Racun Siapa Membunuh Mirna

Kejahatan seperti racun yang menyebar dengan cepat, kebaikan seperti obat yang membutuhkan waktu agar efeknya dapat terlihat.

Ketika mendengar kata sianida, saya langsung teringat pada tokoh rekaan Paulo Coelho dalam novelnya Winner Stands Alone. The Winner Stands Alone sama sekali bukan kisah percintaan. Tapi Paulo, hendak menggambarkan kepada kita tentang kesuksesan sebagai racun yang penuh godaan.

Igor Malev, seorang pengusaha sukses di bidang telekomunikasi, sangat mencintai Ewa. Demi perempuan ini, ia rela melakukan segalanya, sekalipun itu berarti menghancurkan sebuah kehidupan. Namun ada yang mulai menghilang, atau bisa dikatakan telah lenyap dalam pernikahannya dengan Igor. Di pertengahan jalan, pernikahan mereka yang sebenarnya sangat sempurna dan menjadi impian banyak pasangan, Ewa memilih meninggalkan Igor karena merasa telah menjadi tawanan kesuksesan dan ambisi seorang veteran perang.

Kabut masalah mulai menyelimuti. Kebingungan mengitari sepanjang detik. Kesendirian menghantui di setiap denyut nadi. Hamid Hussein adalah pelarian yang tepat. Ewa pindah ke London dengan hanya membawa sebuah tubuh lelah dan segunung masalah. Lalu menikah dengan Hamid Hussein, designer papan atas. Ewa sendiri tidak mencintai Hamid, tidak pula berusaha hendak memanfaatkan kejayaan Hamid untuk menerangi kegelapannya. Sebab Ewa telah terbiasa dengan kekayaan, popularitas, dan gelimang harta. Kejayaan susungguhnya tak memerlukan pembuktian.

Sayangnya bagi Igor kepergian Ewa merupakan pengkhianatan yang harus dibalas setimpal dan meyakinkan, apapun resikonya. Ada banyak cara lain untuk membuat sebuah dunia tamat, menghancurkan satu semesta, dan wanita yang ia tuju akan langsung memahami pesannya begitu korban pertama ditemukan. Kemudian Igor menyusun rencana ‘sederhana’ yaitu mengirimkan sinyal kematian pada Ewa.

Di bagian akhir novel ini, Igor membunuh salah satu korbannya dengan zat beracun yang memengaruhi organisme dalam waktu singkat. Peristiwa dalam novel ini tentu saja membangkitkan kembali ingatan saya pada Munir Said Thalib, pejuang Hak Asasi Manusia dan aktivis Kontras yang dibunuh pada tahun 2007 silam, dengan zat sejenis dan memiliki fungsi yang sama: pembunuhan cara cepat namun sulit dideteksi.

Igor Malev, menggunakan zat beracun: hidrogen sianida. Dengan aroma kenari, dan sama sekali tidak terlihat berbahaya. Zat tersebut diselipkan ke dalam kartu ucapan. Ketika kartu dibuka, hidrogen sianida terjadi kontak dengan udara, lalu berubah menjadi gas, dan dalam sekejap aroma kenari akan memenuhi ruangan. Lalu korban sadar jantungnya berdegup kencang, ia tak sanggup lagi berdiri, dan terduduk lemas. Gejala berikutnya adalah rasa pening luar biasa dan kesulitan bernafas diikuti rasa ingin muntah. Pada tahap ini, jika dosis yang diberikan sedikit, setidaknya korban dapat bertahan selama 5 atau 6 jam. Ia tersadar, rubuh, tapi masih dapat merasakan sakit yang luar biasa. Akan tetapi dalam kasus Igor Malev, ia memesan agar zat tersebut diberikan dosis sekuat mungkin. Maka dalam hitungan menit paru-paru si korban akan berhenti bekerja, tubuhnya kejang-kejang, jantungnya akan berhenti memompa darah, dan akhirnya berujung dengan kematian. Tanpa rasa sakit. Penuh belas kasih. Manusiawi.

Kemudian kehidupan berjalan seperti biasa. Satpam yang masih terjaga, pemerintahan dipenuhi kombinasi orang-orang pandir tapi memiliki nafsu besar untuk berkuasa, ekonomi lebih sering tidak stabil, dan ahlul bait korban yang pada awalnya dengan penuh semangat menanti kasus segera terungkap, akhirnya kehilangan gairah dan tertunduk lemah. Kasus terendap sekian lama, seieirng berjalannya waktu, kemudian terlupakan. Igor Malev dan pembunuh Munir dengan mudah melenggang bebas.

Sementara itu di sebuah café yang terletak di bilangan ibukota Jakarta, seorang perempuan tergeletak dengan mulut penuh busa. Beberapa saat kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir seketika setelah meminum sedotan pertama es kopi jenis Vietname. Senin 6 January 2016, Wayan Mirna Salihin telah pergi, menyisakan sederet panjang tanda tanya sekaligus misteri. Dugaan pertama, adalah pembunuhan dengan menggunakan sianida.

Siapa pembunuhnya? Sampai saat ini belum diketahui. Akan tetapi dari hasil penelitian yang diperoleh dari Pusat Laboratorium Forensik (PUSLABFOR), ditemukan kandungan zat beracun di dalam kopi yang diminum Mirna. Racun yang diduga sianida tersebut mengendap di lambung, dan dalam sekejap membunuh targetnya. Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan, kadar racun yang menewaskan Mirna lebih kuat ketimbang racun yang merenggut nyawa Munir.

Arsenik, sianida ataupun hidrogen sianida merupakan alat pembunuh favorit yang digunakan pelaku kejahatan untuk melenyapkan targetnya. Selain prosesnya berlangsung sangat cepat, racun mematikan ini juga tidak sulit didapat di pasar bebas. Sianida biasa digunakan di pabrik baja, serta dalam produksi pakaian, kertas dan plastik, sedangkan arsenik sering digunakan untuk membasmi hama pada tanaman juga dunia pertambangan. Tapi yang jelas, keduanya merupakan jenis racun yang sangat ampuh untuk mengacaukan sel menerima oksigen dalam tubuh.

Zat beracun ini juga merupakan pilihan Hitler ketika ia dan Eva Braun bertekad mati di dalam bungker. Ia bahkan memerintahkan dokter pribadinya (Dr. Morrel) merancang sianida (berupa cairan berwarna kuning) menjadi kapsul-kapsul kecil berbahan kaca tipis, dan kemudian ia berikan pada seluruh staf-staf terdekatnya.

Saking cepat dan kuatnya efek yang ditimbulkan racun ini, hingga Hitler menyebutnya sebagai alat bantu melepaskan penderitaan, dan ‘hadiah’ perpisahan yang lebih baik yang dapat mengantarkan ke tempat peristrahatan abadi.

Hari-hari ini tampaknya membuat pekerjaan rumah pihak kepolisian semakin menumpuk. Di mana kasus ‘papa minta saham’ belum tuntas, kemudian kasus Chiropracty yang memakan korban, ditambah lagi kasus Mirna.

Satu hal yang perlu diingat, Mirna bukan ‘tokoh’ penting yang memegang posisi decisison maker dalam pemerintahan. Mirna bukan aktivis seperti Munir, tetapi ia di-munir-kan. Ia rakyat biasa, bukan politisi. Ia tak punya musuh, hanya lawan dan beberapa saingan. Kalaulah semudah itu Mirna bisa dilenyapkan, lantas bagaimana dengan kita?

Tak perlu berspekulasi tentang apa motif di balik tewasnya Mirna. Sebab hanya akan memperkeruh suasana yang dapat menyebabkan kasus ini semakin jauh dari rumusannya. Namun sebaliknya, kita percayakan kisruh ‘sianida’ pada pihak berwenang agar melakukan tugas sebaik-baiknya sehingga masyarakat dapat kembali menghirup udara tanpa khawatir dihantui iblis berkedok manusia.

Oleh karena itu polisi harus terus bergerak mengusut kasus penyebar maut. Berbekal bukti-bukti yang diperoleh, semoga kasus mengerikan ini bisa diungkap tuntas dan tandas. Sebab kejahatan seperti racun yang menyebar dengan cepat, jangan biarkan ia menyelimuti negeri ini, jangan ada Mirna-Mirna lain yang mengalami nasib serupa. Jangan lagi!

 

* DF. Norris adalah Penulis, Pemerhati Politik. Ia juga Alumni Ilmu Politik USU, mantan bendahara DPD Gerindra Sumatera Utara, dan Founder Sanggar Pelangi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s