Lelaki

Nyatanya, satu-satunya ketertarikan yang tak terelakkan di antara kita adalah kecanduan pada kopi, yang lebih kita pahami sebagai pengetahuan daripada sekedar latah. Kita larut saat hidu pertama, bersama aroma dari setangkup pagi yang muram.

Terhitung sejak hidu pertama pada pagi itu hingga lima tahun kini, ternyata usia keakraban kita sudah cukup jauh berjalan. Khatam, meminjam istilah anak-anak yang mengaji di langgar. Selama itu pula, aku berusaha menyimpan rasa dalam-dalam. Agar tak gegabah, aku menyelipkannya di sela waktu yang berjalan. Barangkali kau tak pernah mengecek arloji, karena itu tak pernah menyadari.

Biasanya jika aku melakukan kesalahan, kau gemar menggodaku. Sambil tertawa, sambil mengacak-acak rambutku. Aku menyukai momen itu. Teramat sangat. Tapi untuk meluahkan segala rasa yang aku simpan, sungguh merupakan hal yang ganjil. Maksudku, tidak untuk saat ini. Lagipula aku khawatir kau menyebutku mengada-ada.

Akhir-akhir ini aku cemas memikirkan waktu yang tak hendak menunggu. Kau tahu? Semalam sepupuku ketinggalan jadwal pesawat yang membuat ia tak bisa melihat kekasihnya berangkat menuju ibukota. Aku melihatnya menangis menyesali kelakuannya yang senang bermain-main dengan waktu. Aku tak ingin demikian. Maka hari ini aku putuskan untuk memberitahumu tentang debar bercampur gaduh yang selama ini menyusup ketika kita bertemu. Debar ini adalah rindu yang ingin bertemu, gaduh ini adalah resah yang tak ingin berpisah.

____

Aku kembali menjejaki sisa hari sembari menekuri setiap inci peristiwa yang mendorongku ke tengah kehidupan, terpukul pada realita paling kejam: aku menyukai lelaki yang menyukai lelaki!

Setelahnya, menjadi seperti ritual. Kedai kopi di seberang klinikkecantikan, angin barat laut yang berhembus di pertengahan bulan juni, sekawanan burung gereja yang berbaris rapi pada kabel-kabel listrik yang dipasang menantang di jalan protokol, langkah kaki orang-orang yang gelisah di hiruk pikuk petang, lelaki tua yang mejajakan keset kaki di depan gerai atm.

Tak adalagi kopi, juga setangkup pagi. Namun bagiku, kau tetaplah lelaki malam yang tinggal di sudut gumam hingga mata terpejam.

Ps:

Usah diseriusi, saya menulisnya sembarang saja. Apa yang indah dari 15 menit? Tentu tidak menarik. Lain kali akan saya tulis dengan serius. Seserius ketika hati ini telah mencintai…

Satu pemikiran pada “Lelaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s