Menyoal Aurat (muslimah)

Perihal menutup aurat, kiranya telah pernah saya tuliskan di timeline facebook. Tapi rasanya kurang afdol jika tidak berbagi di blog pribadi.

Tulisan ini tercipta karena ramainya gunjingan, soalan, perdebatan tentang ‘wajib atau boleh’ atas perempuan memakai jilbab.

Saya berusaha menuangkan hasil pemikiran ini dengan segala kerendahan hati, tanpa tekanan dari pihak manapun, tidak ditunggangi oleh aliran dan organisasi lokal, nasional maupun internasional, juga tidak karena aliran dana dari sesiapapun.

Sekedar berbagi namun tidak untuk mewacanakan kembali. Menyusun benang pikir barangkali dapat dijadikan diskusi. Sebab sebuah pendapat bukan harga mati. Mestilah ada sanggah dan hujjah atasnya.

Allah menjamin kebebasan berpikir bagi setiap orang. Setiap orang memiliki cara pandang sendiri untuk melihat sesuatu dari berbagai sisi. Karena itu saya tidak memaksa saudara agar sepakat dengan saya. Silakan diperdebatkan, mungkin saudara memiliki pemikiran yang dapat menambah informasi dan memperkaya pengetahuan.

Menutup Aurat: Jilbab vs Khimar

Beberapa waktu lalu, tak sengaja saya membaca sebuah tulisan singkat berlatar belakang poto Nazwa Shihab, di laman facebook seseorang. Kira-kira bunyinya demikian: “Islam tidak mewajibkan perempuan islam berjilbab…”

Saya tidak tahu betul apakah kalimat tersebut murni pernyataan Nazwa Shihab atau pernyataan orang lain dengan melekatkan gambar presenter kondang itu sebagai backgroundnya. Yang pasti, di sini saya tidak sedang menyoal seseorang.

Sejatinya saya hendak menyetujui kalimat di atas. Bahwasanya benar, Islam tidak mewajibkan perempuannya berjilbab. Akan tetapi dalam Al-Quran diterangkan, perempuan mukmin diperintahkan menutup aurat.

Seperti bunyi QS. An-Nuur: 31 “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Apakah berjilbab tidak sama dengan menutup aurat?

Melihat konteks dan praktek jilbab dewasa ini, definisi jilbab sebagai penutup aurat seringkali disalah arti bahkan direduksi sehingga sangat kerap kita dibingungkan dengan penggunaan kata jilbab tersebut. Alih-alih syar’i, jilbab malah kehilangan makna.

Misalnya, perempuan yang menutup kepala (rambut) dengan sehelai pashmina atau kain satin (seperti saya) akan dikatakan berjilbab kendati pakaian yang ia kenakan berupa full press body, menerawang dan (masih) membentuk lekuk tubuh. Padahal, penutup kepala disebut dengan khimar atau kerudung. Sedangkan definisi jilbab tidak seremeh itu.

Perlu dipahami bahwa jilbab, bentuk jamaknya jalaabiib artinya pakaian yang lapang/luas, memiliki makna yang lebih dalam yaitu pakaian yang lapang, longgar, dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Sedangkan penutup kepala atau kerudung, disebut khimar.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya lebih suka menyebut: ‘islam memerintahkan menutup aurat’. Pijakan berpikirnya adalah, sebagian besar masyarakat khususnya muslim/muslimah, dapat memahami bagian tubuh mana saja yang disebut aurat.

Lalu, mengapa muslimah yang menutup aurat (berkhimar atau berjilbab) beberapa di antaranya masih gemar bermaksiat?

Berjilbab, tidak berkenaan dengan kapan hati terniat, pun tidak berhubungan dengan prilaku. Terlepas dari rasa terpaksa atau tidak ikhlas, menutup aurat merupakan ciri hamba yang taat. Jadi ketika seorang muslimah menutup aurat, maka ia telah mengikuti perintah TuhanNya.

Memang, perintah menutup aurat tidak terdapat dalam rukun islam atau rukun iman. Akan tetapi, setiap muslimah yang telah bertauhid ‘laa ilaaha illallah’, tentu akan menaati perintahNya. Setiap muslimah yang meyakini dan memahami rukun iman yang salah satu bunyinya ‘beriman kepada kitab Allah’, tentu akan mengimani al Quran serta mengamalkan isinya.

Lantas, salahkah perempuan yang berusaha keras menutup aurat kendati dalam keadaan penuh cela?

Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang bebas nilai. Sebab manusia adalah makhluk yang sering khilaf, bisa alpa, tempatnya salah dan lupa.

Cukuplah seseorang dikatakan beriman ketika ia mempercayai serta tidak meragukan Allah, malaikatNya, kitab_kitabNya, para utusanNya, hari akhir, dan beriman kepada qadar baik dan qadar buruk.

Sungguh, saya tidak akan mengatakan bahwa seorang Nazwa Shihab tidak beriman hanya karena dia tidak berkerudung atau menutup aurat. Barangkali tahajjud dan dhuhanya lebih baik dari saya. Atau sholat wajibnya selalu tepat waktu dari saya. Hidup ini adalah sebuah proses yang terus akan berlanjut selagi masih bernafas. Hidayah bisa datang kapan saja. Tugas manusia hanya mengingatkan, bukan memaksakan. Sebab itu, usah membuat islam menjadi seram dan menakutkan.

Namun jika menutup aurat harus menunggu ‘saat sempurna’, maka ia akan menunggu sampai hari dimatikan dan dibangkitkannya manusia. Dengan kata lain, ia akan menunggu selamanya, hingga nyawa terlepas dari raga.

Meski demikian, menutup aurat tidak hanya dimaksudkan sebagai ‘pembungkus’ tubuh, tapi merupakan bekal untuk menjadi pribadi yang berakhlak dan beradab. Artinya, ketika telah menutup aurat, saat itu juga kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab menjaga lisan, pandangan serta tindakan, dari perbuatan maksiat, amoral dan tercela.

Namun jika saudara memilih tidak menutup aurat, silakan. Saya tak rugi, Tuhan apalagi. Bahkan jika saudara ingin berbuat kerusakan di muka bumi, sedikitpun kekuasaan Tuhan tak pula berkurang.

Tak seorangpun bisa lepas dari perbedaan pendapat kendati ia minta mengasingkan diri ke puncak gunung. Jadi, akan selalu ada orang-orang yang bertentangan dan tak sepemahaman.

Namun jika saudara tak mampu mencari solusi, sebaiknya diam. Jika saudara tak sanggup menjadi penengah, setidaknya berhentilah menambah kisruh. Sebab tujuan kita bukan bagaimana bisa sepakat, melainkan bagaimana tidak bertikai dan berselisih. Sebab hidup ini terlalu pendek daripada sekedar mengumbar permusuhan.

Di kesempatan ini saya merasa perlu mengutip sepenggal bait dalam lagu Moderenisasi yang ditulis oleh Rhoma Irama:

‘memakai jilbab rapi sopan dan beradab/dan ini perintah Tuhan, dipersoalkan.

pakaian mini yang membangkitkan birahi/dan mengundang kejahatan, tak keberatan…’

Akhirul kalam…

Hidup menyediakan ruang kebebasan. Silakan memilih dan menjalankan prinsip. Jika saudara berpendapat bahwa berbikini sepanjang hari merupakan hak asasi?  Silakan laksanakan. Jika saudara bersepakat menutup aurat merupakan kewajiban, mari bersama saya, terus belajar, saling mengingatkan dan melangkah pada kebenaran, dengan berimam pada Al-Quran. Kenapa? Karena ketika pada manusia datang perintah membaca (Iqra’), di situ tersirat perintah memahami, di dalam kata memahami tersirat perintah mengamalkan.

Wassalam

2 pemikiran pada “Menyoal Aurat (muslimah)

  1. Masih heran jika ada muslimah yang masih mengatakan, “apa hukumnya menutup aurat?”, padahal menutup aurat sendiri tidak memberikan dampak apapun kepada Allah Ta’ala apabila mereka melaksanakan atau tidak. Hal menutup aurat tidak lain tujuannya adalah untuk menjaga “diri” manusia2 tersebut supaya tidak terjatuh kedalam “maksiat” yang lebih dalam.

    Jadi halnya “menutup aurat” adalah sebagai penghalang agar tidak terjerumus kedalam bentuk “zina”. Wallahua’lam

    Nice post mbak.

  2. Hi assa, syukran for visited this site.

    Kesimpulannya, dalam hidup ini, akan selalu ada orang2 yang menyoal apa yang telah Allah tetapkan.
    Semoga kita dikuatkan dalam iman ya. Dikaruniai ilmu tinggi dan bermanfaat agar senantiasa menyebarkan kebenaran berdasarkan kitabullah dan sunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s