Hello Saturday

Hello Saturday

Ini pekan terakhir di bulan Maret. Semoga bukan yang terakhir bagiku juga kalian. Aku masih ingin meraih asa, menggapai mimpi, kemudian berusaha sedaya upaya membuatnya jadi kenyataan. Meski tertatih dan tak tahu apa yang menunggu di depan, akan tetapi perjalanan menyibak misteri akan terasa sangat menakjubkan.

Beribu gundah pasti menghampiri, onak halus tentu tersebar di badan jalan, hawa angin tenggara membakar pipi, namun langkah pantang terhenti.

Di suatu ketika, ada saat mengambil jeda. Untuk sekedar merentang tangan di tengah padang, menyesap lelah di halte tak bertuan, mengusap peluh yang tak sudah, atau menyeka air mata yang menetes tiba-tiba.

Seperti sabtu ini, entah mengapa hatiku gerimis. Kupikir, aku butuh jeda sejenak. Iseng kususuri jalan kecil yang berada di areal gedung milik pemerintah. Lahan luas yang berisi bangunan separuh jadi dan berantakan. Sudah bertahun-tahun bangunan tersebut terbengkalai. Rencananya pemerintah akan mereinkarnasi pasar utama. Kenyataannya, pasar sentra yang dijanjikan untuk rakyat hanya bualan.

Meski jalan kecil tersebut tak semulus jalan beraspal, namun cukup layak untuk menapak. Banyak penduduk melaluinya untuk mempersingkat jarak menuju nasib, mencari jawaban dari sebuah soal, juga menemui cinta yang tak perlu pengakuan. Mereka melenggang pelan, ada juga berjalan tergesa-gesa.

Dan aku, menyeret langkah sembari menatap kosong ke ujung tembok yang membatasi areal pemerintah dengan pemukiman penduduk.

Terjadi begitu saja. Di jalan kecil itu aku terjatuh tanpa sebab. Terduduk dan mengaduh. Pergelangan kaki kananku terkilir. Aku pasrah, tak sanggup mengangkat wajah. Sakitnya menghujam jantung dan kepala.

Rasa sakit itu mengingatkanku tentang kau yang pergi tanpa kata, menghilang dari jarak pandang. Lalu, sayup-sayup kudengar kau telah bersama seseorang.

Rasanya sama, menghujam jantung dan kepala.

Di jalan kecil itu aku terduduk dan mengaduh. Aku pasrah, tak sanggup mengangkat wajah. Kakiku sakit. Hatiku sakit.

Aku butuh jeda sejenak. Menghalau perih yang masih menyerpih. Mengobati luka yang masih menganga.

Semestinya tak kan lama. Sebab aku masih ingin melangkah ke stasiun berikutnya. Menemukan jawaban atas segala tanya, mencari segala di sebalik rahasia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s