Di Sebelah Tukang Potong Babi

Di kereta api Tanjungbalai-Asahan menuju kota Medan.

Saya berada di Gerbong 1 kompartemen 10, seat 9C. Paling pinggir dekat jendela. Cukup nyaman memang, tapi karena postur tubuh tidak besar, walhasil saya terjepit di antara para penumpang yang berbody jumbo, dan penumpang lain yang membawa serta bayi-bayi mereka.

Meski duduk manis dalam kereta, namun perjalanan ini terasa amat melelahkan. Untuk menyiasatinya, saya memperbanyak membaca dan tidur. Lebih bermanfaat ketimbang duduk termenung dan mengarang cita-cita sembari menaruh ekspektasi setinggi angkasa. Selain itu, saya tidak suka ngobrol.

Faktanya, posisi duduk saya memberi kesempatan untuk berkhayal. Ditemani ragam pemandangan di luar jendela: anak-anak kencing berdiri, jembatan gantung, padi yang menguning, sawit tak subur, pepohonan, rumah-rumah penduduk, tempat ibadah, dan lahan gersang yang terhampar dalam diam.

Sesuatu yang tak bisa dilewatkan begitu saja, bukan? Jika tidak karena hasil penelitian yang menyebutkan bahwa: “melamun bisa menyebabkan wajah anda terlihat tua dan tak bergairah”, barangkali saya akan melamun dan berkhayal sepanjang perjalanan dari stasiun ke stasiun.

Tidak peduli apakah penelitian tersebut fakta atau rekayasa, tapi saya ikhlas meyakininya.

Jadilah aktivitas selama 5 jam perjalanan saya isi dengan tidur, baca buku, tidur, dan baca buku lagi. Hingga kemudian saya menulis cerita ini di tengah-tengah lapar yang bicara sejak tadi.

Tetiba, seorang nenek gaul keturunan Tionghua menawari saya kue kering. “Makan nih” ujarnya ramah. “Kamu lapar kan?”

Ia duduk persis di depan saya. (Rupanya) ia seorang ibu 6 anak dan nenek 3 cucu. Tapi wajahnya masih segar dan muda. Memakai anting-anting yang terbuat dari besi putih, kalung dan gelang kaki manik-manik, berkaos merah lengan pendek, dan legging hitam.

Saya memanggilnya cici, berarti kakak dalam bahasa cina. Coba sodara-sodara bayangkan. Dengan tutur kakak tadi, saya (secara tidak sengaja) telah membuatnya muda puluhan tahun.

“Iya, makasih” jawab saya malu-malu. Padahal sesungguhnya saya benar-benar lapar. Karena saya pikir akan menemukan para penjaja makanan di dalam gerbong yang menjual segala makanan dan oleh-oleh seperti biasanya. Jadi sebelum berangkat ke stasiun, saya hanya makan sepotong kecil roti. Berharap ketemu ibu-ibu penjual mie pecal dan ayam goreng. Ternyata saya keliru. Pihak Kereta Api tidak lagi membolehkan para pedagang berjualan di dalam gerbong. Akhirnya lapar mendominasi kepala, perut dan hati.

“Ayo, dimakan aja.” Ia menyorongkan bungkusan plastik berisi roti kering ke lengan saya.

Apa boleh buat. Rasa lapar ini membuat saya menyingkirkan rasa segan. Saya, dengan mata berbinar langsung menyicip sebiji roti berbentuk kerang itu.

Rasanya gurih, lemak, dan enak betul. Bumbunya berasa di lidah.

“Ini beli di mana ci?
“Di Pajak Bengawan, Tanjungbalai.” Jawabnya dengan amat sopan. Suatu kesopanan yang langka bagi saya.

You know what? Orang Tionghua di kota kami tidak biasa bersosialisasi. Mereka terkesan tak acuh dan tak peduli. Untuk mengatakan mereka arogan, saya tak berani. Sebab saya belum berkenalan dengan seluruh masyarakat Tionghua di Kota saya.

“Di dekat mana ya?” Tanya saya sambil menggigit kue kelima. “Rasanya sangat enak. Saya pingin beli kalau pulang ke Tanjung nanti.” Saya katakan padanya, saya suka makanan yang aneh-aneh. Apalagi roti atau kue-kue kering.

“Kamu cari aja di Pajak Bengawan, masuk ke gang kecil, dan tokonya pas di sebelah tukang potong babi” jelasnya ramah dengan intonasi lebih rendah hampir seperti berbisik saat menyebut tukang potong babi. Lagi, ia menyorongkan kue ke lengan saya.

Reflek saya menenggak habis air mineral yang saya bawa dari rumah.

“Rasanya sangat enak. Bikin saya cepat kenyang.” Saya langsung memasang tampang kenyang bahagia. Barangkali tak berhasil. Karena ia segera mengikat bungkusan kue kering tadi.

Dan kami pun asik dengan kesibukan masing-masing, mengikuti ritme laju kereta api menuju waktu tiba yang tinggal beberapa menit lagi…

Tanjungbalai-Asahan menuju Medan,
Friday, March 13, 2015,

Ps: nulisnya via BB. Mungkin ada kata tersilap hingga sulit dibaca. Maaf ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s