Ahok dan Keputusan Politik Yang Menuai Gunjingan

Sebagai warga negara Indonesia tentu saja saya memiliki hak bicara, namun situasi berubah ketika saya dihadapkan pada kebisingan pemilihan kepala daerah di ibukota. Saya bukan penduduk Jakarta, tidak memiliki KTP Jakarta. Otomatis saya tidak punya hak suara, tidak bisa memilih siapapun dalam pertarungan kandidat pilkada DKI Jakarta yang diselenggarakan Februari 2017 mendatang.

Oleh karena Jakarta dapat dikatakan sebagai miniatur negara, maka mengamati dan bercoleteh tentangnya merupakan hal menarik, dari sisi manapun itu. Terutama ketika digelarnya pesta demokrasi yang bagi sebagian orang merupakan peristiwa penting yang tak bisa diabaikan. Sekalipun pilkada serentak tahap II diselenggarakan di 101 daerah di Indonesia, yakni 7 Provinsi, 76 Kabupaten dan 18 kota, akan tetapi pilkada Jakarta tetap menjadi top list dan paling ditunggu-tunggu. Sejatinya kontestasi politik Jakarta merupakan pilkada berskala lokal, akan tetapi memiliki cita rasa nasional jika dilihat dari antusiasme warga. Benar-benar membetot perhatian. Namun atmosfer politik ibukota semakin memanas di saat Ahok, sebagai petahana ikut meramaikan bursa pemilukada.

Lebih menarik lagi ketika mendapati ‘mereka’ ramai-ramai menguliti Ahok dari segala penjuru. Mulai dari masalah reklamasi, kasus Sumber Waras, penggusuran, hingga menyoal perkara kecil sekecil remah-remah biskuit Khong Guan. Barangkali karena kasus reklamasi dan Sumber Waras dirasa tak mempan untuk menggulingkan lelaki temperamen ini, mereka pun mengeluarkan album repackage, memutar-mutar tembang lawas, judul lama dengan aransemen baru yakni: etnis dan agama. Jadilah ‘kesialan’ Ahok kian komplit.

Namun ternyata di Jakarta dua hal tersebut tak begitu laku dijadkan isu. Masyarakat terdidik Jakarta tak lagi berpatokan dengan style politik zaman dulu, di mana suku dan agama acap menjadi masalah nomor satu ketika hendak mengepalai sebuah daerah. Mereka lebih concern terhadap portofolio, kinerja, dan prestasi seorang figur, apa visi misi serta program yang dibawanya serta bagaimana ia merealisasikan hal-hal tersebut di daerah yang ia pimpin nantinya. Yang jelas, di era teknologi dan informasi, di saat negara sedang berproses untuk menjadi lebih baik, kuat dan berbudaya, maka isu SARA tak perlu ditendang ke barat ke utara.

Tak puas sampai di situ, mereka mulai menggoreng barang baru. Beberapa tokoh, ya sebutlah begitu, semakin panas dan berisik ketika Ahok diusung oleh 3 kekuatan partai politik: Golkar, Nasdem, Hanura. Lalu mereka berusaha membenturkan Ahok dengan pendukung utamanya yakni Teman Ahok. Mereka sebut Ahok pendusta. Mereka teriak Ahok tak setia. “penghianat tak layak memimpin Jakarta” kata mereka.

Sungguh membingungkan ketika seseorang menganggap perkara dukungan merupakan sebuah pengkhianatan. Dan lebih membingungkan lagi ketika saya mengetahui bahwa tokoh-tokoh yang mengeluarkan pernyataan tadi berpengalaman di bidang politik, bahkan dapat disebut ‘sepuh’ di dunia politik. Semestinya mereka mengerti seluk beluk politik dari A-Z, dapat memahami bahwa aksi dukung mendukung dalam perebutan kekuasaan bukanlah sesuatu yang ganjil atau haram juga bukan sebuah kemustahilan.

‘Taktik yang baik adalah membentuk persekutuan dengan orang yang dapat melengkapi kekuatan kita ketika kita mengumpulkan suara’ tulis Robert K Harris dalam Imperium. Cicero, sebagaimana dituturkan Harris, berusaha mendekati golongan aristokrat untuk mencapai posisi sebagai imperium tertinggi Roma. Menjadi consul merupakan cita-cita mulia sekaligus prestise, dan Cicero harus meraihnya meski melakukan cara yang paling ia benci yaitu bersekutu dengan kelas bangsawan seperti Hortentius, Claudius, serta orang-orang yang berasal dari keturunan sergius.

Ahok yang pernah beberapa kali keluar masuk partai politik, dalam beberapa kesempatan seringkali menegaskan bahwa ia akan maju sebagai kontestan politik melalui jalur Independen, dengan bantuan mutlak dari Teman Ahok. Bantuan ini dimanifestasikan dalam program sejuta KTP yang mereka kumpulkan dari warga Jakarta yang ikhlas memberikan suaranya buat Ahok. Tanda pagar (#) KTPguebuatAhok menjadi trendic topic di lini masa. Dan sukses, Ahok mendulang simpati dari warga.

Seiring perjalanan waktu, pertarungan kandidat semakin sengit, atmosfer politik semakin memanas. Ahok dipastikan sulit menjadi orang nomor satu Jakarta jika hanya mengandalkan kerja Teman Ahok. Menyadari hal ini, Ahok memilih berangkulan dengan partai politik meski menuai gunjingan. ‘The essence of politics is choice’ kata Perdana Menteri Francis, Pierre Mendes. Keputusan politik memang tak bisa menyenangkan semua pihak.

Lalu di mana salah Ahok ketika ia menyambut dukungan 3 partai besar? Padahal jika ingin melanggengkan kekuasaan, kadang-kadang kita harus menggabungkan kekuasaan dengan pihak-pihak yang sebetulnya ingin kita hindari.

Akhirnya saya harus mem-bold tiga catatan. Pertama, Ahok adalah ‘orang baru’ di Jakarta. Ia tentu telah memperhitungkan bahwa hanya dirinya dan ‘teman-temannya’ yang bisa membantunya untuk mencapai kekuasaan. Meski keputusan maju lewat parpol menghasilkan gelombang ‘permusuhan’ di antara para pekerja politik, tapi resiko tersebut setara dengan kans Ahok untuk merebut dan mempertahankan kursi kepala daerah DKI Jakarta. Selanjutnya, Ahok mengincar jabatan Gubernur, sesuatu yang layak diperjuangkan bukan? Dan terakhir, ini Jakarta, sebuah daerah yang menjadi tolak ukur sukses tidaknya seseorang.

Adapun tentang reklamasi dan sumber waras, saya angkat tangan. Lagipula kasus yang sangat rumit dan berbelit-belit tersebut melibatkan banyak pihak serta sudah masuk ke ranah hukum. Sebagai intelektual, saya tak hendak gegabah hingga membuat kesimpulan bergegas.

Selain itu, kediaman saya dan tempat tinggal Ahok dipisahkan oleh jarak yang tak bisa dibilang dekat meski dapat ditempuh selama 2 jam naik pesawat. Meski demikian tetap saja informasi valid maupun data akurat akan terhalang benda-benda langit. Sementara, mengharapkan media memberimu pengetahuan akan kebenaran, sama saja seperti mengharap buah durian pada musim salak. Adalah benar tatkala pers mengamati dan meliput berita dengan seksama. Juga benar, ketika berita yang dilaporkan ke khalayak luas secara terus menerus ini acap kali dibingkai berbagai analisis dari yang biasa hingga yang seram.

Karena itu saya memilih slow motion, mengikuti berita-berita di internet dan televisi sambil sesekali mengerutkan dahi. Ditambah lagi saya tak gemar berkoar-koar tentang apa-apa yang saya tidak ketahui. Khawatir berpotensi fitnah. Bukankah alfitnatu assyaddu minal qatli?

Karena itu pula saya terus dan selalu menunggu kabar KPK perihal status Ahok. Kadang tak sabar dengan kerja lembaga anti rasuah ini yang terkesan lamban ‘membereskan’ satu orang. “jika benar lelaki temperamen itu penjahat, kapan sih ini orang berganti status jadi tersangka?’ gumam saya saat melihat Ahok ‘masih’ duduk di kursi saksi.

Namun sampai saat ini saya masih percaya pada KPK. Bagi saya lembaga ini sangat prestisius, cukup kredibel dan masih bertaji. Terbukti ketika pada akhirnya KPK menempatkan AU sebagai tersangka dalam kasus suap Hambalang. Padahal saya mengidolakan AU sejak beliau berdinas di KPU kala itu. Kami juga berada di organisasi yang sama walaupun berbeda struktur dan generasi. Tapi karena bukti-bukti dan kasus suap AU yang disiarkan di pengadilan sudah terang benderang, makasaya akur. Saya ‘bermakmum’ pada KPK.

Dan untuk Ahok, meski saya salah satu pengagum pria etnis Tionghua itu, saya tetap mengharapkan hal yang sama agar KPK tidak bertele-tele, tidak tebang pilih membereskan penjahat berdasi, siapapun orangnya. Karena menjadi pengagum bukan berarti bersifat taqlid buta akan tingkah polah seseorang yang dikaguminya, bukan pula mengkultuskan individu hingga tak siap berhadapan dengan tabir kebenaran yang terkuak nantinya.

 

Dinna F. Norris

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s