Ngalis

Ngalis berasal dari kata kerja, artinya kegiatan melukis, membingkai atau membentuk alis yang biasa dilakukan oleh perempuan-perempuan (sebagian lelaki juga) eksis masa kini.

Jika dilihat sepintas, melukis alis kesannya sangat mudah dilakukan. Namun faktanya, melukis alis membutuhkan kesabaran dan kehati-hatian. Tak boleh buru-buru. Apalagi bagi alis yang tidak dicukur atau dicabut, membentuknya sesuai keinginan tentu sangat sulit dan merepotkan. Karena ada rambut-rambut halus berlebih yang perlu disamarkan agar tak mengusik penampilan. Walhasil, pengalis mesti lama-lama di depan kaca hanya untuk memastikan agar alis tidak ketebalan, sudah rapi atau malah miring ke kiri, apakah sudah sesuai dengan bentuk muka atau malah mengerikan seperti pemeran lenong dadakan. Dan bagi pengalis pemula, mungkin membutuhkan waktu 15 sampai 20 menit lamanya agar alis kece dipandang mata.

Hampir semua kalangan menggemari ngalis. Mulai dari laki-laki atau perempuan, birokrat atau rakyat jelata, dari selebriti profesional sampai selebriti kurang terkenal (sekuter), ikut meramaikan jagat per-ngalis-an. Mungkin tahun ini tren ngalis sedang booming ya.

Pada dasarnya, kegiatan ngalis memberikan dampak positif dalam bidang ekonomi, yaitu menjamurnya salon-salonkecantikan yang menyediakan jasa sulam alis. Tujuannya, mempermudah para pengalis dalam bergaya, terutama perihal alis. Dengan adanya sulam alis, diharapkan waktu para pengalis tak habis tersita hanya untuk mendandani alis. Selain itu, ramainya alat-alat yang menjual segala yang berkaitan dengan alis. Seperti pensil alis, cetakan alis, mascara alis, bubuk alis, pisau cukur alis, dan minyak alis. Para pengalis bisa memburunya di dept store, apotik atau toko-toko yang menjual perlengkapan kosmetik. Di sana tersedia berbagai pilihan yang pastinya bikin keki, gemes, sampai kesal karena harganya yang super duper mahal.

Hidup Kapital!

Apa saya sudah pernah mencoba sulam alis? Belum. Lagipula gak tertarik. Apa saya pernah menyukur alis? Jangankan menyukur, mencabut aja gak pernah. Saya belum (mungkin tak akan pernah) mengantongi izin dari ayah.

Suatu kali saya pernah bilang ke ayah kalau saya ingin mencoba sulam alis. Saya penasaran dengan sensasi setelahnya. Karena banyak teman-teman saya yang memasrahkan alisnya dicukur kemudian disulam oleh ahli alis. Lalu terbersit keinginan mencoba meski sekali saja. Tapi ayah langsung mendelik. Saya beri alasan-alasan masuk akal bahwa sulam alis memakai pewarna alami dan hanya bertahan dua atau tiga tahun, selain itu bisa dibawa sholat. Kali ini dahi ayah berkerut. Katanya, kalau saya tetap ngotot sulam alis, saya bukan lagi anaknya dan akan masuk neraka.

Pada ayah, saya tak hendak berpolemik. Maka sejak saat itu, cerita mengenai sulam alis ditutup alias tamat sebelum dimulai. Saya tak pernah lagi membicarakan sulam alis pada ayah dan pada siapapun.

Namun sampai sekarang saya masih ngalis. Begitupun merepotkan, tapi masih tetep aja dilakukan. Sekalipun cukup menyita waktu, tapi ngalis tetep jalan. Anyway semakin ke sini saya semakin ahli ngalis. Cuma lima menit, alis sudah rapi jali.

Well, ada yang mau ngajak nonton?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s