Meng-Indonesia

Di zaman ini, barangkali bercakap-cakap menggunakan bahasa negara sendiri yakni bahasa Indonesia bukan lagi merupakan hal yang kece dan pantas dibanggakan. Tak keren, begitu kata kawan sebelah. Itu sebabnya berduyun-duyun orang tua mengantar anaknya ke sekolah bahasa asing agar lancar cas cis cus di rumah terlebih lagi di lingkungan kongkow-kongkow. Walhasil, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lambat laun tergantikan menjadi bahasa sampingan yang digunakan saat kebelet.

Perlu diingat, bahasa Indonesia bukanlah sesuatu yang lahir tiba-tiba, akan tetapi ia hadir melalui perjalanan dan perjuangan panjang disertai keinsyafan, kebulatan tekad, dan semangat untuk bersatu. Ringkasnya, perjalanan yang ditempuh oleh bahasa indonesia tak terpisahkan dengan perjalanan yang ditempuh oleh bangsa Indonesia untuk merdeka. Dirancang, diagendakan, kemudian digunakan kali pertama dalam sidang Volksraad tanggal 16 Juni 1927 oleh Jahja Datoek Kajo. Hal ini menjadi penanda bahwa untuk pertama kalinya seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.

Selanjutnya Bahasa Indonesia secara sosiologis resmi digunakan sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928. Namun secara Yuridis Bahasa Indonesia diakui setelah kemerdekaan Indonesia yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945. Suatu proses yang sangat panjang dan melelahkan, yang hanya dapat terbayar dengan cinta dan bangga suatu bangsa terhadap bahasanya.

Kendati demikian, tentu saja setiap orang berhak memilih pendidikan seperti apa dan bagaimana yang akan mereka tempuh. Hendak menuntut ilmu bahasa Inggris, Prancis, Korea, bahkan belajar bahasa suku Berber di negara Maroko sekalipun dipersilakan. Akan tetapi, lupa akan bahasa sendiri bisa disebut keterlaluan. Seperti lupanya seorang presenter televisi pada kata ‘nilai’. “Sesuatu yang disukai tidak hanya terletak pada sebuah harga, tapi karena adanya value” sebutnya di sebuah senja yang gerimis. Presenter sekaligus mentalis yang asli dan menetap di Indonesia tersebut mengulang-ulang kata ‘value’, sehingga rupanya ia perlu menanyakan pada pemirsa, kiranya apa bahasa Indonesia dari kata ‘value’. Padahal kata ‘nilai’ bukan kata yang dipakai sehari dua hari, akan tetapi kata yang sering kita temui di sekolah, di forum-forum diskusi, bahkan dalam percakapan sehari-cari. Dalam artian, kata ‘nilai’ sama populernya dengan batik, komodo maupun candi.

Perkara kebarat-baratan ini memang sudah menjadi fenomena. Kedelai saja bisa jadi tempe, begitupun manusia, alangkah mudah terkontaminasi, cepat berubah dan latah. Dalam banyak segi, kita acap berkiblat ke Barat. Kita mudah latah terhadap penetrasi budaya luar yang masuk tanpa filter ke Indonesia. Kita mudah terpesona dengan yang asing-asing, cepat terkesima dengan yang aneh-aneh, hingga perlahan-lahan, tanpa disadari keasingan dan keanehan tersebut membungkus identitas. Pada akhirnya, kita menjadi aneh dan asing di negeri sendiri.

Teringatlah tulisan Mahbub Djunaidi, “seorang yang senantiasa menganggap asing itu hebat dan senantiasa benar dan unggul, sebenarnya merupakan inlander gaya baru dan mengidap unsur-unsur budak,” katanya dalam sebuah tulisan yang terbit di Kompas 29 Maret 1987.

Seperti misalnya, kita gunakan kalimat ‘Damn, I love Indonesia’ untuk menyatakan kekaguman terhadap Indonesia, hingga kalimat tersebut melenggang manis di seluruh pelosok negeri ini. Menempel pada pakaian, tertulis rapi di sampul buku, juga bersliweran di dunia maya. Sementara masyarakat pinggiran yang tak tersentuh kursus bahasa asing, antara pongah dan polos mengulang-ulang kalimat tersebut. Peduli setan terhadap makna, “yang penting ada tulisan Indonesia-nya” ujar seorang anak Sekolah Dasar.

Agaknya khazanah bahasa terlalu miskin untuk melukiskan Indonesia dalam dua-tiga patah kata, sehingga perumusan tepat diserahkan bulat-bulat pada bahasa ‘turis’. Maka sebelum berpikir dua kali, dengan manis dan gagah kita pun berkata ‘Damn, I love Indonesia’. Lantas , hanya karena meneriakkan semboyan tersebut, kita merasa telah menjadi seorang nasionalis sejati yang memiliki jiwa patriot dan semangat kebangsaan. Telah sah, bahwa kita mencintai Indonesia.

Kemudian untuk menyatakan keberpihakan pada lembaga anti korupsi, ramai-ramai kita menuliskan tanda pagar #saveKPK. Tagar dengan kata ‘save’ ini sangat populer di linimasa. Sementara masyarakat pedesaan yang ingin membela KPK, yang tak terjamah internet dan sosial media, jadi terbengong-bengong di ujung pikir, berusaha memahami makhluk macam apa yang bernama ‘save’ itu. Padahal kita bisa meletakkan kata ‘bela’ atau ‘selamatkan’ atau ‘kawal’ di belakang kata KPK. Lebih mudah dimaknai dan dicerna semua golongan. Namun agaknya penggunaan kata asing ini dinilai cukup keren serta mampu memancing gema. Dan ajaib, kita absen dengan bahasa sendiri.

Sama halnya dengan penamaan beberapa komunitas atau organisasi. Di satu sisi kita menyerukan sumpah pemuda: bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, sementara di sisi lain kita tabalkan nama komunitas menggunakan bahasa selain Indonesia. Lagi-lagi kita pasrah pada bahasa asing dan bangga mengucapkannya. Padahal tujuan komunitas tersebut adalah untuk menyedot perhatian pemuda Indonesia yang seyogyanya dapat membangkitkan rasa nasionalisme, bukan sebagai sarana berkumpul bagi pemuda negara luar.

Rupanya, selain terkenal sangat ramah, kita ini bisa lucu juga. Kita punya semangat kuat untuk menjadi Indonesia, sekuat mata bajak membongkar tanah. Kita gaungkan sumpah pemuda, kita kenalkan budaya dan bahasa, akan tetapi lidah kita sering tergelincir pada bahasa ‘tetangga’.

– DF. Norris –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s