Menghadapi Customer Nakal

-Berteman dulu beberapa waktu, kemudian baru bisa menilai, seseorang tersebut termasuk jenis teman yang baik atau buruk, membawa manfaat atau hanya mudharat, meringankan atau memberatkan-

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya ini owner online shop Dynamic Square yang menjual make up, sepatu & sandal, kacamata, underwear, mukena, fashion beserta software dan hardwarenya. Dengan catatan, material atau bahan baku adalah pengecualian.

Customer saya berasal dari beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Utara seperti Kota Tanjungbalai, Kisaran, Medan, Batubara, Limapuluh dan Deli Serdang. Bahkan ada customer yang berasal dari luar Sumatera Utara seperti Kalimantan, Ambon dan Pekan Baru.

Selama 1 tahun 5 bulan membidani Dynamic Square, tentu saya hafal tipe dan perangai pembeli atau customer. Sebagian mereka menyebalkan, sebagian lagi menyenangkan. Beberapa di antaranya membawa ketenangan, sisanya merepotkan. Ada customer yang awet sampai sekarang, namun banyak juga yang menghilang. Kadang-kadang mereka membuat saya jejingkrakan bahagia, tapi tak jarang saya dibikin menganga, marah, ngomel sendirian, dan menangis dalam hati.

Untuk yang terakhir, tadinya saya merasa sudah kebal karena berkali-kali diajarkan pengalaman. Sebabnya, pembeli nakal banyak berkeliaran di area Dynamic Square. Mereka sopan berbicara, bahasanya manis tapi berbisa. Mereka bertanya-tanya seputar produk di etalase. Banyak hal, salah satunya apa manfaat kosmetik A, bagus atau tidak, berapa harganya, bagaimana cara mengaplikasikan kosmetik tersebut ke wajah, dan seperti apa efek sampingnya bila digunakan dalam jangka panjang.

Selanjutnya mereka meminta saya menghitung harga barang beserta ongkos kirim. Kemudian meminta nomor rekening bank untuk mentransfer total belanja yang sudah saya berikan. Sama halnya dengan pakaian, sepatu, underwear, juga kerudung/jilbab.

Umumnya, setiap toko mempunyai rules atau kebijakan yang harus disepakati oleh buyer. Mau tidak mau, suka atau tidak suka.

Jika berkenan dengan rules, silakan melanjutkan belanja. Jika keberatan, pintu toko terbuka lebar, dengan segala kerendahan hati buyer dipersilakan keluar.

Tujuannya, mengantisipasi pembeli nakal yang termasuk dalam kategori php (pembawa harapan palsu), suka ingkar janji, gemar berbohong, aktif bertanya namun lenyap seketika, hobi menawar sampai jauh di bawah modal.

Adalagi yang bikin gerah. Tipe ngotot. Mereka ingin barang orderan secepatnya sampai tujuan. Padahal, seller/owner telah mengusahakan ekspedisi sesuai permintaan buyer. Setidaknya menggunakan ekspedisi terpercaya seperti Si Cepat atau JNE.

Akan tetapi, ekspedisi tersebut masih memakai tenaga mesin dan manusia. Bukan tangan Tuhan beserta malaikat-malaikatNya. Oleh karena itu, kendala bisa berwujud bencana alam, kebakaran, atau transportasi yang mengangkut barang mengalami error system. Jadi bila ada keterlambatan setelah seller memberikan nomor resi, maka tanggung jawab ada pada pihak ekspedisi. Peran buyer sangat diharapkan di sini, agar kedua belah pihak tidak merasa dirugikan, tidak menimbulkan miskomunikasi, sehingga kerjasama dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Walaupun begitu buyer tak perlu cemas berlebihan sebab seller (contohnya saya) akan ikut berpartisipasi mengontrol dan mengonfirmasi keberadaan barang.

Barangkali, saya adalah satu dari sedikit olshop yang tidak menyusun apalagi menerapkan rules. (Tadinya) menurut saya, rules yang berisi poin-poin a-z dianggap menyeramkan, membuat buyer merasa tidak nyaman. Sebab sebagai orang yang pernah dan masih berstatus buyer, saya juga merasa demikian. Enggan berbelanja ketika melihat rules segunung. Apalagi jika rules bernada mengancam, lepas tangan, dan terkesan egois.

Nyatanya, rules tetap diperlukan. Hanya saja perlu ditulis dengan sopan, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami agar tidak terkesan angker. Rules juga harus ditulis secara detil, rinci, dan sederhana, supaya buyer dapat menangkap pesan seller dengan gamblang.

Nah, tulisan ini sampai pada intinya. Pada suatu ketika, seorang buyer perempuan belanja di olshop saya. Sebut saja namanya Raflesia Arnoldi. Karena nama samaran itu cukup panjang, maka saya singkat menjadi RA. Kalau cukup panjang, kenapa nama samaran tersebut tidak ditukar saja? Karena artinya pas sekali…

RA, teman dari teman saya, kelak menjadi teman saya. RA seorang Mahasiswi kedokteran di universitas swasta. Berkulit putih, cantik, tinggi. Ia punya rumah (rumah orangtua) di seputaran kota Medan, tapi ia memilih tinggal di kost-kostan.

Punya mobil Honda Brio terbaru, menggunakan Iphone 4, tidak fashionable, tapi entah kenapa paling update soal kosmetik atau skincare.

Pertemanan saya dan RA baru berjalan 3 minggu. Dari situ RA tahu kalau saya pemilik Olshop. Saban hari ia bertanya perihal kosmetik. Kata RA, ia sudah (lelah) mencoba beragam kosmetik mulai racikan dokter, kosmetika dari klinik kecantikan, skincare dari merk-merk terkenal hingga krim wajah abal-abal. Tak ketinggalan facial, peeling dan jenis perawatan lain.

Masalah RA cuma satu yakni jerawatan. Lantas saya merekomendasikan Tabita, cream kuning putih tanpa BPOM, tanpa expired date, tanpa daftar bahan baku.

Kira-kira setahun lalu, saya pernah menggunakan Tabita untuk mengatasi jerawat lebay dan kulit break out gara-gara menggunakan skincare ternama dari Korea. Saya mengetahui krim ini berdasarkan info dari beberapa teman yang berhasil lebih dulu memerangi jerawat.

Alhamdulillah setelah satu bulan pemakaian, jerawat saya hilang dan kulit wajah menjadi cerah. Karena itulah saya berani mengenalkan Tabita pada RA.

Setelah tanya sana sini, mengingat dan menimbang, akhirnya 2 minggu kemudian RA memutuskan membeli 1 set Tabita Reguler seharga Rp.750.000, yang terdiri atas toner, sabun, day cream dan night cream. DENGAN CATATAN: dibayar setelah barang datang. ARTINYA: pakai uang gue dulu.

Sayang sekali saya tidak menetapkan rules di awal terbentuknya Dynamic Square. Tapi baiklah, karena si RA teman saya, maka saya ikut. 1 set Tabita dibayar di belakang. Deal!

Tiga hari setelah pemesanan (pengiriman menggunakan jasa JNE Reguler), Tabita pun sampai ke alamat tujuan. “Kak, Tabita uda sampe. Makasih yaa…” Klikk. Ponsel dimatikan. Tak ada pembicaraan mengenai uang.

Karena prasangka yang bergegas dapat melenyapkan kebijaksanaan, saya pun tak hendak buru-buru menagih.

Keesokan harinya RA mengirimi saya pesan singkat bahwa uang Tabita akan dibayar Sabtu malam, di acara hajatan kawinan seorang teman.

Janji adalah hutang, dan berhutang membuat banyak janji.

Tapi RA teman saya. Baiklah, janji saya turuti. Cepat-cepat saya usir cemas yang merambati pikiran meski sebenarnya sangat sulit menanamkan kepercayaan ketika kau hidup di tengah lautan manusia yang mengagungkan kebohongan.

Detik demi detik berlalu menuju janji Sabtu malam, RA semakin rajin ber-bbm dengan saya. Setiap hari ia menanyakan perihal kulit wajahnya yang sedang menggunakan Tabita. Sungguh saya jenuh. Sangat jenuh. Dalam hati terlintas sesal teramat dalam, kenapa dulu saya merekomendasikan Tabita ke RA. Bahkan terselip kesal berlipat ganda, kenapa dulu saya bertemu dan berteman dengan RA.

Ya salaam.. Selain teman dan pihak seller, saya juga merangkap dokter pribadinya. Dokter tanpa biaya konsultasi.

Enam hari berlalu sejak kehadiran Tabita di kost RA. Tibalah saat yang ditunggu-tunggu, saya harus menagih janji itu.

Dan benar saja, di akhir acara hajatan teman, tepat pukul 10.30pm, RA memberikan uang 750rb. Thanks RA, karena sudah kooperatif meskipun membuat saya menunggu lama.

Sejatinya aktivitas jual beli harus memiliki beberapa fondasi yaitu saling percaya, saling menguntungkan, saling terbuka, dan saling melegakan. Jika satu fondasi saja tidak terpenuhi, maka jual beli tentu mengalami ketimpangan. Salah satu pihak akan merasa dicurangi. Di sinilah alasan pentingnya rules harus ditulis dan diterapkan.

Akan tetapi, selang 3 minggu setelah RA membayar uang 750rb di penghujung sabtu malam, peristiwa Tabita kembali berulang. RA memesan day cream Tabita, masih dengan catatan.

Saya sudah meminta RA untuk mentransfer uang seharga day cream tersebut (250rb) ke rekening saya: Mandiri, BRI, BCA. Tapi RA beralasan bahwa rekening tabungan yang ia miliki hanya BNI.

“Kakak aja ambil uangnya di kost ya. Kalo transfer dari BNI ke rekening lain, kena charge lagi.”

Wallahi saya nelangsa. Baru kali ini saya bertemu teman bersifat demikian. Yang saya tahu, seorang teman tak akan pernah merepotkan, memberatkan, merugikan teman sendiri.

Baru sekali itu juga saya bertemu customer yang merepotkan. Padahal customer saya sebelumnya, tak pernah bertatap muka, alamat rumahnya jauh di seberang lautan (Batam), tak pernah telpon-telponan, serta sangat jarang sms-an, tapi fine-fine saja mentransfer uang 1,8 juta.

Kasus RA membuat saya bertanya-tanya, apa salahnya mentransfer 250rb lebih dulu? Bukankah kami berteman dan berdekatan rumah? Apa dia tidak percaya pada saya? Bukankah saya telah pernah memberanikan diri (mengabaikan resiko) dengan mendahulukan uang 750rb untuk membeli 1 set Tabita pesanannya?

‘RA temanmu, Na. Ikuti sajalah’ bisik suara di ujung sana.

Meski dengan berat hati, permintaan RA masih juga saya turuti. Day cream Tabita saya pesan ke supplier. Pengiriman menggunakan jasa JNE OKE dengan estimasi 3-4 hari sampai ke alamat tujuan.

Singkat cerita, Tabita tiba sesuai perkiraan. Karena saya belum ada waktu ke kost-nya, sampai sekarang uang 250rb masih tersimpan di kost RA, terhitung 1 bulan sejak kedatangan. Saking lamanya, barangkali tumbuh putik di keempat sudutnya.

Pagi di bulan Februari, bbm saya berbunyi. Seharian RA bertanya-tanya mengenai jenis Tabita lainnya. Ternyata ia ngin mengorder lagi: day cream Tabita, sabun, dan loose powder. Totalnya 650ribu.

Jenis Tabita yang ia pesan sudah saya totalkan berikut biaya kirim serta uang 250ribu dari pembelian Tabita yang ia order sebulan lalu. Plus, saya ingatkan untuk mentransfer uang lebih dulu ke rekening yang ia mau: Mandiri, BRI, BCA.

Stok sabar saya terbatas. Jual beli macam ini harus dihentikan. Kalau RA masih tidak berniat mentransfer lebih dulu, maka orderan saya batalkan. Tak peduli dengan untung yang akan saya peroleh dari penjualan, tak peduli kemana nantinya ujung pertemanan. Saya senang berbisnis, saya senang pada uang. Akan tetapi dalam hidup ini, ada yang lebih penting dari itu yakni: ketenangan.

Faktanya, RA tak memiliki I’tikad baik sama sekali. Ia malah terus menagih kapan pesanannya dikirimkan.

Bercermin dari kejadian itu, saya membuat keputusan final. RA saya hapus dari friend list BBM. Mengenai uang 250rb, secepatnya akan saya ambil di kost-nya.

Lalu, kesimpulan apa yang dapat dipetik dari kejadian menyebalkan ini?

1. Pilihlah teman berkualitas

2. Dua orang teman di kala jatuh jauh lebih baik dari milyaran teman di kala happy

3. Tulis dan terapkan rules dalam setiap urusan

4. Miliki prinsip hidup, dan teguhlah memegang prinsip itu

5. Ketenangan jiwa sangat besar manfaatnya daripada segudang harta namun membawa sengsara

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s