Pindah

Lingkungan tempat kami –saya dan kedua adik- menetap kini, cukup adem dan relatif aman. Hampir tiga tahun kami mendiami rumah kontrakan milik perempuan berjubah sampai ujung kainnnya menyapu tanah, berkerudung lebar dan panjangnya hingga ke pusar. Saya lebih nyaman memanggilnya ‘nenek lampir’. Tentu saja dia tidak mengetahui sebutan itu. Karena di depannya saya berlaku manis, sabar, syahdu seperti wajah para gadis sedang merayu kekasih mereka yang cemburu.

Di rumah ini kami merasa oke. Suasananya tidak terlampau berisik, sebab terletak di dalam gang kelinci yang lebarnya kira-kira dua rentang tangan orang dewasa. Lebih detilnya, selebar satu mobil Avanza dan sepeda motor yang disejajarkan. Rumah ini tidak jauh dari pusat kota. Hanya butuh waktu 30 menit dengan kecepatan 45km/jam untuk sampai, saat kondisi jalan berada pada pukul 9 – 11 pagi, pukul 2 siang – 4 sore, dan pukul 8 malam – 5 subuh. Tapi jika saat traffic jam, butuh waktu 45 atau 50 menit dengan kecepatan yang sama. Meski demikian, jika dikomparasikan, waktu yang dibutuhkan untuk sampai jauh lebih singkat daripada menunggu kehadiran kamu.

Memang luas rumah ini tidak seperti rumah impian saya, rumah sederhana saja dengan material kayu jati, bertingkat satu dengan furnitur klasik tapi berkesan mewah dan elegan, ada kolam renang, dan halamannya setengah luas lapangan sepak bola. (kalau dipikir-pikir, gila ya impian itu. tak apalah selagi gratis. Yekan? Lapipula tak mustahil untuk diwujudkan. Saya yakin bisa didapatkan).

Rumah ini bisa dibilang lumayan bagus. Luasnya kira-kira 100m2. Sudah memenuhi standar rumah sederhana Indonesia (tanpa SNI) yaitu rapat-rapat, berjajar seperti pulau-pulau, dantidak rapi. Memiliki 2 kamar tidur, satu kamar mandi, satu dapur, dan satu ruang tamu. Terdapat lima jendela, pintu depan, tanpa pintu belakang. Seandainya ada penggerebekan dari kepolisian karena penghuninya terlibat korupsi, narkoba, atau menghamili anak dara tanpa seizin orang tuanya, maka penghuni rumah bisa langsung disergap tanpa memberinya kesempatan menutup muka apalagi melarikan diri. Untungnya kami tak pernah berurusan dengan polisi. Sebandal-bandalnya, hanya masalah ‘sepele’ seperti SIM, Helm dan STNK.

Dan 99% rumah nek lampir ini bercat putih baik dinding dan porselen, sementara 1 persennya berwarna cream, bisa ditemukan pada lantai kamar mandi. Pemiliknya konon, menyukai dunia medis. Ia pernah menuntut ilmu di akademi kebidanan. Karena satu dan lain hal, ia tak sempat mengikuti sertifikasi menjadi bidan berijazah pun tak mendapatkan identitas di lembaga ber-flat merah. Jadi, meski ambisi tak berhasil diraih, setidaknya sudah memiliki rumah bercat putih. Begitu barangkali. Sekedar memenuhi hasrat terpendam agar tak termimpi-mimpi dan mengigau saat tidur.

Minusnya, di area perumahan gang kelinci ini, kondisinya seperti lini masa sosial media (twitter). Gemar cuit-cuit, menganut sistem bisik-bisik tetangga (seperti lagunya Bunda Elvie Sukaesih), langsung nyamber begitu ada berita meski tak jelas sumbernya. Sesegera mungkin jadi topik yang seolah-olah layak diperbincangkan, dikritisi, dibahas dan dianalisa setajam silet. Pembicaraan yang nyaris tak ada signifikasi, seperti twitter. Tapi sebagian besar dari mereka menikmatinya, sebagian lagi (sebenarnya Cuma satu orang) jadi pendengar budiman seraya mencatat dalam hati, kemudian diam-diam menjadikan mereka tokoh-tokoh dalam fiksi. Kau bisa menebak siapa satu orang itu kan?

Selain itu, terlampau banyak ‘anak bawang’ berumur antara 3 – 10 tahun. Anak-anak bertelanjang kaki yang bermain di bawah terik mentari, berkejaran dalam pelukan hujan, berlari-lari di kengerian malam. Saking banyaknya, saya pernah merasa tinggal di sekitar panti asuhan. Dikerubuti anak-anak bermata liar dan nyalang, berteriak, memekik, tertawa terbahak-bahak menunjukkan barisan gigi depan yang berwarna kehitaman, sesaat kemudian menangis karena bertengkar merebutkan mainan.

Saya sempat terpikir jangan-jangan mereka tidak memiliki orang tua. Rupanya saya nyaris betul. Mereka, adalah anak-anak yang memiliki orang tua, tapi seakan-akan tak memiliki orang tua. Mereka berkeliaran di saat bulan belum sepenuhnya sadar bahwa hari hampir fajar dan bermain di saat malam dikuasai oleh hewan-hewan nokturnal dan mata-mata yang awas untuk memburu mangsa. Begitulah yang (banyak) terjadi pada nasib anak-anak (Indonesia) masa kini.

Anak-anak di gang kelinci hampir selalu menciptakan kegaduhan yang mustahil diredam, dapat membuat kepala mendidih dan jantung berdentang tak beraturan. Mereka bermain motor-motor butut yang menyuguhkan kebisingan setara bunyi pesawat saat take off. Bunyi ini dihasilkan oleh gesekan roda ke jalan berbatuan. Mereka juga gemar bermain hide and seek (benteng, prancis, sembunyi) yang berujung pada perang mulut karena salah satu teman mereka berlaku curang. Memaksakan diri bermain bola seperti Lionel Messi, lengkap seragam jersey. Mencabuti tumbuhan-tumbuhan yang bagi mereka aneh karena tak seperti tumbuhan pada umumnya. Menangkap binatang apa saja yang ada di depan mata. Biasanya kucing menjadi korban paling sering. Dan banyak lagi kelakuan mereka yang menyebalkan.

Untuk menyebutnya kelewat batas, rasanya berlebihan atau mungkin tidak pantas. Sebab anak-anak tidak terlahir menjadi monster, tapi orang tua lah yang membiarkan mereka bermetamorfosis menjadi demikian. Kami –saya dan 7+5 bersaudara, termasuk dari segelintir anak-anak yang beruntung karena memiliki orang tua dengan kombinasi sikap yang ampuh meredakan gelora ‘kenakalan’ ini. Karenanya saya tak buru-buru menjastifikasi apalagi memarahi.

Meski sulit mengatasi tingkah polah mereka karena level kesabaran yang saya punya cukup sedikit, tapi saya hampir selalu berhasil. Walau kadang-kadang satu dua kali pernah kebobolan. Sebab itu, saya –terlebih lagi adik perempuan saya, berniat mendiami rumah dengan suasana hutan. Hanya ada suara berisik pepohonan yang dahannya bergesekan dipermainkan angin, suara auman singa yang asik bercanda dengan lelakinya yang patuh dan tak terpikir untuk poligami apalagi selingkuh, bunyi desis ular yang lapar, gemericik air dari sela-sela batu yang rapi ditata Tuhan, kicau burung-burung meningkahi pagi, serta gumam kesal kelilawar karena tak mendapatkan buah kenari.

Niat itu, lebih kepada kejengkelan kami pada suara berisik yang berasal dari anak-anak bawang, diperparah lagi oleh suara mesin lelah dan deru knalpot rombeng dari 5 sepeda motor tetangga, yang melintas satu depa dari teras rumah.

Tak disangka, Tuhan mencatat niat –dari hamba teraniaya- yang terlontar seketika. Maka setelah menderita dari kebisingan yang tak berkesudahan itu, sebentar lagi kami akan pindah rumah, entah kali ke berapa.

Mari tepuk tangan. Bahagia? Bisa dikatakan demikian. Meski suasana hutan yang kami inginkan tak sama persis dengan yang kami bayangkan. (Gila! Makhluk waras mana yang sudi bertetangga dengan singa?).

Semestinya kami pindah ke rumah abah, (abang saya berusia 35 tahun, yang single, yang belum nikah, tapi sudah memiliki beberapa investasi salah satunya rumah) perumahan ‘KPR’ disubsidi pemerintah, yang baru dan sedang dalam tahap pembangunan. Berada di kawasan sepi, sedikit jauh dari pemukiman warga, dan jauh dari pusat kota. Masuk menuju area perumahan, bisa ditemukan lahan-lahan pribadi milik penduduk setempat. Pohon perdu, kapuk, jagung, bayam, kunyit, jahe, cabe dan ubi tumbuh di kiri kanan jalan. Anjing-anjing buduk dan kucing-kucing liar menjadi pemandangan sehari-hari. Untungnya, belum ada yang memelihara babi.

Saya pikir iklim rumah ini bersahabat dengan mereka yang memiliki jiwa gelisah yang kalut akan impian dan cita-cita yang belum terlaksana, para pemilik hati yang terluka akibat dari kegagalan cinta yang tak terperi, para orang tua yang senang berbicara tentang cuaca dan kenangan, para penyair yang meneriakkan sepi dan rindu dengan cara yang sulit dipahami, para pensiunan TNI/Polri, bekas-bekas birokrat eselon IV dan angkatan di bawahnya, juga para perempuan dengan gelar istri yang masih dipertanyakan.

Udara menuju dan di area perumahan sangat segar. Tipe-tipe yang saya sebutkan di atas, perlu mempertimbangkannya dengan saksama. Mereka layak mendapat tempat persinggahan yang menentramkan hati dan pikiran agar tak kehilangan keseimbangan menghadapi karut marut dunia.

Sepertimana standar perumahan KPR, rumah abah sudah jadi dan siap huni (dapur masih berupa tanah kosong dengan lebar 3×6). Hanya saja pihak depelover belum memasukkan pipa air PDAM dan jaringan listrik di area perumahan. Kabarnya, dua kebutuhan primer itu akan beres tahun depan. Tapi nek lampir tak mau menunggu. Pertengahan Juni kami harus angkat kaki, sebagaimana yang pernah ia informasikan (baca: ditekankan) sejak 3 bulan lalu.

Berdasar pada kronologi di atas, kami segera mencari alternatif lain. Berpacu dengan waktu, menemukan rumah layak huni tentu saja dengan suasana hutan, atau setidaknya semi hutan.

Tuhan selalu bersama hamba-hamba yang terjepit sembari merintih. Maka berjodohlah kami dengan rumah berwarna orange yang notabene komplek perumahan Pertamina. Rumah KPR ini memang disewakan pemiliknya. Inshaallah kalau jadi, kami adalah penyewa pertama.

Suasana semi hutan, hampir mendekati dengan yang pernah kami cetuskan. Dikelilingi pohon asam, pohon durian yang masih muda, pohon mangga, pohon kapuk, dan berbagai pohon-pohon besar yang tak saya kenali. Udaranya segar dan dingin. Kalau hujan turun, semerbak aroma dari tubuh dan kotoran kerbau menyembur ke segala penjuru, menampar wajah dan melekat dalam lobang hidung.

Tak ada lagi pekik anak-anak bawang, juga tak ada suara bising knalpot rombeng. Pagi hari, orang-orang akan dimanjakan oleh nyanyian merdu burung merbuk, bunyi cicit sekawanan burung gereja yang bebas mengudara, dan langkah-langkah berat burung ayam-ayam. Malam harinya, orang-orang di area perumahan akan disenandungkan oleh orchestra maha mutakhir dari dahan-dahan yang bergesekan seperti biola, dendang lemah daun-daun yang melambai, suara para jangkrik yang berirama tanpa cela, suara serombongan kodok yang angkuh, dan kepak sayap keluang yang riuh berebut jambu biji. Semuanya melantunkan puja puji pada pemilik semesta, tanpa komando, tanpa dirigent, tanpa tongkat pengaba.

Tak terasa, tinggal sepekan lagi kami akan pindah ke rumah baru. Menuju tempat yang kami cetuskan karena kesal, tapi kemudian diaminkan malaikat dan di-kun-­kan Tuhan.

Suatu hari, dan barangkali, kelak saya akan merindukan anak-anak bawang yang bertelanjang kaki di gang kelinci…

Satu pemikiran pada “Pindah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s