Menemukan

Dan dimulailah hari yang benar-benar melelahkan. Sebuah perjalanan yang barangkali bisa disebut dengan ‘menemukan’.

Dari tempat tinggal saya Kota Tanjungbalai-Asahan, kami (saya, ayah dan abah alias my brader, dan tourist guide kami, Pak Kobar yang mana beliau masih saudara jauh ayah) menuju Kota Rantau Prapat demi menemukan kawan hidup buat abah.

Iya. Sebagai lelaki paruh baya di penghujung usia setengah abad, abah belum juga menikah. Meski cukup mapan, sehat, cakep, namun sedikit menyebalkan, dia ‘setia’ dengan kesendirian. Maksudnya, single.

Single dalam arti memilih sendiri untuk sementara waktu, sembari menemukan seseorang yang layak mendapat tempat di hati, pantas menjadi ibu bagi anak-anak, dan siap menjadi pendamping di kala pahit terlebih lagi manis.

Repot bukan buatan. Itu sebab saya lebih senang menyebutnya ‘menemukan.’ Rasanya lebih elok. You know what? Terkadang, bahkan lebih sering jodoh hadir di depan mata. Di saat hati telah pasrah, lalu Tuhan membawakan dari seberang sana, seseorang yang menyerah. Tidak dicari, tapi datang sendiri. Ia siap dan ikhlas untuk saling berpegangan.

Selama ini abah selalu mencari perempuan sesuai seleranya: cantik, sholeh, tidak bertuhankan materi, dan halus budi pekerti.

Selera sederhana, sesederhana makan siang pakai lauk ikan asin, gulai daun ubi tumbuk dan sambel terasi.

Namun yang dicari tak kunjung tiba. Ada yang numpang lewat, ada sekedar menyapa, ada yang hanya berteduh, dan ada sekedar mampir. Mereka tak singgah. Apa hal? Saya tak tahu. Kalau dikata abah tak ramah, sama sekali pernyataan yang salah.

Tentu saja abah saya ramah. Hanya saja ia menjadi tak bernyali bila berhadapan dengan perempuan cantik. Semua kata sirna, segala laku pun beku. Bukankah demikian itu sikap yang seharusnya dimiliki oleh kaum hawa?

Tapi begitulah abah. Dia cukup aneh dalam urusan percintaan. Saya yakin ada yang serupa dengannya. Mereka, terlampau segan menatap biji mata perempuan (cantik).

Jadi, kami sudah sampai di Rantau Prapat setelah menempuh 3 jam perjalanan dengan jarum penunjuk kecepatan di angka 60km, via motor. Stabil, tanpa jeda di tengah jalan.

Kami akan mengunjungi dua rumah, melihat dan menemukan dua perempuan.

Okey, tahun 2015 kalian masih menemukan: perjodohan. Sungguh, saya tidak biasa dengan hal ini. Akan tetapi kondisi menghendaki demikian.

February, 27 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s