dan lesu. Sialnya, saat ketegangan berlangsung, pikiranku malah tertuju pada nasib Rubicon yang lecet dan bolong-bolong bekas peluru. ‘mobil mahal idaman yang belum sempat kubeli, tapi sudah kunaiki meski caranya sungguh tragis’ gumamku dalam hati. “Doorr!” Satu tembakan tepat mengenai pelipisku. Darah tumpah ke baju, aku tersandar ke jendela. Mati.

Bakat ketiga, tukang khayal! Dari semua kombinasi antara ahli negosiasi, ahli nujum dan ahli khayal, lengkaplah sudah sarat menjadi orang senget.

***

‘Hutan’ kebun kelapa milik ayah semakin rimbun, digantungi buah-buah kelapa muda yang menunggu antrian dijual ke kilang minyak Koko Aweng. Aku ditugaskan ayah sebagai kasir meski sudah keberitahukan berkali-kali bahwa bagiku hitung-hitungan laksana hantu. Ayah tak mau tahu. Pohon kelapa ikut-ikutan setuju.

Akhirnya, Suci yang sedari tadi kucari bagai emak-emak blingsatan mencari anaknya yang hilang di pasar malam, duduk bersandar memeluk lutut. Tepat benar dugaanku, ia berada di kebun ayah, diapit pohon kelapa dari arah timur, selatan, barat hingga utara. Sendiri.

“Hei, kenapa tidak memberitahuku kalau kau ada di sini” sergahku masih dengan nafas tersengal-sengal. Badanku sudah semakin berat untuk diajak berjalan lama. Ada dua pager di punggung belakang, sekarung beras di perut, serta pelampung melingkar di pinggang. Over capasity. Tak hanya butuh lari pagi, tapi angkat beban 10 kilo tiap hari.

“kau, tidak apa-apa?” lanjutku saat melihat Suci buru-buru menyeka air mata. “maksudku, apa kau mau bercerita?” ralatku cepat mengambil posisi duduk satu meter di sebelah kanannya.

Hening. Gendang telingaku hanya dapat menangkap suara-suara hewan. Kicau merdu burung merbuk di balik semak ilalang. Cicit tupai yang berlari memanjat batang kelapa. Desis kuat kumbang badak yang mungkin sedang berada di bawah ancaman pemangsa. Kesemua bunyi itu melahirkan alunan simfoni tanpa korp musisi. Indah. Tuhan benar-benar luar biasa menciptakan makhluk dengan rupa-rupa suara.

Kupikir Suci sedang berusaha mengumpulkan kata-kata untuk bicara padaku..

“apa kau bisa menyimpan rahasia jika aku bercerita?” tanya Suci.

“tak tahukah kau rupanya kalau aku ini bekerja sebagai Intelijen negara?”

Suci mendelik cepat hingga membuatku terperanjat. Bisa-bisanya aku terkejut dengan ucapanku sendiri. “maksudku, sudah satu bulan ini aku memimpin Genteng Merah. Sebagai asistenku, semestinya kau paham tabiatku” aku mengedit bicara agar kegilaanku tak terdeteksi.

“bagiku,” lanjutku perlahan “sudah terlampau banyak cerita yang tersimpan dalam kotak rahasia. Sampai-sampai aku lupa mana cerita rahasia, mana cerita yang bukan rahasia. Kau tahu, pada kenyataannya manusia lebih sering membuat kesepakatan rahasia terhadap dirinya sendiri, bukan orang lain. Namun, akan terasa lebih menyakitkan jika kau pura-pura tak melihat gambar masalalu mu, akan terasa lebih menyedihkan kalau menutup telinga dari cerita lampau mu, sebarapa burukpun itu” kujelaskan panjang lebar pengamatanku mengenai rahasia.

“tapi dengan berahasia pada sendiri bisa membuat orang itu nyaman kan?”

Sekilas aku melihat kilatan cahaya luka di mata Suci. “betul. Nyaman yang hanya bertahan di hari ke sekian. Sifatnya sementara saja. Kamuflase namanya”.

“setidaknya saat ini rahasia adalah obat mujarab untukku. Penawar racun.”

“Sampai kapan kau bertahan mengelabui diri sendiri, membohongi perasaan sendiri walaupun terbit sebongkah rasa sesak dalam dada? Kian hari sesak memuncak,  lambat laun meletus menumpahkan lahar panas yang tidak hanya membakar dirimu, tapi juga dapat menenggelamkan orang-orang di sekitarmu.

Suci terdiam, aku pun demikian. Lagi-lagi keheningan hadir di antara kami, aku dan Suci. Aku memilih menunggunya bicara sambil berbaring di rumput. Kami adalah dua perempuan yang sangat berbeda baik dari latar belakang maupun keinginan. Aku anak ketiga dari selusin saudara, sedang Suci anak tunggal, satu-satunya. Aku penyuka hujan, ia berharap panas sepajang tahun. Aku penikmat kopi, ia hanya minum secangkir teh manis tiap hari. Aku mengidolakan ayah, ia jijik pada ayahnya, bahkan berjengit ketika mendengar sebutan ‘ayah’. Aku banyak bicara, ia pendiam, dan baru akan bicara jika ada yang bertanya.

Semilir angin sepoi-sepoi membelaiku, seperti belaian emak tatkala ia hendak menidurkanku dalam kain selendang. Tiba-tiba aku mencium gelagat tidak baik. Betul saja. Suci angkat bicara disaat aku hampir tertidur.

“aku tidak lagi Suci” bisiknya pelan meski samar-samar masih busa kudengarkan.

“apa kau berniat ganti nama sepertiku? Kalau itu, tenang saja, aku akan membantumu mencarikan nama baru” jawabku malas-malasan ditutup oleh kuap. Suci bicara saat mataku segaris lagi akan terpejam. Mengantuk berat.

“aku pernah diperkosa” ujarnya membuatku tersentak dari tidur-tidur ayam. “satu tahun lalu”. Sedetik kemudian kulihat bulir bening menggenangi pelupuk matanya, siap-siap tumpah. Jawaban Suci membuatku diam, tak lagi bertanya. Kubiarkan ia bercerita semampunya, sebanyak kata yang ia cipta.

“Dulu, kejadiannya tiga tahun yang lalu, ayah memperkosaku”. Aku tertegun mendengar pengakuannnya. Keningku berkerut, kupingku panas dan wajahku memerah. Tapi Suci terlihat santai, seperti tak ada beban di pundaknya. Aku heran sekaligus takjub, begitu rapat kesedihan ia sembunyikan. Rapi.

“Sore sepulang sekolah, seperti biasa aku langsung ke rumah. Ganti baju dan makan. Sebelum tidur sore, aku lebih dulu membersihkan rumah, mencuci piring, dan menjemur pakaian yang kucuci malam sebelumnya. Itu kegiatan rutinku sehari-hari”. Suci tersenyum lirih sambil menatap lautan hijau kebun kelapa dengan pandangan kosong. Sesekali ia menyibak rambut kakunya. “rumahku tak besar. Makanya mudah bagiku menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah dalam waktu satu jam. Kami hanya tinggal berempat di rumah itu. Aku, nenek, tante, dan ayahku yang pulang sekali seminggu. Ia lebih sering di luar. Aku tak tahu apa pekerjaannya. Tapi kata nenek, ayahku nelayan penangkap ikan”.

Senyap.

“ibuku, sudah 8 tahun ia di Malaysia. Ia meninggalkanku saat berumur tiga tahun karena bekerja sebagai TKI. Aku tak pernah melihatnya, tapi menurut orang-orang dia cantik”.

Sunyi.

“perih rasanya menuturkan peristiwa itu kembali. Walau sudah tiga tahun berlalu, aku tak pernah bisa lupa. Padahal sudah kucoba memadam-madamkan kenangan agar tak muncul ke permukaan”. Suci memukul pelan keningnya. Ia terisak dalam. “aku benci ayah. Sangat…” . Aku cukup mengerti betapa dalam pilu menggerogoti tubuhnya. Aku pun melihat parut luka yang lebar menganga. Aku mulai paham, bukan karena ke-dekilan-nya membuat Suci  tak manis. Akan tetapi, pahit getir masa lalu telah menggumpal dan berkabut, menutupi hampir seluruh tubuhnya yang rapuh.

“laki-laki itu masuk ke kamarku dalam keadaan mabuk. Ia mendorongku, membuatku terhenyak ke tempat tidur. Aku berusaha melawan, meronta-ronta agar lepas darinya. Tapi semuanya terjadi begitu cepat”. Suci tertunduk berlinang air mata. “Ia menampar dan membenturkan kepalaku ke dinding kayu rumah kami. Aku tak sadar apa yang terjadi selanjutnya hingga nenek menemukan tubuhku dalam keadaan tak berpakaian”. Kali ini Suci menangis tersedu-sedu. Aku memilih bisu dan tak melakukan apa-apa. Karena tanpa kusadari, rupanya air mataku telah jatuh ke baju. Kenangan 3 tahun silam itu membawaku ikut larut bersamanya. Kubiarkan ia menyelesaikan tangisannya. Meski tak dapat menutup luka, meski tak mampu mengembalikan apa-apa yang telah dirampas darinya, tapi paling tidak ia bisa melampiaskan kesedihan melalui tangisan yang sejak tiga tahun ia tahan.

Rupanya banyak rahasia dan kejutan dalam dirinya yang tak sempat tersibak. Suci menyimpannya dalam safety box berkunci ganda, bersandi angka acak, hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Nyaris sempurna.

Ahh…, sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang. Di saat kau butuh seorang ayah untuk melindungimu dari permainan hari, rupanya ia tak lebih dari pemangsa jalang yang siap menguliti. Di saat kau butuh seorang ayah untuk mengajarkanmu menghadapi tantangan hidup, rupanya ia serupa setan yang selalu membuat cahayamu redup.

***

Bulan di atap rumahku, bentuknya persis seperti bulan sabit di atas kubah mesjid. Bedanya hanya dari cahaya. Yang satu cahayanya berasal dari Tuhan: sangat terang, dan satunya lagi berasal dari PLN, redup. Terkadang seperti lampu diskotik. Hidup-mati-hidup-mati. Boleh jadi petugasnya tak niat menyediakan listrik. Padahal mesjid itu selalu membayar tagihan listrik tepat waktu. Mustahil ada tunggakan.

Di bawah bulan tepatnya disamping jendela kamar, aku duduk serius menekuri  netbook. Aku sedang merancang dan menulis keperluan di Genteng Merah. Bodohnya, tak sebaris kalimat pun meluncur dari tanganku. Malah Suci bermain-main dalam kepala. Pikiranku dikuasai Suci sejak senja tadi kami berpisah di hutan kebun kelapa.

Aku mengenal Suci dua bulan belakangan ini. Saat itu, aku berencana mendirikan rumah pendidikan bagi anak-anak yang ingin belajar. Mengaji, membaca, menari, menjahit, menulis, melukis, menyanyi, apa saja. Yang penting belajar. Aku ingin menghadirkan generasi-generasi tangguh, pejuang, dan cerdas menghadapi tantangan zaman, menemukan pemuda-pemuda dari sudut kampungku. Walaupun untuk itu aku harus bekerja ekstra keras dan berpikir lebih cadas. Aku yakin pasti bisa. Untuk niat ini, aku sangat yakin Tuhan mengangguk setuju.

Berkaca pada rencana senget itu, aku pasti membutuhkan seorang asisten untuk membantuku meng-handle kegiatan di rumah Genteng Merah. Kubuatlah iklan menggugah di depan pagar rumah ayah. ‘butuh asisten untuk pertualangan ke negeri impian’ begitu bunyinya. Memprihatinkan sekali, dari hari pertama sampai hari ke empat, nihil. Tak ada yang mendaftar. Jangankan mengantar lamaran, bertanya pun tidak. Hingga memasuki hari kelima, datanglah seorang perempuan berambut kaku umurnya kira-kira lima tahun di bawahku. Berparas India, kulitnya coklat, rahang lebar dan kokoh, mata bulat serta hidung bangir. Namun sayang sekali, penampilannya yang kusam dan tak terawat, berhasil menyembunyikan kemolekannya. Kuku-kuku tangannya pun hitam. Selangkah lagi, masuklah ia dalam kategori dekil. Tapi wajahnya ramah. Ia tersenyum padaku, mengulurkan tangan, menyebutkan namanya, ‘Suci’ ujarnya seraya memamerkan gigi-gigi kuningnya.

Gaya urakan dan tak membawa berkas lamaran pula, menjadikan bulu kudukku meremang, protes pada perempuan di depanku. Lantas aku bisa apa? Aku tak punya pilihan sebab tak ada pelamar yang datang meski sudah kupampangkan iklan menggugah dengan tulisan caps lock di bold. Mungkin Tuhan telah mengantarkan seorang perempuan udik ke rumah ayah, untuk menjadi asistenku. Aku harus berdamai, setidaknya perempuan udik di depanku bisa kusuruh bersih-bersih.

Tanpa wawancara, no application, tak ada tes kesehatan apalagi TOEFL, langsung bekerja. Resmilah Suci menjadi asistenku. ‘Tok, tok, tok’, tiga kali ketok palu.

***

“Hei, apa kau tahu akan hadir pelangi setelah rinai gerimis?” tanyaku mengalihkan pandangannya dari burung merbuk yang bertengger pada ranting patah. Pagi ini, sudah hari ke lima di bulan Oktober. Waktu begitu cepat berlalu. Hanya rem Tuhan yang bisa menghentikan rodanya berputar. Aku dan Suci masih sibuk bekerja di Genteng Merah. Menyiapkan segala keperluan belajar-mengajar sebelum ayah menggunting pita resepsi, sebelum aktivitas di Genteng Merah resmi dimulai.

“Iya, tahu, tapi apa memang zahirnya begitu?”

“tak selalu memang”  sahutku mengambil posisi duduk di sampingmu, di ruang belakang tempat menyimpan perlengkapan melukis. “tapi hujan dan pelangi adalah dua keadaan alam yang mampu membuatku tenang, setelah senja tentu saja”.

“dan ketenanganmu tergantung pada hadirnya pelangi setelah rinai gerimis?” Suci memiringkan kepala menolehku. Mata kami beradu. Kulihat sorot matanya tak seredup dulu. Ia juga sudah mulai banyak bicara. “bagaimana jika tak ada pelangi?”

“pelangi pasti ada”. Aku tersenyum padanya. “Pelangi tetap ada sekalipun panas sepanjang hari, ataupun malam tiba.

Matamu menyipit, alismu bertaut, menyatu. Jika sudah begitu, pastilah kau menyimpan banyak tanya yang hendak kau lemparkan. Aku sudah hafal tanda itu.

“mari kuperlihatkan!” Suci mengamatiku seksama. Kutarik cincin bermata putih yang menempel di jari manis tangan kiri. Cincin pemberian ayah di hari ulang tahunku. Kudekatkan cincin dengan sinar matahari pagi. Sinar yang menimpa permata di cincinku memantulkan ragam cahaya berkilauan.

“pelangi!” seru Suci dengan mata berbinar. Ia tersenyum. Kulihat matanya berkaca-kaca. Tidak! Kali ini bukan duka. Tapi ada setitik bahagia terpancar dari wajah tegarnya, dari senyum lugunya.

“kita bisa menciptakan pelangi sendiri, melahirkan berupa-rupa warna yang membuat hidup lebih indah. Tak ada yang bisa merenggut pelangi asal kita terus mempelitur semangat dan tegak berdiri”.

Suci tersenyum mengangguk setuju. “bagaimana kalau rumah ini kita namakan Sanggar Pelangi?” tanya Suci padaku.

Aku terkesiap, terlonjak kegirangan. Sekali lagi aku dikejutkannya dengan ide dadakan mengubah Genteng Merah menjadi Sanggar Pelangi. Kugumamkan nama Sanggar Pelangi berulang-ulang. Sungguh lagak bukan buatan nama itu di telingaku.

“Sanggar Pelangi” serempak aku dan Suci menyebut nama itu. Aku tersenyum melihatnya. Tanpa ia tahu, aku mendoakannya agar selamanya dihujani kebahagiaan. Doa yang diam-diam, dari lubuk hati yang paling dalam.