Ketika Saya Berada Di Pesta

“Cepat nyusul ya kak…”

Para readers tentu sudah dapat membayangkan sekaligus menerka, kalimat di atas ditujukan kepada siapa dan mengapa. Begitupun jawaban saya masih sama: “aamiinn, doain ya…” , jawaban terpasrah abad ini. Sekaligus menjadi senjata andalan saat terjebak dengan topik diskusi yang tak pernah sepi: pernikahan.

Malam minggu kemarin, saya menghadiri acara pernikahan seorang teman, perempuan. Usianya sekitar 4 tahun di bawah saya. Kira-kira 26. Ia (akhirnya) menikah dengan lelaki yang telah ia pacari selama kurang lebih 2 tahun.

Pestanya bisa dibilang sederhana. Diadakan di halaman rumah yang disulap seperti panggung. Ada pelaminan beserta kursi singgasana pengantin, buket-buket bunga, pentas kecil bagi para biduan menyumbangkan suara, meja persegi panjang yang berisi hidangan bagi para tetamu dan undangan, kursi-kursi plastik, juga dimeriahkan oleh blitz kamera dari telepon selular, bukan DSLR. Mereka bahagia. Saya pun ikut bahagia seraya mendoakan segala hal terbaik pada mereka.

Hujan turun perlahan. Awalnya hanya gerimis tipis. Lalu angin bertiup semakin kencang membuat lampu penerangan yang tergantung di langit-langit teratak bergoyang-goyang. Surai janur yang bergesekan dihembus angin, terdengar seolah-olah menciptakan melodi La Paloma yang didendangkan dengan sangat perih oleh Julio Iglesias,

Una canción me recuerda
Aquel ayer
Cuando se marchó en silencio
Un atardecer
Se fue con su canto triste a
Otro lugar
Dejó como compañera
Mi soledad…

Kemudian hujan turun dengan derasnya. Mengguyur pesta, membasahi jalanan, riuh mengetuk-ngetuk genteng rumah. Sejenak pesta dihentikan. Iringan lagu terpaksa jeda. Para tamu saling berpandangan sembari sibuk meributkan hujan. Pemilik keyboard bersungut sebab peralatan musiknya terkena percikan. Pengantin yang singgasananya persis di depan saya, memilih bergandengan tangan, tersenyum-senyum riang. Mereka berdiskusi tentang segala. Suara mereka sayup-sayup, pelan bagai bisikan.

Hujan malam minggu menjadi berkah bagi mereka yang lara, juga bagi petani yang merindukan hujan untuk mengairi lahan. Barangkali di sana juga terselip sebuah ide. Sebuah gagasan. Tapi hujan malam minggu mungkin saja sebuah ‘musibah’ bagi sepasang remaja yang terpaksa menghentikan perjalanan, berteduh di bawah atap sebuah warung yang sejak sore sudah tutup.

Bagi saya, hujan tetap penuh dengan pesona yang menyimpan rahasia sekaligus luka. Seperti malam yang menyimpan sejuta misteri sekaligus kengerian. Tapi hujan malam minggu, kerap berhasil membuat sebagian orang merasakan sensasi yang tak terdefenisikan.

Sejatinya saya tidak begitu menyukai pesta. Akan tetapi saya berusaha menikmatinya. Beruntung, lagu-lagu yang disuguhkan para biduan cukup asik di telinga. Membuat saya betah dan sesekali ikut berdendang.

Di tengah riuh hujan, para undangan saling bertukar pendapat tentang segala ‘pernak-pernik’ di pesta tersebut. Saya ikut mendengarkan, sesaat kemudian tenggelam dalam imajinasi sendiri. Saya membunuh waktu dengan memperhatikan wardrobe, style, sepatu, make up, hair do, dan trend jilbab para undangan. Mengomentari mereka, mengganti ini, menukar itu. Memakai ini, menanggalkan itu. Hanya dalam hati. Anyway, saya selalu tertarik dengan fashion. Setiap orang boleh menjalankan profesi apapun, tapi mereka tetap memiliki bakat yang selalu ingin diwujudkan. Begitupun saya: I’m passion in fashion.

Di pesta ini, saya tidak datang sendirian. Karena masih single, saya bebas memilih datang bersama siapapun. Masih partner favorit (karena gak ada lagi sih): adik saya, wartawan Metrotvnews.com.

Rupanya hujan malam minggu hadir sekejap. Hanya numpang lewat. Sudah pukul 10.00 malam kala itu, namun acara belum berakhir. Saya memutuskan pulang, meninggalkan teman-teman yang masih ingin menikmati pesta hingga di penghujung acara.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s