Lirih

Kita ibarat bidak-bidak catur yang menunggu digerakkan. Hidup dengan harapan-harapan minimalis, sembari bersiap menghadapi segala kemungkinan. Apakah nanti akan bahagia, atau kecewa pada akhirnya,

Dalam ketidakpastian, kita gunakan waktu yang tak pernah mau diajak kompromi, memburu impian, memapah langkah, memungut serpih luka yang berserakan, sambil sesekali mencoba mengukir peran sendiri,

Kita adalah penyair lapar yang hanya bisa menuliskan protes, pecandu rindu yang hanya mampu menjeritkan sepi, para hamba yang hanya sanggup mengulang-ulang pinta. Kita tidak pernah tahu kapan akan dipertemukan, dengan siapa, dan dengan cara bagaimana. Sebab Tuhan telah menyimpan catatan yang disusun di Lauhul Mahfudz,

Sementara kita hanyut dalam sujud…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s