Sebagai doa

Aku ingin mengenangmu sebagai doa, kuuntai dalam sujud panjang, merapal namamu dalam-dalam, membiarkan diri larut bersama tangis, nostalgia serta kedutan-kedutan kecil kegelisahan yang tak pernah padam.

Kita pernah mengukir berlembar-lembar rencana, melahirkan generasi, membangun peradaban. Kita juga pernah menyimpan asa untuk menapak waktu, dan menjadi tua bersama. Rupanya kekecewaan menyelimuti sebelum tumbuh dan berkembang. Perjalanan pun terhenti menjelang petang, saat matahari menjelma bola merah yang ditelan laut jingga.

Aku ingin mengenangmu sebagai doa yang kusimpul dalam cerita usang. Barangkali beginilah seharusnya berdamai dengan kepedihan. Menyudahi parut luka, tanpa dendam, tanpa kesal. Menyapa cinta dengan selaksa gairah, menyusun peta perjalanan berikutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s