Menakar ‘Sensasi’ Nikah Dini

Selain bersliweran di linimasa, kotak pesan akun facebook saya pun disesaki perihal anak lelaki Ustadz kondang yang menikah di usia 17 tahun, kendati undang-undang negara mensaratkan 18 tahun menjadi angka standar untuk melepas status lajang.

Beragam komentar dilontarkan. Ada mendukung ada pula menentang. Rupanya ‘sensasi’ nikah dini masih hangat padahal kejadiannya telah berlangsung beberapa pekan.

Tadinya saya tak hendak berkomentar. Sebab bagi saya perihal demikian bukan perkara urgensi. Meminjam bahasa ayah ‘tak masuk daftar’. Tapi orang-orang mulai berisik. Kesendirian saya diadu dan dibanding-bandingkan dengan ‘peserta’ nikah muda. Bahkan postingan saya di sosial media mengenai debat, disebut-sebut terinspirasi dari aksi debat pasangan muda yang berhujung ke pelaminan.

Aih, benar-benar kenyinyiran yang melampaui batas. Sungguh mengada-ada. Padahal kenyataannya, hal itu telah sudah terjadi sejak saya duduk di bangku kuliah di sebuah universitas ber-flat merah. Perbincangan bertema debat, antara anak dan ayah.

Sebenarnya saya tak tersinggung, akan tetapi jadi sedikit latah untuk berkomentar. Karena itu saya ikut bersuara dan memutuskan menulis kisah ini.

Ketika membaca inbox, segera saya menerka bahwa masyarakat kita cenderung heboh menyikapi sesuatu. Mudah panik mendapati hal baru. Sangat reaktif hingga pada akhirnya terkesan nyinyir dan sok tahu.

Bisa di-searching tentang mereka yang menikah dini, salah satunya pasangan Alvin Arifin Ilham. Lalu? Saya pikir tak perlu disikapi dengan terlalu. Sebab mereka telah memilih apa yang mereka mau. Lagipula Tuhan sudah menuliskan di Lauh Mahfudz apa-apa yang akan berlaku pada setiap makhluk. ‘Kun fayakun’, bunyi firmanNya dalam surah Yasin. Lalu, mengapa lagi ditaksir-taksir? Bukankah kita sepakat bahwa takdir berada di ujung usaha manusia? Sehingga ketika telah berusaha, maka ketika itu pula ‘pasrah’ menjadi nama depan kita.

Perlu diketahui bahwa menikah dini bukan kontes: siapa lebih dulu maka dia paling berani. Tidak sesempit itu memaknainya. Jika demikian, setelah menyandang gelar paling berani nikah dini, what next? Apa mereka juga akan mengadakan lomba ‘paling berani poligami’?

Menikah dini pula, bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan dengan perang merebut tanah ulayat. Seperti postingan seorang ahli parenting dalam akunnya: ‘Sultan Muhammad Al Fatih bisa menaklukkan Constantinople sebelum usia 22 tahun, sedangkan banyak lelaki sekarang belum bisa menaklukkan hati wanita dan calon mertua setelah usia 32 tahun’.

Usaha komparasi tersebut terkesan ngawur dan kebablasan. Karena beliau tidak cukup fair membuat perbandingan, tidak ‘apple to apple’. Betul bahwa perang dan cinta sama-sama memerlukan keberanian. Tapi perang adalah satu hal sementara cinta adalah hal lain lagi. Perang menuntut keberanian untuk menghadapi pemberontakan dan menaklukkan penjajah, sementara cinta menuntut keberanian menaklukkan rasa takut dan segala kekhawatiran. Dalam perang, kau akan siap menebas leher musuh. Dalam cinta, leher siapa yang akan kau penggal? Pujaan hati? Mertua? Tuan kadi?

Kembali ke topik awal, mengapa harus nikah dini jika usia muda yang katanya ‘masa remaja’, menyediakan tombol ‘ON’ untuk dinikmati? Bukankah dari segia usia, nikah dini dapat disebut cukup belia hingga dianggap sangat berperan menambah gendut populasi?

Oleh beberapa pakar, usia 17 tahun memang dikategorikan masa remaja, yaitu masa transisi antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 11 tahun hingga 21 tahun. Tapi saya tak hendak mengamininya. Sebab bagi saya, apabila seseorang telah dapat dikatakan normal, sehat lahir batin, tidak sakit, tidak mengidap kelainan mental, bisa tulis baca, mampu menggunakan akal pikiran dengan sempurna, maka ia boleh melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Artinya bahwa, dengan memutuskan nikah dini maka mereka jadi lebih bergegas daripada jomblo. Lebih bersegera merancang masa depan berkeluarga, merangkai program, merumuskan rencana. Mereka lebih cepat mengambil tanggung jawab serta menerima resiko yang datang nantinya.

Sementara itu, jika dilihat dari tolak ukur Negara Republik Indonesia, nikah dini usia 17 tahun termasuk nikah kebelet alias terburu-buru. Akan tetapi bagi saya pribadi, keputusan nikah dini sangat prestisius ketimbang berasik masuk dengan pasangan musiman. Dan lebih parah lagi dengan mengunggahnya ke Instagram atau Vlog, seperti dilakukan gadis SMA yang sempat viral beberapa hari belakangan.

Sebagai single lady saya tak gentar apalagi sampai gamang dan kehilangan keseimbangan. Sebab saya selalu mencari sisi optimis dalam kehidupan meski saya cukup menyadari bahwa kehidupan berisi orang-orang nyinyir yang senantiasa menemukan cara untuk menenggelamkan ke dasar samudera.

Tapi pernahkah merasa risau dengan kesendirian? Jelas, karena saya bukan malaikat yang mampu menjalani segala. Sedih? Pasti. Sebagai manusia perasaan macam itu sangat normal. Tapi stay cool saja, agar tetap waras di dunia yang penuh keabnormalan ini. Juga, tak perlu sibuk untuk terlihat bahagia. Toh saya sangat paham bahwa Tuhan tak memberikan kebahagiaan yang sama, begitupun Ia tak akan melimpahkan kesukaran yang sama pula.

Untuk tukang kompor atau hasadun komuniti, berhentilah membanding-bandingkan pelaku aksi nikah dini dengan mereka yang masih sendiri. Hentikanlah kebiasaan mengipas-ngipasi. Sebab makna menasehati tidak serendah itu.

Kepada mereka yang nikah muda, saya ikut bangga. Kalian sungguh brilian dari mereka yang pacaran, bahkan saking lamanya, ‘ikatan’ belum sah tersebut berlangsung sampai 1 dasarwarsa. Kalian sangat hebat dari mereka yang hanya menginginkan hubungan semu dengan mengandalkan bujuk rayu, yang pada akhirnya berhujung php alias pembawa harapan palsu. Kalian benar-benar keren dari mereka yang punya gebetan tapi memilih bungkam dengan alasan takut akan kata-kata penolakan. Betapa ‘sempurna’ kalian dari para pengecut yang selalu terpanggil menyelesaikan urusan dengan memperkosa, menghujamkan gagan cangkul, kayu, hingga kekerasan yang berakhir tragis dengan kematian. Untuk kalian, semoga karunia Tuhan senantiasa mengucur, tak pernah putus hingga di kehidupan selanjutnya.

Kepada para jomblo, mari jadikan berita panas tentang nikah muda anak lelaki ustadz kondang itu sebagai motivasi, bukan terprovokasi yang alih-alih menyempurnakan setengah iman malah menguar kebejatan.

La tahzan, kata Tuhan. Jangan bersedih. Andaipun masih terselip duka di sudut hati, mari kita lakukan berjamaah. < big hug >

Dinna F. Norris

 

 

 

5 pemikiran pada “Menakar ‘Sensasi’ Nikah Dini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s