Kekhawatiran Menpan

Sudah berhari-hari sebuah surat kabar tergeletak begitu saja di meja kerja saya. Jangankan melihat, membacanya saja saya emoh. Sebenarnya surat kabar ini sangat menarik baik dari segi bahan baku atau kertas yang digunakan, maupun dari tata letak iklan, hingga penempatan berita utama dan daerah. Cukup rapi dan elegant untuk sekelas harian lokal. Namun, surat kabar tersebut acap kali mengecewakan. Salah satunya, pemberitaan nyaris selalu menyesatkan. Judul yang begitu panjang namun tak mencerminkan isi, data yang mendukung permasalahan sering tidak valid, gambar (poto) yang ditampilkan tidak nyambung dengan yang dikabarkan, dan kadang-kadang beritanya sudah basi. Misalnya berita dua minggu lalu tapi dimuat hari ini. Belum lagi saya harus membaca tulisan yang njelimet dan seringnya pengulangan tulisan (petikan wawancara nara sumber, ditulis lagi menjadi reportase).

Surat kabar tersebut adalah milik perusahaan media tempat salah satu kerabat saya bekerja. Ia seorang jurnalis. Setiap hari ia selalu membawa pulang berbundel-bundel ke rumah. Oleh sebab itu dengan mudah saya selalu menemukannya bertengger di atas televisi, berada di tumpukan buku-buku, mampir di atas meja dan ada yang saya letakkan di depan pintu sebagai alas kaki. Namun meskipun isinya sulit dipercaya (saking seringnya kecewa gegara pemberitaan, saya langsung suudzon bilamana melihat koran itu) dan kurang berkualitas, akan tetapi surat kabar tersebut benar-benar multi fungsi, juga penyelamat.

Coba bayangkan jika sodara berada di tanggal tua. Pandangan sodara tentu berkunang-kunang, tensi darah naik, dan perut nyaris selalu keroncongan. Tataplah pada gunungan koran tersebut dengan nanar, kemudian renungkan. Apakah kita punya pemikiran yang sama?

“Jika dibawa ke tukang loak, 1kg koran dihargai 1500 rupiah.” Jauh lebih baik daripada nilai sebuah harga diri.

Entah demi apa, saya tak tahu tujuannya. Yang jelas koran-koran tersebut tetap hadir sampai saya menuliskan cerita ini. Kadang-kadang 5 sampai 7 eksemplar perharinya. Kadang bisa lebih dari itu. Barangkali tergantung mood, sebab saya pernah mendapatinya membawa pulang koran hanya satu eksemplar saja. Tapi tak apa, sebab sebenarnya saya bukan sedang ingin bercerita mengenai koran.

Iseng-iseng sembari menunggu tukang mie rebus mengantarkan pesanan, saya mengambil satu koran tertanggal 15 May 2015. Sambil punggung bersandar di dinding dan kedua kaki diletakkan di atas meja, saya membuka lembar per lembarnya. Mengikut kebiasaan sejak sekolah TK, saya membukanya dari halaman paling belakang. Berita tentang Lady Gaga yang akan memamerkan 30 gaun pengantin rancangan designer ternama di hari pernikahannya (yang entah kapan), kemudian ada FKA Twiggs dan Rob Pattinson yang menjalani hubungan lebih serius ke jenjang pernikahan, lalu ada Tom Hiddlesson dan Elizabeth Olsen yang lagi jalan bareng.

Sisanya tak ada yang menarik. Secara keseluruhan tak ada yang menarik. Ya, tak akan ada menarik di hati seorang jomblo jika hanya membaca masalah percintaan orang lain, sementara hubungan doi sendiri masih belum diketahui alias tak bisa diprediksi. Intinya, pada halaman belakang berisi informasi-informasi menohok dan penuh sindiran.

Lanjut ke halaman berikutnya, berikutnya hingga berikutnya. Tetiba mata saya tertumbuk pada satu kolom kecil, berita tentang Menpan yaitu Yuddy Chrisnandi yang tidak setuju uang pensiun Pegawai Negeri Sipil dibayar sekaligus dalam satu waktu secara penuh. Ini baru disebut berita bagi seorang Jomblo terdidik yang sangat berdedikasi tinggi terhadap bangsa dan negaranya.

Apa alasannya hingga Menpan tidak setuju uang pensiun tersebut dibayar sekaligus? Judul berita tersebut membuat saya terheran-heran. Saya paham bahwa keheranan ini cukup bergegas sebab saya belum membaca isi berita sampai tuntas.

Lah, membaca judulnya saja sudah membikin kening saya berkerut. Saya bertanya-tanya dalam hati sekaligus mereka-reka mengapa bisa begini dan begitu. Jika tidak dibayarkan sekaligus, lalu di mana uang tersebut akan disimpan? Atau ke mana arah uang tersebut nantinya? Atau diperuntukkan pada bidang dan hal apa uang pensiun itu? Atau, apakah lagi-lagi jurnalis koran ini salah tulis akibat terhalang informasi langsung dari sumbernya di Pusat sana?

Selanjutnya mengutip koran tersebut, bahwa secara pribadi Menpan khawatir akan adanya euforia jika uang pensiun diberikan sekaligus, takut-takut nantinya akan dipergunakan secara konsumtif oleh PNS bersangkutan. Sebab menurut Yuddy, hal tersebut akan menyulitkan bagi para PNS sendiri karena sebagian besar dari mereka belum memiliki bekal yang cukup untuk menjalankan usaha, atau tidak pernah dibekali kemampuan entrepreneurship. ”lalu bagaimana nanti bulan-bulan berikutnya dan untuk pegangan hidup?” kata Yuddy. Oleh karena itu, menteri Yuddy lebih setuju jika pembayaran pensiun dilakukan secara berkala agar ada jaminan bagi kesejahteraan PNS di hari tua.

Sampai di sini, baru saya mengerti bahwa ternyata Menpan Yuddy sangat baik hati. Beliau benar-benar memikirkan perjalanan hidup para pensiuan, beliau mengkhawatirkan kondisi hari tua pada PNS, beliau sangat peduli pada bagaimana PNS yang tak dibekali imu-ilmu kewirausahaan itu mempergunakan uang pensiunan mereka.

Namun yang membikin kening saya masih terus berkerut, kenapa Menpan Yuddy mengkhawatirkan tentang cara menggunakan uang pensiunan? Bukankah para PNS kita sudah cukup bijak mengatur ke mana uang hendak mereka belanjakan? Bukankah para PNS kita sudah cukup arif memperuntukkan uang sebagaimana mestinya? Bukankah PNS-PNS kita ini merupakan sosok dewasa, terpelajar sekaligus terdidik yang mana mereka lolos ujian masuk PNS secara murrni, bukan sebab suap menyuap apalagi backing kanan kiri. Lalu mengapa pemerintah harus mengatur perut dan belanja pegawainya? Bukankah hal ini berarti pemerintah meragukan kemampuan para pegawai yang lolos sertifikasi serta berjaya lewat ujian masuk kepegawaian tersebut?

Mengapa kekhawatiran Menpan Yuddy ini tidak ditempatkan pada kondisi keuangan negara? Misalkan pemerintah melalui APBN bertanggungjawab membayar uang pensiunan masing-masing PNS. Sedangkan PNS di tiap daerah jumlahnya sangat banyak, sementara per tahunnya bisa mencapai seratus ribuan lebih PNS yang pensiun. Jika uang pensiunan tersebut dibayarkan sekaligus, bukankah ini berarti akan membebani pengeluaran negara yang perekonomiannya masih belum stabil ibarat cicak yang merayap dinding?

Arifkah jika uang pensiunan PNS ini dibayarkan secara berkala? Kenapa Menpan Yuddy tidak mengajak para PNS urun rembuk mengenai pembayaran uang pensiunan? Sebab para PNS ini adalah manusia dewasa, bukan sekumpulan kecoa.

Atau jangan-jangan ini siasat pemerintah untuk mempergunakan uang tersebut pada ‘lahan’ lain? Katakanlah itu sebagai uang pinjaman untuk membiayai partai politik atau calon tertentu untuk berlaga pada Pemilukada, berhubung tahun ini adalah parade demokrasi besar-besaran?

Ah, ini hanyalah pikiran polos seorang jomblo yang muncul dari kegetiran menatap Indonesia. Tak perlu diambil hati. Menpan Yuddy pun tak harus memikirkannya. Jangan sampai tidur nyenyak jadi terusik akibat pemikiran yang berbau spekulasi.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s