Pantas Ditunggu

Semalam sore, di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Sebetulnya sore itu saya mau ke Stasiun Kereta Api mengambil titipan ayah berupa kelengkapan berkas untuk pembelian rumah di Medan. Tapi adik saya Farida, meminta saya menemaninya ke perpustakaan UMSU untuk memperpanjang buku.

Maka kami pun berangkat bersama, dengan rute pertama ke UMSU setelah itu baru ke Stasiun Kereta.

Meski sudah sore bahkan hampir malam, tapi cuaca di Medan benar-benar gerah. Matahari masih sangat terik. Ia menghanguskan apa saja yang melintas di depannya. Diselimuti keadaan itu perjalanan kami ke UMSU jadi terasa sangat jauh dan melelahkan. Diperparah lagi oleh kemacetan yang akhir-akhir ini acap terjadi di Medan.

You know folks? Urusan macet, saya pikir Kota Medan sebelas dua belas dengan Ibukota. Dua kota metropolitan ini ibarat anak kembar yang terpisah oleh jarak. Satu di rumah nenek, satunya lagi di rumah ibu. Tapi bentuk dan rupa hampir mirip. Jadi, ketika penduduk Jakarta kesal bin stres menghadapi macet, masyarakat kota Medan juga merasakan hal yang sama.
Akibatnya, jarak yang biasanya ditempuh hanya dalam waktu 30 menit, jadi bertambah 30 menit lagi karena tertahan di jalan. Dengan kata lain, butuh waktu 1 jam untuk mencapai UMSU di tengah-tengah jalanan macet dan traffic light yang tidak berfungsi.

Mari tepuk tangan!

Tiba lah saya di UMSU dengan wajah datar.

Saya mendapati kenyataan pada suatu suatu pepatah, ‘lain padang lain belalang’. Bahwa UMSU, adalah suatu universitas dengan bangunan-bangunan yang letaknya berdekatan. Jarak antar fakultas cukup dekat, bisa dilalui dengan berjalan kaki. Areanya tidak luas seperti almamater saya, Universitas Sumatera Utara (USU). Meski demikian, UMSU termasuk salah satu universitas swasta yang cukup populer di Sumatera Utara.

Dari tempat parkir kendaraan, kami langsung menuju perpustakaan di lantai III. Okey, its fine when you think about sport. It was learning. Masalahnya adalah siapapun yang masuk ke perpustakaan, wajib melepas alas kaki baik sendal, terompah, atau sepatu.

Dan saya sodara-sodara, saya yang bersekolah di USU yang mana perpusnya tidak menyusun peraturan membuka alas kaki, merasa sedikit shock. Apa pasal? Saya, memakai sneakers, sepatu casual bertali. Bayangkan betapa repotnya.

Hal ini menjadikan letih mencapai level 9. Dengan pasrah saya mengikuti aturan. Membuka sneakers, masuk dengan santun, dan segera mengikuti Farida menuju ke bagian perpanjangan buku.

Mission complete?

Belum. Saya masih punya satu urusan lagi, yakni memotocopy KTP. Tempat potocopy berada di lingkungan luar Universitas, persis di depan gerbang utama.

Nah, inti ceritanya di sini nih.

Di toko potocopy, tak sengaja mata saya tertumbuk pada suatu sosok yang bentuknya agak langka. Bukan hampir punah, tapi sosok seperti ini bisa dikatakan semakin sedikit. Entah karena pengaruh model ‘lelaki cantik’ dari korea, atau karena efek menjamurnya style macam pemeran sinetron Manusia Srigala.

Anda penasaran?

Baiklah.

Sosok tersebut adalah lelaki. Perawakannya tinggi kira-kira 175cm, berkulit putih, berwajah bersih, berbadan tegap (karena lari pagi bukan hasil nge-gym), mata sayu, jambang tipis, rambut klimis di sisir ke samping kiri, berkemeja rapi warna blue navy, berjeans biru gelap, bersepatu kantor hitam sejenis pantofel.

Jarak saya dan lelaki itu hanya sepelemparan batu. Artinya sangat dekat sekali. Saya curi-curi pandang ke arahnya, dan sekilas doi melihat saya.

Alamak…

Memang, ketampanan dapat tergerus seiring berjalannya hari. Tapi ketampanan saat itu, mampu menghapus letih sepanjang waktu.

——-
Tak tahu mengapa kami bersenggolan, copy-an KTP yang saya pegang jatuh berserakan. Saya jongkok hendak memungut, namun dia berjongkok duluan. Kami berdua tersenyum malu-malu. Lalu saling berjabat tangan, selanjutnya kami berkenalan, kemudian bertukar nomor pin bb.
Akhirnya ia undur diri seraya menjabat tangan saya erat. “Jangan lupa invite” teriaknya dari balik jendela mobil. Lama-lama jejaknya menjauh, namun mata saya masih menatapnya, lekat.
——-

Tenanglah. Aku tidak akan membuat kalian cemburu. Sebab plot tadi hanya ada dalam imajinasiku saja. Fiksi.

Kenyataannya, ia melihatku tanpa ada kegaduhan apapun. Sama seperti kalian melihat orang baru. Setelah urusannya beres, ia langsung menuju Toyota Yaris abu-abu, pergi begitu saja.

Ah, suatu jumat yang barokah. Tapi lelaki seperti itu pantas ditunggu kan?

kamu adalah rahasia langit
yang kutunggu dengan rindu
sembari menepi bersama sepi

3 pemikiran pada “Pantas Ditunggu

  1. Keletihan tersebut lantas sirna disebabkan lelaki tersebut.🙂 Saya ampir ketipu ketika membaca kalian saling jabatan, dan tukaran pin BB (koq bisa? Aku gak pernah ngerasain kek gitu :D)

    Kemudian emang beda ya kampus negeri dengan swasta, mulai dari pelayanan dll. Apalagi kampus negeri dibandingin dengan kampus agama, saya pernah dengar cerita teman, dan pelayanan di agama lebih kurang baik.

    Nice

    Nice post Dinna…. #happyblogwalking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s