Rumpik

Selalu sok tahu, adalah sifat dasar sebagian besar manusia yang sangat sulit dimusnahkan. Atau memang tak perlu dimusnahkan agar dunia senantiasa berisi penuh warna-warna buram.

Di laman sosial media (facebook), saya menulis sesuatu tentang cinta. Saya menemukan kalimat tersebut pada salah satu cerpen koran minggu. Judul cerpen tersebut adalah ‘Gembok’. Saya lupa nama penulisnya. Tapi kalimat yang diciptakan oleh penulis tersebut sangat sederhana. Tanpa bermaksud ingin menjadi tenar (karena tenar adalah nama depan saya), lalu saya copy dan posting di timeline sendiri. Tak lupa saya letakkan tanda kutip di awal dan akhirnya.

“Bila bukan kunci yang tepat, gembok tidak akan mau dibuka. Bila bukan cinta yang tepat, hati tak akan hendak terbuka.”

Beberapa membubuhkan jempol suka, (tidak tersedia ikon untuk menyatakan tidak suka atau benci) dan seorang lelaki mengomentari. Lelaki tersebut adalah rekan saya (dulu). Rekan semasa kerja, sempat bertukar kabar, pernah ngopi berdua, lalu mengucap helo, kemudian menguap begitu saja setelah bunyi lonceng pertanda pekerjaan usai.

“kebanyakan petatah petitih, tapi gak move on” begitu katanya. Lalu saya katakan bahwa postingan tersebut adalah petikan cerpen koran menggu yang baru saya baca. Dia bilang ‘time to wake up’. Saya jawab demikian: “wake up for what? Bangun untuk menyadari bahwa di luar sana ada orang-orang belagu ingin membantu tapi ternyata hanya menambah deretan panjang kekecewaan?”

Dia meletakkan ikon senyum.

Selesai.

Karena terbiasa mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan menuliskannya begitu saja, saya berharap diri saya dapat dipahami dan dinilai tanpa harus memberikan penjelasan lebih jauh. Kelihatannya saya keliru.

Sepanjang hidup, acap saya temui orang yang memiliki hobi menafsir-nafsir apa yang tampak dan terbaca di depan mata. Mereka suka berasumsi hanya dengan berbekal informasi. Penafsiran tersebut sering tak berdasar, lebih kepada asal bicara alias menduga-duga. Bahasa gaulnya ‘rumpik’. -Atau ada yang ingin menambahi? Sungguh saya gemas menghadapi orang demikian. Kadang saking gemasnya, pernah saya ladeni sampai pembicaraan melebar ke mana-mana. Keluar dari topik semula. Ujung-ujungnya saya capek sendiri, kemudian baru menyadari bahwa diam lebih baik daripada berdebat dengan orang-orang rumpik.

Bagaikan setetes air di dalam samudera, begitulah keadaan mereka yang seharusnya saya pahami sebelum perang mulut terjadi. Tapi semua terlambat. Mereka membawa saya jauh, menenggelamkan saya ke dasar bumi agar menetap bersama golongannya, dan menjadikan saya seperti mereka. Saya termangu, merasa jadi manusia paling pandir di ketika itu.

Hobi mereka adalah berisik dan meributi hal-hal yang sebenarnya bukan bagian mereka. Orang-orang seperti ini tersebar dalam berbagai profesi. Saya pikir, sikap demikian merupakan buah dari hobi berpandangan negatif. Sebab itu, apapun yang dilakukan oleh orang lain, bagi mereka hanya angin, kamuflase, pencitraan yang mencurigakan. Orang lain bertingkah lepas dan bahagia, sementara mereka terlalu sibuk untuk terlihat sempurna, seolah-olah paling hebat di antara manusia sejagad raya.

Kegemaran saya di dunia tulis menulis dimulai sejak TK, dan alhamdulillah berlanjut hingga kini meski belum memiliki buku sendiri (Cuma antologi yang tak layak dibanggakan). Saya selalu kagum dengan mereka yang jago menulis dengan kalimat sederhana tapi sangat mengena di hati, mudah dipahami. Oleh sebab itu saya kutip dialog pada cerpen ‘Gembok’, dan meletakkannya di beranda. Tadinya, saya ingin orang-orang bertanya dan mengajak berdiskusi. Nyatanya, keinginan saya terhempas pada realita tentang pandangan cetek dari seorang yang saya sebut sebagai teman baik. Jujur saja saya kecewa. Benarlah kata orang bijak: ada saatnya seseorang yang kita anggap sebagai teman baik , ternyata hanyalah teman kayak taik. Sesungguhnya saya tak hendak mengamini. Tapi begitulah realita yang saya temui akhir-akhir ini.

Oya, teman saya ini bekerja entah di mana. Dia suka membaca. Ingat ya: suka. Pergaulannya, saya yakin bukan dari golongan cabe-cabean atau terong-terongan. Saya tak mengerti mengapa ia mudah berasumsi, bukannya mengajak bertukar pendapat atau berdiskusi. Tapi saya yakin beliau bukan seorang intelektual.

Sebab mengutip perkataan Dwight D. Eisenhower, ‘seorang intelektual tidak akan pernah mengatakan lebih dari apa yang diketahuinya.

Walhasil, orang-orang tipe ini tersandera oleh pikiran-pikiran buruk yang mereka ciptakan sendiri, plus kehilangan salah satu orang kece. Ah, rupanya mereka gagal membetot perhatian.

Tapi ada alasan di balik terjadinya sesuatu, bukan? Darinya, saya belajar untuk tidak rumpik. Bukan untuk menyenangkan orang lain, (akan selalu ada orang-orang yang tak menyenangi kita) akan tetapi untuk lebih mempercantik pribadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s