“Sakitnya tuh di sini…”

Kalaulah ini kekalahan kali pertama, sudah pasti saya akan menangis sejadi-jadinya. Tapi karena ini kekalahan ke sekian, tak ada lagi yang bisa saya lakukan, selain diam untuk kembali merenungi: “apa yang kurang dari saya? Kenapa (lagi-lagi)saya kalah dalam berkompetisi? Kenapa orang lain bisa juara sedangkan saya hanya menyulam getir? How poor I am…”

Peserta lomba menulis itu berjumlah ribuan. Sampai-sampai panitia harus mengundurkan jadwal pengumuman pemenang. Ada tiga kategori, pelajar/mahasiswa, ibu rumah tangga dan umum. Sedang saya, berada dalam kategori umum. Saya tidak tahu pasti berapa jumlah peserta yang termasuk dalam kategori umum. Karena ketika melihat info lomba menulis yang diadakan oleh Fraksi yang pernah tersangkut kasus sapi, segera saya menyiapkan materi yang akan dipaparkan dalam karya tulis. Saya menulis setulus hati, setulus seorang kekasih mencintai pacarnya.

Saya hanya menulis, berusaha sebaik-baiknya, sembari berdoa agar menjadi juara. Saya selipkan harapan di antara 6 juara yaitu, juara 1 sampai 3, atau Harapan 1 sampai 3. Saya kira itu bukan harapan yang muluk. Karena ketika berjuang, semua orang tanpa terkecuali mengharapkan kemenangan. Perkara juara atau tidak, itu urusan belakang. Sebab hanya orang dungu yang tidak peduli kapan siang kapan malam, mana panas mana hujan.

Hari ini, saya melihat lembar pengumuman pemenang yang diterbitkan di situs online. Nama saya tak ada. Saya tarik nafas, dan membacanya pelan-pelan. Siapa tahu nama saya nyempil di kategori ibu rumah tangga, sebab sudah kepala tiga, dalam aturan tidak baku warga Indonesia, semestinya saya sudah menikah. Tapi, diantara 18 pemenang dari 3 kategori, nama saya tetap tak ada. Wassalam… saya memang bukan juaranya.

Percayalah, sungguh tak mudah menerima kekalahan dengan lapang dada. Rasanya perih. Saya tak tahu persis, bila dan di mana Tuhan letakkan takdir manis pada usaha saya. Oh, atau kiranya saya salah menghitung? Barangkali saya salah menghitung. Sebab nikmat Tuhan terlalu banyak untuk saya matematikakan.

Sekarang ini, saya masih bisa bernegosiasi dengan pikiran, mengarang cerita bahwa saya baik-baik saja, menepuk-nepuk dada, seraya berkata, “sabar ya. Selagi matahari masih bersinar, selama itu semangat tetap memancar. Jangan sedih. Terus berjuang!”

Pada menit-menit berikutnya, perlahan-lahan bulir bening mengapung di sudut mata, tinggal menunggu meleleh. Tess…tess…tess… sukar sekali untuk ditahan. Okey, saya sedih, tapi saya baik-baik saja. Begitulah, saya paling ahli menyembunyikan perasaan, termasuklah perasaan cinta.

Mungkin saya terlalu pede dengan yang telah dan akan saya lakukan? Hal ini membuat harapan berlebih-lebih dan tumpah ke segala penjuru. Setelah saya dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang saya harapkan tak sesuai kenyataan, maka harapan tersebut mengalir ke selokan menuju pembuangan terakhir rumah warga.

Barangkali demikian. Ah, sudahlah… saya benci dengan perasaan sedih yang tiap kali menyelinap, lindap. Kesedihan pandai merasuki pikiran, menyamar lewat kenangan, menyerupai lagu dan melodi, menjelma rupa-rupa orang yang telah pernah menyakiti, hingga menidurkan saya dalam kegelisahan tanpa jeda.

Mengutip Stainback, jiwa yang sedih bisa membunuh lebih cepat daripada kuman. Oleh sebab itu, meski lelah, saya tak boleh berhenti berkompetisi, tak harus menyerah. Sebanyak apapun hidup telah menganvaskan, sebanyak itu pula saya harus bangkit untuk mencapai tujuan. Bukankah Mohammad Ali pernah menderita kekalahan berkali-kali sebelum dinobatkan menjadi petinju legendaris? Kata orang barat, smooth seas don’t make good sailors, saya pun akhirnya turut mengamini, meski “sakitnya tuh di sini…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s