Namanya Mafitri. Wajahnya oriental (nenek dari pihak ibunya berasal dari Beijing, menjadi muallaf sejak menikah), cantik, kulit putih bersih, rambut sebahu, tinggi semampai, perawakannya riang dan santai.

Mafit, begitu saya memanggilnya. Sekitar tahun 1998, kami bertemu di Liberty English Course (LEC), salah satu tempat kursus bahasa inggris di Kota Tanjungbalai. Kami saling menyapa, berkenalan, bertukar nama, kemudian pertemanan terjalin begitu saja, selama 1,5 tahun.

Suatu waktu, kami janjian ke tempat kursus, ngobrol tentang guru dan sekolah, hangout berdua mengelilingi kota. Masuk gang kelinci, keluar lagi dari gang kelinci.

Namanya anak tahun 80’an, tempat nongkrongnya mudah terdeteksi. Gak jauh-jauh dari sekolah ke tempat kursus, atau dari tempat kursus ke sekolah. Paling banter radius 3km dari tempat kursus, yaitu rumah teman kursus.

Terlebih lagi kota kecil kami tidak memiliki Mall, Bioskop, atau tempat hiburan lainnya. Kala itu kota kami berbentuk kotif alias kota administratif. Sebuah wilayah yang dimekarkan dari kota induknya yaitu Asahan. Otomatis, pertumbuhannya masih harus dihandle oleh kota induk. Seperti bayi, harus disusui, dikeloni, disuapi. Butuh perhatian ekstra.

Itu sebabnya kadang kami bisa terdampar di kebun rukam milik pak haji, atau nyolong buah mangga tetangga. Pokoknya anak 80’an selalu serba bisa, dan tabah. Seperti hujan bulan Juni…

Tadi hanya intermezzo generasi 80’an. Sekarang kembali ke Mafit. Ya, doi tipe cewek tangguh yang gak suka ngerepotin. Kalau ada PR, cueknya minta ampun. Gak ada uang, bisa jalan ke mana-mana. Ada masalah keluarga, masih bisa seyum dan tertawa. Hampir tidak pernah curhat urusan pribadi, apalagi urusan hati.

Air matanya tak pernah tumpah. Sebab Mafit paling lihai berkamuflase, menyamarkan kesedihan dengan senyuman. Meski demikian, saya dapat merasakan kegelisahannya lewat tatapan kosong yang hadir sebentar. Akan tetapi kegelisahan tersebut berbicara lewat kepulan asap yang sulit lenyap.

Mafit seorang perokok berat. Soal ini sudah saya ingatkan berkali-kali, namun tak pernah digubris. Ia hanya mendelik, tersenyum singkat, lalu kembali menghisap sebatang Sampoerna. Lagi dan lagi, sampai tak sebatang pun tersisa di kotaknya.

Tapi Mafit tak pernah mensugesti saya merokok. “Maaf ya dinn”, katanya ketika akan menyalakan rokok.

Tahun 1999, saya pindah kursus ke Yayasan Vijaya, sementara Mafit tetap bertahan di LEC. Otomatis frekuensi pertemuan kami semakin jarang. Sebenarnya jarak tempat kursus kami masih berdekatan. Tapi jadwal belajar saya terus bertambah hingga waktu bermain pun ikut tersita.

Selain itu, di LEC Mafit mengambil kursus jam malam, sedangkan saya kursus jam petang. Ketika saya sudah harus pulang ke rumah, Mafit baru mulai belajar.

Awal tahun 2000, kegiatan saya semakin padat karena harus intens mengikuti manasik haji, check up kesehatan, fitting dress panjang, membeli segala keperluan ibadah untuk 40 hari, menghafal doa dan bacaan sewaktu berhaji. Jangankan untuk hangout, mengikuti kegiatan belajar mengajar pun jadi terkendala. Saya harus bolak-balik izin pada pihak sekolah, mencatat dan mengulang pelajaran yang tertinggal.

Lambat laun kesibukan membuat pertemanan semakin berjarak. Akhirnya komunikasi kami benar-benar terputus. Saya tak pernah lagi melihat Mafit di LEC atau di tempat ia biasa ‘mangkal’.

Hingga secara tak sengaja saya bertemu saudara Mafit yang juga tetangga di komplek perumahan. Ia bercerita tentang keluarganya, sementara saya memilih jadi pendengar budiman. Di situlah saya tahu kalau ia adalah keponakan Mafit.

Singkat cerita, saya meminta nomor telepon Mafit dan segera menghubunginya. Kemudian kami membuat janji bertemu: tanpa hari, tanpa tanggal, tanpa tahun. Yang jelas, secepatnya. Lewat percakapan telepon tersebut Mafit juga mengatakan kalau dia ingin datang ke Medan, bertemu saudaranya sekaligus bertemu saya. Begitupun saya, jika dapat waktu senggang, akan pulang ke Tanjungbalai dan menyempatkan diri bertandang ke rumahnya.

Apapun itu tentu saya sangat senang mendengarnya. Sebab kami telah terpisah selama 16 tahun, namun dipertemukan oleh Tuhan dengan tiba-tiba, meski hanya lewat suara.

Hari berlalu dengan cepat. Sudah satu bulan sejak perjanjian itu, tapi tak ada tanda-tanda kami akan bertemu.

Begitulah, terus saja begitu. Janji menguap bersama banyu pagi. Diterbangkan angin sampai ke langit. Hingga kemudian Tuhan mempertemukan kami dengan cara paling pahit, cara yang tak pernah kami duga sebelumnya.

Penghujung Januari 2016, di ruang tamu keluarga, Mafit terbujur kaku. Perban tebal melilit kepala, pelipisnya menampakkan beberapa jahitan, mata kiri menghitam dan bengkak, hidung dan mulut masih mengeluarkan darah.

Mafit telah pergi di usia 32. Ia terlempar dari boncengan sepeda motor. Menurut saksi mata di sekitar kejadian, sepeda motor yang ia tumpangi melaju sangat kencang di tengah hujan deras. Ia dan temannya terjebak ke dalam kubangan jalan. Ia terlempar jauh dari titik jatuh, kepalanya membentur aspal, dan meninggal ditempat, seketika itu juga. Sedang temannya langsung dilarikan ke rumah sakit, dalam keadaan koma.

Sungguh kepergian yang sangat tragis, sekaligus reuni yang paling mengiris…

Manusia tak pernah tahu kapan maut menjemput. Oleh sebab itu, selagi jantung masih berdetak, diri masih bernafas, mari segerakan melakukan amal terbaik. Salah satunya dengan bersilaturahmi. Agar kita saling menulis catatan, menorehkan rekam jejak tentang sebuah pertemuan.

Mafit, utukmu kulantunkan doa beserta Al-Fatiha. Semoga Allah menerima amal ibadahmu selama di dunia.

Selamat jalan, dan baik-baik saja di sana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s