Pesta Kemenangan Itu Disebut Pesta Rakyat

Sabtu malam kemarin, tanggal 9 April 2016, kampung kami dikunjungi oleh artis-artis Ibukota. Salah seorang dari mereka adalah Ayu Ting Ting.

Berita kedatangan artis-artis tersebut, tak sengaja saya dengar lewat radio Suara Tanjungbalai Berjaya (STB). Disiarkan berulang-ulang, sehari 5 kali, pun barangkali telah mengudara sejak seminggu belakangan sebelum dimulainya perhelatan.

Lewat iklan advertorial berdurasi kira-kira 5 menit, seseorang yang menyebut dirinya Ketua Panitia mengumumkan bahwa Bapak Walikota ingin menunaikan janjinya pada masyarakat.

Lazimnya pemimpin terpilih dengan dukungan meyakinkan, semangat kemenangan masih terasa dan itu membuat kepemimpinannya segar dan antusias.

Saya berdebar-debar. Segera saya berdiri dan mendekatkan telinga ke radio Sony keluaran tahun 80-an yang tergeletak rapi di atas lemari. Janji apakah gerangan? Belum 100 hari dikukuhkan sebagai Walikota terpilih Tanjungbalai, beliau langsung ingin membuktikan janji.

Seperti yang jamak diketahui, bahwa kepemimpinan 100 hari telah menjadi barometer kinerja masa awal pemerintahan. Ada contohnya. Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt, segera setelah dilantik pada 1933, merangkul semua pihak untuk mengatasi depresi ekonomi yang melanda negerinya. Dengan kepemimpinan efektif, ia meloloskan lima belas undang-undang ke Kongres pada seratus hari pertama pemerintahannya.

Barangkali pemisalan ke Amerika Serikat dirasa terlalu jauh. Kita tengok saja Ridwal Kamil. Ketika penghitungan suara memastikan beliau memenangkan pemilu, Walikota Bandung yang akrab disapa ‘Kang Emil’ itu segera memoles Bandung menjadi kota ramah lingkungan, tertata, tertib, dan berkelas.

Sebab itu kiranya saya pantas bertanya, adakah Ratu Adil telah datang menjelma Walikota termuda yang terpilih secara demokratis, melalui Pemilihan Umum, di bawah bendera Reformasi?

Sayup-sayup laki-laki bersuara berat membacakan informasi dari balik radio. Saya gusar dan bergumam sendirian. ‘Pesta Rakyat macam apa yang digelar Walikota? Rakyat mana yang ingin berpesta? Dalam rangka apa pemerintah menggelar pesta?’

Pertanyaan demi pertanyaan mencelat keluar, berlomba cepat seperti cahaya. Tapi saya tak hendak menuduh. Sebab seorang intelektual tak boleh gegabah berhipotesa. Sebab seorang pemuda pantang melontar isu. Sebab seorang muslim dilarang suudzon.

Tapi godaan rasa ingin tahu lebih besar dari hasrat untuk ditipu. Maka berita perhelatan itu saya cari ke segala penjuru.

Dan tertumbuklah mata saya pada postingan-postingan di laman Facebook seseorang yang setiap timeline-nya acap mendokumentasikan kegiatan Walikota.

Acara yang dinamai Pesta Rakyat tersebut digelar di Lapangan Pasir Sultan Jalil Rahmadsyah Kota Tanjungbalai. Berikut petikannya:

“Acara ini merupakan Janji dari Tim Pemenangan PAS SERASI sebagai Tim Pendukung Pasangan M.Syahrial SH,MH dan Drs.H.Ismail pada saat Pilkada yang lalu”.

Setelah menekuri keterangan di timeline, ternyata ‘Pesta Rakyat’ yang digawangi oleh Tim Pendukung Walikota (PAS SERASI) ditujukan pada simpatisan, kerabat, serta penyokong M. Syahrial dan H. Ismail pada saat pencalonan menuju kursi 1 Walikota dan Wakil Walikota Tanjungbalai. Berhubung saya warga aseli Tanjungbalai yang tidak beraliansi, tidak mendukung calon manapun, bukan penggemar Ayu Tingting, plus tidak pandai menikmati gemerlap hiburan. Walhasil saya hanya tercengang-cengang memandangi penduduk, dengan semangat 45 berbondong-bondong menghadiri pesta. Mungkin ada yang seperti saya?

Boleh dikatakan, Pesta Rakyat yang telah dihelat merupakan pesta kemenangan. Dan konon, disponsori oleh ayah dari Walikota terpilih. Sependek pengetahuan saya, ayah Walikota merupakan pengusaha besar di Tanjungbalai. Dan saya, di usia 15 tahun kala itu, pernah bertandang ke rumah beliau dalam rangka Manasik Haji tahun 2000.

Maka berlangsunglah sebuah pesta di jantung ‘kota’, disambut sukacita oleh warga yang rela membelah malam, bertahan dalam pelukan angin, pasrah dihimpit keramaian. Mereka memacu kencang kendaraan demi melihat artis.

Kota kecil ini terletak di penghujung Provinsi Sumatera Utara. Jauh dari hingar bingar metropolitan, terselip di antara tumpukan berita sensasional para politisi. Belum lagi kisah-kisah artis yang menduduki peringkat pertama chanel Televisi. Dus, warga Tanjungbalai sangat senang ketika didatangi para pesohor. Popularitas dan kemewahan mereka sungguh memikat ‘kepolosan’ masyarakat. Para pesohor itu, serupa gerhana matahari, bintang jatuh, atau tragedi seseorang yang entah siapa, ditabrak kereta api. Ditunggu, dikerubungi, diperbincangkan, diceritakan kembali. Tentu saja, setiap pencerita memiliki versinya sendiri.

Akan tetapi pada minggu malam Tanjungbalai bergoyang itu, acara MTQ tingkat Kecamatan Teluknibung ditutup sementara. Alasannya ada kelurahan yang masih harus menyelesaikan beberapa kategori lomba. Itu sebab MTQ yang serentak dengan Pesta Rakyat tersebut ditunda, untuk dilanjutkan keesokan harinya, Minggu pagi, 10 April 2016.

Meski demikian acara-acara keagamaan tetapi saja sepi peminat. Mereka terpinggirkan lantaran orang-orang jenuh dengan doktrin ‘masuk neraka’ yang diteriakkan penceramah.

Pada akhirnya, pesta kemenangan yang dipersembahkan oleh tim pendukung PAS SERASI, yang diselenggarakan di Lapangan Pasir milik rakyat Tanjungbalai, berjalan lancar jaya tanpa interupsi.

Selamat untuk Walikota, Selamat untuk Tim Pendukung, Tahniah kepada demokrasi!

Screenshot_2016-04-14-21-46-49_1

*saya tidak dapat menyebut berapa orang yang memadati Lapangan Pasir. Sebab pada caption poto screenshoot di atas, ambiguitas si penulis mengenai jumlah warga pun terlihat jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s