Mempersoalkan Ketaatan

Lagi-lagi jilbab dipersoalkan. 

Apa sebab? Gara-gara sejumlah massa melakukan aksi untuk menghentikan festival belok kiri yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, jilbab pun ikut terdzolimi, jadi sasaran hujatan. 

Ya, di antara massa tersebut ada sebagian yang mengenakan jilbab. Sontak saja jilbab dikait-kaitkan dengan ukuran kecerdasan. Bahwa mereka yang berjilbab seharusnya malu membuat ‘onar’ dengan melakukan demonstrasi pada acara yang dianggap kiri.

Namun tak sekali ini jilbab terseret-seret perbincangan sumir. Bahkan sebelumnya pun jilbab telah ditasbihkan sebagai pakaian teroris.

Padahal berjilbab adalah satu hal, sedangkan kecerdasan atau kearifan, adalah hal lainnya. Usah memaksakan diri untuk membandingkan sesuatu yang tak pada tempatnya.

Perlu dipahami bahwasanya jilbab merupakan pakaian yang diperintahkan Tuhan untuk menutup aurat perempuan. Ikhlas tak ikhlas, mestilah dilaksanakan. Sebab menutup aurat bukan ukuran kearifan dan kecerdasan, akan tetapi suatu bentuk ketaatan. 

Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang yang berjilbab akan meraih semua sisi kesempurnaan. Saya hanya menegaskan bahwa agama menghendaki kesempurnaan jiwa para pengikutnya, salah satunya dengan menutup aurat.

Kenapa mencerca pakaian taqwa (jilbab) seseorang hanya karena dia ‘tidak cerdas’? Maukah saudara sekalian saya sebut jahiliyah karena tak berjilbab?

Kenapa mengatai jilbab seseorang hanya karena prilakunya menyimpang? Sudikah saudara sekalian saya sebut pelacur karena tidak berjilbab? 

Kenapa saudara yang ‘konon’ orang sekolahan bisa terjebak dengan simbol-simbol demikian? Gemar menuding, namun menafikan hakikat. Apakah demokrasi tak mengajarkan tentang pakaian menutup aurat?

Barangkali demokrasi alpa atau sengaja mengaburkan antara jilbab dengan prilaku, hingga saudara sekalian kecele alias keblinger.

Saya mafhum tentu saja. Mengingat kita sedang berada di tengah-tengah modrenisasi dan globalisasi yang disponsori penuh HAM dan demokrasi.

Akan tetapi, tudingan saudara pada jilbab yang dikenakan perempuan Islam bukan ciri manusia yang berdemokrasi. Terlebih lagi jika saudara memproklamirkan diri sebagai seorang intelektual. Sebab yang saya tahu, seorang intelektual tidak akan mengatakan lebih daripada apa yang diketahuinya.

#sekian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s