Tarawih I

Sungguh, ramadhan tahun ini saya ingin beribadah sepenuh hati. Melaksanakan sholat Isya dan tarawih plus witir berjamaah di mesjid atau musholla. Sebab, saya punya segudang pinta yang telah saya rancang jelang ramadhan. Tahun ini, wishes list yang saya susun terlampau banyak, sementara ibadah padaNya jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya berusaha beribadah sebaik-baiknya agar seluruh pinta diperkenankan. Setidaknya sebahagian.

Tarawih pertama saya laksanakan di Musholla kampung seberang. Tepatnya di daerah Namorambe Pasar II Deli Serdang. Saya lupa melongok nama musholla itu. Tapi mushollaya kecil, tidak indah, tidak memiliki nilai seni, dan gersang. Warna cat dominan hijau dan krem dengan kaligrafi memanjang di setiap dinding. Sebenarnya kedatangan saya tak sengaja. Tapi karena saat itu saya masih beres-beres rumah kontrakan hingga tak sempat pulang ke rumah kontrakan lama, maka saya putuskan tarawih di sana saja.

Di kampung ini, merupakan calon tempat tinggal saya dan adik-adik. Dua hari lagi kami akan mengungsi ke sini. Sebuah perumahan dengan suasana semi hutan seperti yang telah saya ceritakan pada lembar sebelumnya.

Saya pergi dengan nenek-nenek yang baru saya kenal malam itu. Saya lupa menanyakan nama dan umurnya, tapi beliau merupakan penghuni lama di perumahan Kuta Baru. Sudah satu tahun beliau tinggal di kampung ini. Tapi baru ramadhan tahun ini beliau bisa melaksanakan ibadah sholat tarawih. Alasannya, doi tak punya teman untuk diajak ke mushalla yang letaknya 100 meter dari area perumahan. Selain itu jalan setapak menuju musholla sepi dari pejalan kaki, ditambah lagi minimnya lampu penerangan jalan.

Jadilah malam itu kami –saya, si nenek dan cucunya- berjalan kaki menuju musholla. Saya membawa senter, dan si nenek membawa sajadah. Malangnya, saya harus berjalan sangat-sangat pelan demi mengimbangi irama langkah si nenek. Saya sudah berusaha menyamainya, tapi si nenek dan cucunya kerap tertinggal di belakang. Mereka berjarak satu depa di belakang saya. Walau begitu, kami sampai juga di musholla, dengan keadaan saya yang berkuah peluh di sekujur tubuh.

Di musholla, anak-anak sudah ramai menunggu. Mereka duduk sambil cekikikan, bercerita entah apa. Tapi saya yakin mereka merencanakan sesuatu. Mereka akan memberi kejutan pada imam dan para makmum dewasa. Yaitu, teriakan ‘aamiin’ yang cempreng, menggema dan memusingkan kepala. Suatu kedegilan yang tak terhindarkan.

Tiba saatnya sholat Isya. Jantung saya nyaris copot sebab mendapati suara imam yang sangat menyakitkan telinga. Padahal salah satu sarat imam adalah memiliki suara yang bagus dan enak didengar. Selain itu pelafalan ayat-ayatnya aneh banget. Harkatnya timpang, panjang pendek huruf tidak sesuai, dan beberapa ayat diucapkan sembarangan, bahkan salah. Kesalahan itu terdapat pada surat Al-Ikhlas dan Al-‘alaq. Dan ketidaksesuaian tersebut muncul di setiap imam membaca ayat. Herannya tak ada yang menegur. Mereka mengamini kesalahan itu dan patuh mengikuti gerakan sholat yang sangat cepat seperti dikejar pelor. Saya merasa sholat di bawah tekanan teroris atau beribadah dalam keadaan perang. Di mana jamaah harus fokus pada sholat namun tetap tak melupakan bom dan peluru yang mengancam setiap waktu. Begitupun untuk sholat tarawih dan witir. Baru selesai membaca al-fatiha, tiba-tiba sudah ruku’. Baru membaca tahyat akhir, tiba-tiba imam sudah mengucapkan salam. Dengan demikian, seluruh rangkaian ibadah malam itu, berakhir pukul sembilan (21.00 wib).

Saya melirik sekeliling. Tak ada yang protes, tak ada yang rewel, tak ada yang nyinyir. Apa boleh buat. Karena sudah terlanjur, saya ikut saja ke mana imam hendak berlabuh. Sejatinya saya telah menaiki bahtera yang salah. Tapi bahtera yang saya tumpangi merupakan bahtera terdekat di kampung ini, bahkan bahtera satu-satunya. Mau tidak mau saya harus menaikinya untuk menghadapMu.

Karena itu, perkenankanlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s