Hari Jadi

Setelah ibu dilamar kematian, tak ada perayaan untuk saya nantikan. Konvokasi universitas, kenaikan pangkat maupun jabatan, prestasi dan karya menggembirakan, bahkan sampai tanggal hari jadi, semua berlalu seperti kepulan asap pada secangkir kopi.

Bukan karena anak tangga menuju popularitas tersebut tidak mengagumkan bukan pula karena tak peduli. Tapi karena sosok ibu tak lagi berdiri di depan pintu, menatap saya seperti kemarin seraya memamerkan senyum kemenangan yang menghangatkan. Sebab itu saya selalu membungkam kebahagiaan lewat hati, lalu tumpah ke dalam tulisan, meski sesekali.

Dalam hal ini, saya tidak bermaksud mengabarkan kesedihan. Saya bukan tipe meminta perhatian dengan menampakkan segala resah, galau dan gundah. Hanya saja, saya tidak suka pesta dan ramai yang terlalu, apalagi setelah ‘kepulangan’ ibu.

Seperti puluh tahun lalu, kali ini saya memperingati hari jadi. Tanggal 4 February 2015, bertepatan dengan (seharusnya) hari pelantikan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri yang ternyata tidak jadi dilantik.
Satu-satu para saudara, teman dan kolega mengucapkan kata klise dan doa. Saya mendapati banyak doa dan ucapan terbang ke udara. Lucu. Seperti balon yang dilepaskan bebas menuju angkasa, mereka menari dan berkejaran, membentur awan-awan. Saya menikmatinya.

Waktu terus berputar, hidup terus melaju. Walau tanpa ibu, saya harus lebih tangguh menjalani hidup. Melewati benturan yang tak ada habisnya, menyusun strategi pada apa yang datang setelahnya. Ketika terjatuh, saya harus bangkit sendirian, tak ada lagi ibu yang selalu mengulurkan tangan. Saat diberondong masalah, saya harus tegar, sebab tak ada ibu untuk berkeluh kesah.

Sejujurnya, saya rapuh. Tapi saya berusaha agar tak mengaduh. Saya merasa mual, tapi saya baik-baik saja.

Oya, ibu tak pernah alpa mengingatkan saya untuk mengadukan segala apa yang saya rasakan pada Tuhan. Saat susah maupun senang, saat tertimpa musibah maupun sedang riang. Ibu adalah lawan bicara yang baik. Satu hal, ia tak pernah memaksakan Tuhan pada saya. Oleh karena itu, sekalipun kedua kaki menyentuh batas laranganNya, saya selalu kembali. Tak bisa berpaling.

Ibu adalah cermin kesederhanaan. Barangkali, itu yang membuat rindu padanya tak pernah usang.

Hari ini ulang tahun saya. Sementara esok, adalah hari ketika Tuhan memeluknya. Menemui kematian. Kematian adalah jalan menuju padaNya. Jalan kembali ke rumah abadi.

______

Hari ini,
aku telah sampai pada dua deret angka penanda batas usia.
meski belum petang,
genderang cita-cita harus ditabuh segera.
waktu tak pernah menunggu
tenggat ilahi bisa berakhir kapan saja
tanpa aba-aba.
Langkah masih jauh dari hampir,
aku harus bergegas agar tak ketinggalan kereta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s