31

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih pada kalian, karena begitu concern pada kegelisahan yang saya goreskan di halaman Diary Elektronik ini. Mulai dari membubuhkan komentar atau sekedar meninggalkan jejak, mengirim email atau bahkan mengukir doa, sampai menanyakan alamat yang tujuannya amat syahdu, yakni mengirim kado di hari ulang tahun saya yang ke-31, pada Februari lalu.

Yes, I’m thirty one. Usia yang cukup matang bagi seorang perempuan untuk bertindak secara dewasa, memilih dengan tepat, bicara dengan bijak. Teorinya demikian. Tapi perempuan bukan robot yang konsisten dengan kekakuannya, sebab akan (selalu) ada saat di mana hidup menghempaskan saya pada realita paling jahanam terlebih lagi jika dihadapi sendirian. Hingga benteng kedewasaan yang saya bangun retak dengan sendirinya. Saya bereaksi di luar batas, batas yang saya sendiri telah tetapkan tentu saja. ‘gak dewasa lu’, pada akhirnya kalimat demikian akan terlontar dengan cepat seperti peluru. Begitu pula memilih dengan tepat atau bicara dengan bijak.

Kadangkala orang dewasa juga melakukan hal-hal ‘yang tidak pada tempatnya’, membuat pilihan yang salah, serta bicara sekenanya. ‘We are only human, sometimes we make mistakes’, kalimat itu selalu saya pegang erat-erat agar saya sadar bahwa membuat kesalahan adalah manusiawi, sebab saya bukan malaikat yang pada saat penciptaannya dibekali tabiat syurgawi. Namun bukan berarti kesalahan-kesalahan tadi dibiarkan meluap tanpa memetik ikhtibar dan hikmah di baliknya. Karena hidup tidak seremeh itu. Terus belajar dan berupaya memperbaiki kesalahan adalah bukti kita menghargai kehidupan.

Lantas, ada yang berubah setelah berada di angka 31?

Perubahan itu wajib. Apapun ceritanya, tak peduli dengan angka-angka yang terus bertambah di tiap tahunnya, hidup harus berubah ke arah lebih baik, lebih terarah, lebih bermanfaat. Seperti beberapa tahun lalu di mana saya cukup emosional ketika orang-orang menyoal status kesendirian saya, sekarang ini, komentar-komentar sejenis itu tak lagi terasa menyakitkan. Sudah kebal? I’m Human, bukan alien. Bahkan sekelas Mutan pun bisa merasakan sakit hati.

Hanya saja saya lebih memilih ‘cooling down’ menghadapi kenyinyiran. Karena yang begituan, gak asik diladeni. Energi akan terbuang percuma ketika berhadapan dengan orang-orang yang bertujuan ingin menenggelamkan kita ke dasar bumi. Menyoal kesendirian saya, tidak akan membawa manfaat baik bagi kehidupan ini. Begitupun ketika meladeni orang-orang tersebut, tak ada ilmu yang bisa saya petik untuk dibawa pulang. Anyway, dengan tulus saya memaafkan para pembully dan no hurt feeling to you guys.

Yess, I’m thirty one. Yess, saya masih sendirian. Saya pikir, mengenai kesendirian ini, tak ada yang perlu saya khawatirkan. Saya hanya mencari sisi optimis dalam kehidupan. Meski saya cukup menyadari bahwa kehidupan memang berisi masalah kompleks. Karena itu memilih depresi dengan takdir yang tak mampu saya kuasai, bukan suatu bentuk penghargaan pada Tuhan.

Cheers…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s