Konvensi Ilusi

Setelah sekian lama menyimpan misteri dalam penentuan sosok yang akan diusung untuk pemilukada DKI Jakarta, akhirnya PDIP menjatuhkan pilihannya pada Ahok.

Petahana yang lekat dengan ciri emosional dan nyablaknya itu menjadi calon final yang disandingkan dengan Djarrot, kader PDIP yang juga menjabat sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta.

Tadinya saya mengira konvensi yang digelar PDIP kemarin bakal menampilkan bintang baru, setidaknya kader sendiri. Meski bukan bintang terang, tapi mampu menjadi pesaing Ahok dalam kancah pemilihan Gubernur. Sebab perhelatan seleksi balon kepala daerah yang digawangi oleh PDIP tersebut sangat elegan sekaligus serius. Rasanya wajar jika publik memiliki ekspektasi lebih.

Namun rupanya PDIP tak bisa move on dari sosok pria etnis Tionghoa tersebut.

Betul bahwa dalam politik tidak ada hitam atau putih, sulit ditebak apalagi dipastikan. Akan tetapi konvensi yang digelar sedemikian rupa malah menyisakan kekecewaan bagi banyak pihak. Beragam komentar pun menghambur. PDIP dianggap miskin figur, mencla mencle, dan kehilangan marwah sebagai partai dengan jargon demokrasi.

Hal ini mengingatkan saya pada konvensi serupa yang pernah dihelat oleh partai demokrat, dimana Dahlan Iskan harus menelan pil pahit karena merasa telah dipecundangi oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Tampaknya PDIP tak cukup arif menarik pelajaran dari pengalaman. Atau barangkali prilaku partai memang demikian?

Disini saya tidak mempersoalkan pribadi  Ahok yang diusung PDIP. Bahkan jauh sebelumnya saya juga mengetahui taktik ‘konvensi’ PDIP. Sebab praktek demikian sudah pernah terjadi di negeri ini.

Akan tetapi, perkara yang saya garis bawahi mengapa pada akhirnya, di saat panjangnya waktu konvensi, PDI-P tidak memunculkan bintang baru, melainkan menasbihkan nama Ahok sebagai kontestan Pemilukada.

Betul bahwa parpol memiliki rule game tersendiri. Tapi aturan main juga ada rambu-rambunya, memiliki adab. Itu sebab saya kekeuh mempertanyakan mengenai kebiasaan (buruk) parpol, terlebih perkara konvensi.

Bisa dikatakan, parpol merupakan perwakilan untuk menyaring figur, baik DPR, Gubernur dan Presiden. Jika parpol tak lagi bisa dipercaya, dan kepada kinerja para dewan/kepala daerah pun pemilih sudah kehilangan harapan, lalu apa gerangan yang jadi pedoman bagi para pemilih kelak?

Di sini saya tidak sedang menyoal rumah tangga partai. Hanya saja dari konvensi (kalaulah ia bisa disebut konvensi) yang diadakan PDIP, rakyat mampu melihat wajah partai lebih dekat, bahwa partai era kini, hanya mampu menghadirkan ilusi.

 

Satu pemikiran pada “Konvensi Ilusi

  1. Konstelasi PEMILUKADA di Ibukota yang sedianya digelar pada tahun 2017 sudah menjadi buah bibir paling tidak dari awal 2016 ini.Media baik cetak maupun elektronik tidak ada henti-hentinya memberitakan tokoh maupun figur yang akan mengikuti ajang Pilgub.Beberapa lembaga survei pun tak ingin kalah dalam mengikuti riuh rendah hajatan yang digelar setiap lima tahunan ini.
    Partai politik pun dari jauh hari sudah mengkalkulasi calon-calon mereka untuk bertarung melawan sang petahana “AHOK”.
    Menurut hemat saya,Pemilukada di Jakarta adalah magnet tersendiri bagi partai politik di Indonesia,Ibukota dianggap sebagai tolak ukur dalam pemilihan secara nasional karena dianggap sebagai “kaca benggala” perpolitikan nasional.
    Maka tak heran jika Parpol tak ingin mengambil resiko dalam menentukan bakal calonnya.Pun demikian dengan partai politik sekelas PDIP tak ingin kehilangan suaranya di 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s