Maaf

Entah mengapa meminta maaf sangat sulit dilakukan. Seolah-olah ada bisikan ‘saya tak bersalah’, sebab itu tak perlu meminta maaf. Selalu saja. Jadi ketika bisikan itu menyelinap dan merambat di benak, saya ikut memelihara, merawat dan menyiraminya air hingga subur. Lalu seiring waktu yang bergulir, tak ada sepatah kata maaf terucap. Kemudian niat meminta maaf tadi tertimbun tumpukan schedule kerja, terkubur dalam-dalam oleh deadline, jadwal meeting, rute berkeliling dan jalan-jalan, serta segenggam lelah yang belakangan ini sering menyergap.

Anyway, pernyataan maaf di Indonesia lebih kepada tradisi, tak ada signifikansi. Orang bisa saja minta maaf ketika akan melontarkan pertanyaan, meminta maaf ketika meneriakkan protes, meminta maaf ketika menyatakan penolakan atau tidak setuju, meminta maaf ketika menuntut haknya, dan berbagai pernyataan maaf yang lahir sia-sia. Meminta maaf menjadi ritual basa-basi yang sungguh tak bisa saya mengerti. Itu sebabnya saya enggan meminta maaf. Ya, begitulah.

Saya pun berlalu bersama detik berikutnya, karena merasa meminta maaf tak begitu diperlukan, tak menjadi prioritas, dan bukan sebuah urgensi. Semangat meminta maaf telah menguap ke udara, terbang bersama debu-debu Sinabung yang dibawa angin panas. Lantas saya begitu saja melupakan kalimat-kalimat yang sebelumnya telah saya rancang ketika hendak meminta maaf.

Memang, saya memiliki level kesabaran yang sangat sedikit. Akan tetapi kemarahan saya hanya seketika. Setelah beberapa hari, kemarahan itu mencair dengan sendirinya. Saya bukan pendendam. Sama sekali tidak berniat membalas perlakuan buruk orang lain pada saya. Untuk apa? Selama Tuhan masih bergelar Maha, saya tak perlu repot-repot mengotori tangan untuk membuat orang lain menderita. Tuhan Maha Tahu, maka saya tak perlu berpeluh demi mendapati orang lain tersiksa. Saya percaya, hukuman Tuhan jauh lebih pedih dari luka yang telah mereka torehkan. Saya hanya perlu menunggu, mendengar, dan menyaksikan sebuah kejadian. Karena itu, niat meminta maaf, was cancelled.

Tapi, dalam lingkaran habblumminannas, pasti terhantar khilaf dalam kata serta salah dalam tingkah. Barangkali saya merasa sudah berbuat baik dan benar, sementara orang lain, langsung teriris dan tersinggung. Barangkali juga saya merasa sudah melakukan yang sempurna, tapi orang lain tidak bisa menerima cara saya. Begitu sebaliknya. Bukan mustahil hal demikian bisa terjadi. Karena bagi setiap orang, defenisi ‘baik dan benar’ tentu berbeda-beda. Cara pandang orang terhadap sesuatu juga berbeda. Otomatis, perselisihan yang dingin kerap tak terhindarkan. Mungkin masih saling bertatap muka dan bertukar kabar, tapi saling mengutuk, mencaci dan membenci di dalam hati.

Jadi, apakah meminta maaf sebuah keharusan? Pada akhirnya saya mesti mengatakan ‘Ya’. Sebab hakekatnya, meminta maaf bukan perkara benar atau salah, bukan karena penjahat pantas dimaafkan atau si pemberi maaf adalah jelmaan malaikat, tapi karena kita layak mendapatkan kedamaian.

Selama jantung masih berdetak, selama nadi masih berdenyut, selama jiwa masih bernafas, maka tak ada manusia yang bebas nilai. Tak ada manusia yang abai dari khilaf, salah dan dosa. Saya pun demikian. Kita tak tahu kapan jiwa kembali pada Sang Pemilik takdir, kita tak pernah tahu kapan perjalanan ini berakhir. Maka jelang Ramdhan, izinkan saya merapatkan tangan, memohon maaf pada kawan-kawan, atas perkataan yang kerap melukai, atas tindakan yang acap menyakiti. Semoga kita semua dapat melalui Ramadhan tahun ini dengan hati yang bersih, mampu melaksanakan serangkaian ibadah sebagai pelengkap bekal menuju hari penghabisan, bisa menghadapi godaan dengan bermartabat, dapat menyikapi petasan dan mercon dengan kemarahan yang terkendali, dan Inshaallah, dapat bertemu dengan Ramadhan berikutnya.

Setelah minta maaf, bagaimana suasana hati ini?

Rasanya lega sekali. Seperti ketika membuka jendela di waktu fajar, dengan wajah tengadah pada sang surya yang cahayanya masih memancar malu-malu di cakrawala, kedua tangan terentang lebar, dan nafas berhembus perlahan mengikuti irama detik yang berjalan. Seperti melepaskan berjuta ton pemberat yang menghimpit pikiran dan perasaan. Setelah itu, maka cuaca menjadi lebih sejuk dari biasanya, jalanan menjadi mulus bebas hambatan, langkah pun terasa ringan

Akhirnya, padaNya saya bersimpuh dan memohon ampunan. Semoga segala doa dan pinta segera diperkenankan. Aaminn…

Ps:

Buat ayah, ibuk, abah, kakak, dan semua adek-adek, here… Kak Nana minta maaf.

Kepada kawan lain, jika jarak masih di jalur tempuh dan waktu masih lapang, saya akan usahakan bertandang. Namun jika waktu terasa singkat dan jarak di depan kita terbentang lebar, maka perkenankan saya menghantar maaf lewat udara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s