Ketika ayah bertablet

Seiring berputarnya roda zaman, orang-orang semakin memahami bahwa hal-hal praktis yang tak memakan banyak waktu, merupakan sebuah urgensi. Secara bertahap, mereka beralih pada sesuatu yang cepat, praktis, mudah dan dapat menghemat detik. Walhasil, apa-apa yang tradisional dan dianggap ketinggalan zaman, tergantikan oleh sesuatu yang baru dan up to date.

Begitupun dengan sebuah informasi. Orang-orang semakin membutuhkan kabar paling segar, terbaru, dan yang lebih penting, dapat dinikmati sambil lalu, di antara kesibukan dan terbatasnya waktu luang.

Dan ayahku yang kece badai itu, jatuh dalam pelukan globalisme. Ia adalah penggemar setia Televisi berita, pembaca kabar politik, dan penikmat buku-buku sejarah dan biografi. Kegilaannya pada membaca, dapat membuatnya lupa masa. Ia bisa terlambat makan, mandi dan bahkan terlewat jadwal sholat. Kalau sudah larut dengan aktivitasnya, ia berubah menjadi manusia yang tak peduli pada apapun di sekelilingnya. Ia juga menjelma jadi manusia pemarah. Ia tak suka berisik apalagi keributan.

Tapi jujur saja, aku lebih menyukai ayah dengan kacamata bertengger di hidungnya, duduk di ‘kursi kerja’, dan tenggelam pada surat kabar, buku, atau chanel favoritnya. Rasanya mengagumkan! (Sebenarnya aku hendak mengatakan bahwa dengan tafakkurnya ayah pada buku-bukunya, aku selamat dari pembicaraan mengenai karir dan pernikahan). Kalau sudah begitu, ayah tak boleh diganggu. Tak ada satupun dari kami yang berani mengusik ayah dengan suara keras, langkah yang gaduh, bahkan untuk menegurnya kami mesti berpikir berkali-kali.

Rupanya, akhir-akhir ini ayahku sering stress. Apa pasal? Buku bacaanya sudah habis. Tak adalagi buku atau bacaan yang bisa dibaca dan didiskusikan dalam benaknya. Rupanya selama ini ayahku hanya mendapatkan informasi dari televisi dan surat kabar. Doi butuh bacaan yang lebih menantang, serius dan menggugah. Ditambah lagi, buku-buku yang ada di lemari habis dilahap bahkan sudah dibaca berulang-ulang.

Melihat kenyataan itu, abah (abang nomor satu yang tetap single, ganteng, sentimentil, dan sedikit menyebalkan) berniat membelikan ayah sebuah tablet, agar ayah bisa mengakses segala informasi yang ia butuhkan. Tak berapa lama niat itu terwujudkan. Kini, dengan alat elektronik sebesar buku tulis, dunia ada dalam genggaman.

Jauh sebelum ini, kami sering bercerita tentang manfaat tablet. Saat itu ayah kelihatan tak tertarik. Katanya tablet tak perlu dimiliki, hanya buang-buang uang dan tak ada signifikansi. Kami juga berbicara tentang sosial media. Sebuah laman pribadi yang memungkinkan kita bercakap-cakap dengan menteri, presiden, bahkan tokoh-tokoh di belahan dunia. Sayangnya doi tak antusias dengan semua itu. Tapi tak ada yang bisa menghempang laju globalisasi bukan? Dunia semakin berkembang, dan tentu saja kita membutuhkan sesuatu untuk mengimbangi perkembangan itu, agar tak terpeleset apalagi sampai tersesat di jalan. Dan lelaki seperti ayahku, layak untuk itu.

Ayahku, adalah laki-laki sederhana, dan akan selalu menjadi laki-laki sederhana baik dengan atau tanpa tablet. Tak ada yang berbeda dengan ayah baik sebelum dan sesudah bertablet. Sebab baginya tablet bukan sebuah gaya hdup, melainkan makanan untuk pikiran. ‘Charge otak’, meminjam istilah alm. Munir, pejuang Kontras yang kepergiannya masih menjadi teka-teki sampai sekarang.

Kini ayah semakin akrab dengan tablet. Ia tak lagi uring-uringan sepanjang hari karena kehabisan bahan bacaan. Aku bisa melihat ayah di gambar yang dikirimkan Lili, adik paling kecil di keluarga kami. Ayah duduk di ‘kursi kerja’, bertelanjang dada, memakai sarung, kacamata bertengger di hidung, dan mata yang serius menekuri tablet.

“semua situs berita yang ada di playstore sudah didownload kak.” Cetus Lili ketika aku memintanya mengunduh semua situs berita di tablet ayah, untuk memudahkan beliau mengetahui kabar dunia.

Ayah pasti menikmati ‘permainan’ barunya. Seperti dulu, ia kembali larut pada berita dan informasi yang sekarang semakin mudah ia dapatkan.

Iseng-iseng aku membuka facebook. Di sana, ada notifikasi permintaan pertemanan. Kulihat sebaris nama tanpa foto profil: Nurdin Ritonga.

Ps:

Menggemparkan sekali. Ternyata ayah sudah punya BBM, Facebook, dan Twitter. Aku tau sekali ini ulah Minggus dan Lili. Ya Tuhan…, saatnya aku harus berhati-hati.

C360_2015-03-18c-20-51-b47v-256IMG_20150318_2025c12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s