Story of Culinary

Indeed, saya tidak hobi memasak tidak pula jago memasak. Tapi kondisilah yang menyebabkan saya mesti berkutat dengan bunyi peralatan dapur yang beradu, bau asap dan minyak sekaligus tenggelam dalam kegaduhan pasar, meracik bahan-bahan, kemudian mengolahnya jadi masakan. Merepotkan but I have to do. Alasannya: saya suka makan, suka ngemil.

Lantas, kenapa gak beli aja? Oke, I did. Tapi kalau harus membeli setiap hari, berapa uang yang harus saya keluarkan untuk semua itu? Berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk pergi ke toko/warung? Dan paling penting adalah, seberapa yakinkah saya dengan kebersihan bahan-bahan dan ‘peralatan perang’ yang digunakan oleh baker atau pemilik toko?

Dengan demikian, saya harus belajar memasak meski membutuhkan waktu lama untuk mencapai sempurna. Saya harus letih, sekalipun itu berarti harus melewati tahap-tahap gagal paling ngenes dan dramatis. Termasuklah di-­bully, ditertawakan, dikomentari panjang lebar. Padahal, memegang alat-alat dapur baru saya lakukan tahun 2008, totally. Sebelumnya saya hanya terjun ke dapur khusus untuk makan, mengganggui ibu dan asisten rumah tangga, merebus mie instan, memasak air untuk bikin kopi, memanaskan makanan sisa semalam, serta menggoreng nasi.

Mengenai bumbu dapur, segala software dan hardware-nya, usah ditanya lagi. Sama parahnya. Totally blank . Sampai teman saya berkomentar, bagaimana kalau saya menikah nanti. Lu mau masak apa? Bisa-bisa suami berpaling karena istrinya gak bisa masak.

Well, memang betul, sebagai istri harus melayani suami dengan baik. Tapi memasak bukan bagian dari rukun islam yang jika ditinggalkan akan berdosa. Saya sepakat istri harus pinter memasak demi Kau dan si buah hati (lagu lawas ini ya. Di era Pance Pondag), tapi jika ternyata si istri gak bisa masak, suami juga harus sabar dan mencari solusi. Sebab seorang istri tak hanya berfungsi di dapur, tapi ada yang lebih penting dari itu: melahirkan generasi out standing dan terdidik, untuk membangun peradaban demi dunia yang lebih baik. Jika di kemudian hari saya bisa memasak, semua itu dikarenakan oleh sebuah keinginan menaklukkan resep-resep yang kerap bersliweran, baik di blog maupun timeline medsos. Intinya: penasaran (seperti judul lagu Rhoma Irama).

Sepanjang perjalanan belajar itu, masakan yang saya hasilkan sering berantakan. Amat kerap. Mulai dari rasa, look, dan garnish yang bisa disebut: tidak memiliki nilai seni, nyaris memalukan. Kalau masak sayur, selalu keasinan dan gak ada variasi. Kalau masak ikan, sering gak enak. Kalau masak cake, berujung bantat, keras bin padat, dan lumer seperti kerupuk disiram air.

Suatu kali saya bikin cake kukus. Resepnya berikut poto-potonya saya temukan dari grup masakan di facebook. Melihat bahan-bahan yang sederhana plus cara buat yang cukup mudah, pantas saja saya tergoda. Dengan semangat saya langsung gowes sepeda menuju warung. Dibelilah bahan-bahan tadi sembari membayangkan betapa enaknya cake yang akan saya buat nanti. Sponge cake kukus 3 layer dengan warna berbeda, disusupi rasa susu kedelai dengan taburan ceres sebagai garnisnya, benar-benar menggugah selera.

Begitulah hidup kerap mempermainkan. Cake yang saya idam-idamkan tak sesuai kenyaataan. Rasanya getir, teksturnya padat bin keras. Malah bisa buat ganjel pintu loh. Im serious! Walaupun begitu, cake gagal tadi tidak terbuang percuma. Ada kolam lele yang selalu siap menampung segala. Mereka girang minta ampun. Loncat ke kiri dan ke kanan, saling berebut menyomot cake. Barangkali di dalam hatinya, saya ini seorang putri baik hati yang berteman dengan semua binatang.

Guys, dalam dunia masak-memasak, kegagalan adalah sebuah proses pembelajaran menuju mahir. Sementara dalam dunia kompetisi, kegagalan adalah kedunguan yang dipelihara. Efeknya sih sama: pahit. Tapi dari kegagalan tersebut, kita harus tetap berusaha, lagi dan lagi. Jangan pernah menyerah pada kegagalan untuk meraih apa yang kita tekadkan. Kalo ngomong sih emang paling pinter ya.

Apapun itu, tidak ada baker atau tukang masak atau ahli apapun yang sukses dengan tiba-tiba. Pasti mengalami jatuh bangun (seperti lagu dangsut kristina), up and down di setiap kejayaannya. Cicero, orator dan politisi handal di zaman Roma juga pernah putus asa. Doi bahkan memerintahkan asistennya mengepak semua barang-barang, bersiap-siap pindah ke Athena. Pulang kampung. Menerima nasib: bahwa ia tidak bisa menaklukkan Roma dan mencapai imperium.

Akhirnya, dalam kondisi galau itu ia tersadar, ketika memutuskan menyerah, maka ia bukan lagi siapa-siapa. Keesokan paginya Cicero bangkit dengan bugar, merapikan diri menuju tablinum, merancang ulang taktik dan strategi. Semangat hidupnya pulih seketika.

You know what? Karena ketika kita memutuskan menyerah, kita bukan lagi siapa-siapa.

Sekarang saya sudah bisa memasak. Meski ada beberapa masakan yang saya hasilkan tidak otentik, setidaknya saya bisa membuat sesuatu yang saya inginkan. Tidak hanya ngiler menatap makanan khususnya cake dan roti (im a breadmaniac) yang berbaris rapi di etalase. Tinggal googling sana sini, ketemu resep simpel dan menarik, segera eksekusi. Angkat dan sajikan. This is it!! kata Farah Quinn. Usah khawatir soal rasa, sudah banyak testimoni yang beredar dan bisa dipercaya.

Disclaimer: im not a chef. Otomatis bukan ahli. Im a beginner, a student forever and ever. Bisa memasak,bukan berarti saya ngebet ke dapur. Saya sangat wellcome ketika lidah dimanjakan oleh restoran kuliner se Indonesia, sedunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s