Nana pasti menikah, Ayah

Belakangan ini aku terpikir tentang teman hidup. Bukan karena gaung pernikahan yang semakin kencang, juga bukan karena membanjirnya kartu undangan jelang Ramdhan.  Pemicunya ayah. Ayahku kerap mendongeng perihal menantu. Lalu setelah itu beliau akan menanyakan hal yang sama: ‘sudah ada calonnya?’
Jika jodoh adalah misteri, lalu kapan ia datang menghadap ayah untuk mengkhitbah? Sampai bila ia memantaskan diri untuk menjadi seorang suami? Berapa senja lagi akan aku habiskan demi menantinya di sini?
Seiring berlalunya roda waktu, bisikan-bisikan berupa pertanyaan itu berkelebat di benak. Menderu-deru seperti knalpot motor balap. Semakin lama semakin terang bagai cahaya. Sungguh menyilaukan.
Kuusir mereka dengan membaca pemikiran (konon dicap terlarang) Tan Malaka, melahap buku-buku motivasi dan hikmah yang ditulis pengarang Timur Tengah. Kusibukkan diri dengan mendengarkan ceramah ustadz paforitku, KH. Zainuddin MZ serta sekali-sekali menikmati musik Country, lagu-lagu Rhoma Irama dan dangdut-dangdut klasik.
Aku juga menambah jam aktivitas, menjadikannya kamuflase agar tidak peduli dengan bisikan-bisikan tadi. Ketidakpedulian itu memang berhasil, tapi hanya sekejap.
Ketika tabir malam direntangkan, saat tak ada siapa-siapa selain senyap, maka bisikan-bisikan itu hadir dan sangat nyata. Mereka hidup dalam figura kosong, menjelma guling, berserakan di ranjang, tergantung di dinding-dinding. Pada akhirnya, semua bisikan tersebut berkumpul dalam satu wujud, membentuk wajah ayah: “Belum ada juga?”
Aku mampu bersikap sempurna terhadap cibiran semua orang yang menyoal kesendirianku, dan tanpa rasa bersalah menghubung-hubungkannya dengan usia.
Aku siap berhujjah dengan jawaban-jawaban ilmiah ketika mereka bertanya tentang teman hidup yang sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya.
Aku selalu berbesar hati (meski sering gagal) saat semua saudara membanding-bandingkan nasibku dengan beribu perempuan di luar sana, yang masih belia tapi bergelar mahmud alias mamah muda.
Aku tak pernah tergoda dengan rekan-rekan yang berlomba-lomba jadi istri di usia dini.
Sedikitpun aku tak terluka apalagi sakit hati dengan teman seumuran yang berhasil melepas masa lajang. Sudah beranak pula.
Aku malah lebih berkonsentrasi pada pendidikan, sebab aku ingin memperdalam ilmu lewat sekolah, sekolah dan terus sekolah. Prioritasku ada pada karir, melahirkan buku, memperdalam segala bahasa khususnya arab, inggris, mandarin dan jerman. Perhatianku terletak pada seberapa besar manfaatku bagi orang banyak.
Dengan kata lain, aku sanggup mendaki gunung, melewati lembah, berlayar di lautan bergelombang garang, menapak Sahara dengan kaki telanjang. Meski sulit akan aku coba hadapi segala. Kendati mustahil aku akan berusaha sedaya upaya.
Aku sanggup menantang dunia, menanggung sendirian terhadap resiko-resiko yang datang nantinya. Meski terantuk-antuk pada bebatuan tajam, aku sanggup berdiri dengan telapak penuh goresan. Aku sanggup. Masih sanggup.
Tapi membuat orangtua merintih perih, menanggung setiap inci beban, aku tak kan bersedia. Aku tak pernah siap untuk itu. Aku tak mampu.
Apalagi sejak ibu dilamar kematian, ayah lah yang selalu ada di hadapanku. Ayah adalah orangtua satu-satunya dalam hidupku. Aku takut bila ayah bersedih. Karena itu aku berusaha menempatkan Ayah di peringkat nomor satu, laki-laki yang harus kudengarkan nasihatnya, kudahulukan kehendaknya. Laki-laki yang menjadi alasanku untuk selalu memelihara harapan, mengikat semangat, dan meraih mimpi, apapun rintangannya, apapun yang terjadi, demi ayahku.
Kupikir seorang ayah, ayah di dunia manapun itu, belum merasa bahagia saat anak-anak mereka yang layak disebut matang secara usia, mental dan pemikiran, masih betah menjomblo.
Jadi lima hari lalu, saat ayah kembali mengusikku dengan pertanyaan tentang teman hidup, lidahku kelu, tak sanggup berkata-kata. Aku lunglai. Jangankan badai, angin sepoi pun seolah menjadi sandungan. Aku rebah pada ilalang yang hangus dimangsa siang.
“Ayah sabar dulu. Nana pasti menikah,” jawabku sembari tersenyum penuh semangat. Begitulah jawaban terpasrah yang keluar dari mulutku. Berusaha meyakinkan ayah dengan kata pasti meski aku tahu itu tak berfungsi.
Sementara jauh di sudut sana, di dasar hati ini, aku tersakiti. Aku terluka. Sungguh-sungguh terluka. Bukan karena aku marah dengan pertanyaan ayah yang lebih mirip desakan. Pun tak jenuh mendengar soalan-soalan yang dibunyikan hampir saban hari, sehingga lebih mirip alarm.
Hanya saja, aku marah dengan keadaan. Aku mencerca kesendirian. Pada akhirnya aku merutuki skenario yang telah ditetapkan atasku.
“Takdir Yah, takdir…” Ujarku kadang-kadang.
“Takdir la memang, tapi harus berusaha”, sambung ayahku.
Jangan ajari ayah tentang takdir. Ia mampu menjelaskan berbab-bab kisah perjuangan menemukan teman hidup padamu. Atau ingin menjelaskan pada ayah sifat ikhlas? Ayahku memiliki sejuta jawaban berikut bantahan tentang arti ikhlas. Selesai di situ saja? Tidak. Ayahku akan menceramahimu mengenai risalah Rasulullah, sahabat-sahabatnya, serta akhlaknya. Cukup? Cerita masih berlanjut. Ayahku akan menanyaimu tentang sosok yang tak dikenal di bumi, tapi sangat populer di langit, yang sangat mencintai ibunya hingga ia disebut sebagai ahli Sorga: Uwais bin Rabbah.
Barangkali kau akan mengatakan Uwais adalah pemain felem action? Maka bersiaplah diserang habis-habisan oleh ayahku.
Memang benar beliau bersekolah di SR (sekolah rakyat), itupun hanya sampai kelas III. Tapi beliau adalah predator buku. Melahap habis semua bacaan dari kelas ringan sampai kelas berat. Beliau sangat menyukai sejarah dan buku mengenai tokoh-tokoh.
Dengan mengandalkan SR yang tak berijazah itu, ayah telah mengelilingi ASEAN dengan kapalnya sendiri. Sebuah kapal besar bernama Bintang Pelangi.
Ayahku yang keras kepala itu, tak kan sudi mengaku kalah sebelum berhujjah. Ayahku akan mencelamu jika kau berani mengata-ngatai pendidikannya. Itu sebab ayahku mau muntah saat mendengar ribut-ribut perkara bebek nungging. Ia tersinggung ketika mendengar pernyataan ngeles si bebek “Eneng cuma tamat SD”.
Lantas bagaimana? Jurus paling ampuh untuk menyingkirkan kicauan ayah tentang menantu adalah menimpanya dengan cerita. Menambal isu dengan isu. Aku belajar jurus ini dari para Politisi kita. Mereka mahir melakukan itu.
Tentang mereka yang akan berlaga untuk memimpin Jakarta, tentang menteri Susi, tentang penerus pemimpin otoriter di Libya, juga tentang Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Di situlah ayahku mulai serius dan sibuk menyampaikan hasil bacaannya serta menjelaskan pandangannya.
Tema tentang menantu segera menguap. Aku pun selamat, setidaknya seminggu. Tapi sampai kapan aku bertahan dengan jurus tambal menambal isu?
Tuhan, ayah telah memberiku begitu banyak kebahagiaan yang tak sanggup kuhitung, tak mampu kubalas. Salah satunya saat di usia 15, ayah mengajakku berHaji ke rumahMu. Kendati aku tahu, Engkaulah yang mencukupkan rukun Islam ke 5 itu bagiku.
Tuhan, kebahagiaan ayah adalah kebahagiaanku. Saat ia berkata ‘mengelus dada jika mendatangi undangan pernikahan anak rekannya’, aku tahu itu bahasa bersayap. Selain pemarah, ayahku ahli berkata-kata satir.
Tuhan, ayahku pernah berkata bahwa ia akan merasa sedih kalau lelaki lain membawa anak perempuannya. Tapi ia pasti sangat bersedih lagi kalau menantu idaman bagi anak perempuannya tak kunjung tiba.
Kesepian tiba-tiba menusukku dari segala penjuru. Dadaku disesaki sesuatu yang tak dapat kupahami. Kulihat sekeliling, kudapati sorot mata garang ayah, kerlip harapan lewat mata teduh ibuku, serta lambaian tangan dari mereka yang mati dalam kesendirian. Semuanya hadir silih berganti, membentuk lingkaran yang memusingkan. Tiba-tiba air mataku menepi karena kesendirian yang tak tertanggungkan.
Tuhan, selain sebagai ayah, beliau merupakan ibu bagiku. Jadi Tuhan, tinggikan derajat ayah sebagaimana Engkau meninggikan derajat ibuku.
Tuhan, demi cintaMu pada Ayahku, demi jiwaku yang berada dalam genggamanMu, segerakanlah takdir itu. Tapi jika masih lama, jika kami masih membutuhkan waktu untuk saling memantas-mantaskan diri agar dapat bertemu dalam ridhoMu, segerakanlah kebahagiaan lain untuk ayahku. Segerakanlah kejayaanku, bantulah aku meraih mimpi-mimpiku.
Sebab selain cinta tulus dari almarhum ibuku, kejayaan anak-anaknya lah yang dapat membuat hati ayah megah hingga senyum ayah kembali merekah.

2 pemikiran pada “Nana pasti menikah, Ayah

  1. Rasany pengen meluk mbak…….aq juga tahu rasanya g sanggup liat ibu sedih klo tany q mantu nduk….klo cuma melwan kesendirian rasanya mampu…tp klo harus melihat kesedihan di muka ibu rasanya g sanggup ….
    Q nda baru saja berulang tahun ke 27…semkin bnyk dpt undangan teman sd smp sma kuliah yg menikah begitupun ortu makin bnyk dpt undangan nikah dr rekanya yg anaknya adlh temenq….
    Rasanya pengen kabur mbk…klo ditanya kpn nikah tetangga pada nanya kpn2 si itu sdh nikah lho mbk…itu jg itu jg…😢😢
    Dibalik kesulitan pasti ad jalan….
    Semangat mbk ad jalan Alloh yg indah buat kita insya Alloh tahun ini khitbah cuss nikah y mbk…
    Amiiiin ya Rabb😘😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s