Ini Pemilu, Bukan Main Dadu

Pemilihan Umum sudah di depan mata, hanya tinggal menghitung hari. Itu berarti masyarakat (lagi-lagi) harus dihadapkan pada dua hal yaitu memilih calon legislatif yang tertera di surat suara atau memilih untuk tidak memilih. Bukankah perkara pilih memilih merupakan hal tersulit? Konon lagi harus memilih dan mempercayakan harapan pada sosok yang selama ini tak pernah terlihat batang hidungnya, tak pernah didengar peran baktinya untuk negara ini setidaknya di kampung sendiri.

Kenapa harus pemilu? Kenapa tidak dipilih saja pemimpin yang segala kebaikannya tertangkap jelas oleh mata? Bukan pemimpin-pemimpin musiman bak jamur bersemi di musim hujan? Begitulah demokrasi. Sistem pemerintahan yang memberikan kebebasan bagi siapapun tanpa tebang pilih. Suatu sistem yang menjamin hak warganya untuk dicalonkan dan mencalonkan. Pantas atau tak pantas, layak atau tak layak, lain soal. Ini zaman reformasi.

Siapa tak gembira hidup di alam demikian? Sementara masih ada negara yang warganya diam dan akur-akur sahaja, sebab pemerintah sudah memilihkan yang terbaik. Pemerintah telah mendesign kebutuhan rakyatnya. Kalaupun ada protes, pasti sekedar berbisik. Warganya tak lagi leluasa bicara di ruang publik.

Meski diadakan lima tahun sekali, tapi segelintir masyarakat sudah muak mendengarnya. Malah mendengar kata pemilu saja membuat orang yang tak berkepala bisa geleng-geleng sambil menganga. Tak pelak hadir gundah gulana bila ditanya partai apa atau siapa yang akan dipilih diantara sekian ribu caleg yang terpampang di kertas pemilihan suara.

Disamping ada sebagian orang-orang di gambar itu sudah dikenal, namun sebagian lagi samar-samar dan sisanya abstein. Ditengarai semakin membludaknya kontestan antara wajah baru yang masih malu-malu maupun orang lama yang kurang kedengaran gaungnya namun kembali mencalonkan diri.

Pada bagian yang samar-samar, para calon tersebut sudah pernah dilihat di iklan-iklan koran, menempel di tembok-tembok gedung dengan wajah yang diramah-ramahkan agar menyedot simpati masyarakat, pada bentangan spanduk yang saling salip, terpampang di umbul-umbul, juga calon yang tersenyum penuh arti di billboard-billboard raksasa. Publikasi dan citra hingga sekarang tetap penting dalam politik.

Meski demikian ramai pula dijumpai caleg-caleg penunggu pohon. Jika biasanya orang-orang pamali melintas di pohon besar tanpa permisi, sekarang tak perlu lagi. Sudah ada caleg yang menjadi suluh dalam gulita.

Omong-omong, gundah gulana sih wajar saja. Orang Amerika bahkan tak cukup rasa gundah, tapi menaruh curiga pada kontestan-kontestan pemilu ini. Curiga pada apa yang memotivasi para caleg hingga bertarung sedemikian rupa merebut kursi kekuasaan. Menurut Arnold Steinberg, alasannya universal: karena mereka yang duduk di legislatif lebih berkuasa daripada pemimpin yang paling kuasa, sekalipun di dunia bisnis atau universitas. Di lembaga tersebut, terdapat pusat monopoli kekuasaan untuk memaksa yang eksklusif. Toh nyatanya rakyat Amerika memilih juga.

Jadi, memlih itu perlu. Saat kita bisa membuang duit demi memilih idol favorit dalam kontes putri-putrian dan olah vokal, mengapa pada periode paling menentukan ini kita tak hendak sedikit berpayah-payah melangkahkan kaki ke bilik suara? Nasionalisme macam apa itu.

Cobalah tuan-tuan bayangkan, betapa mulianya para caleg tersebut. Ketika orang antri mendaftar jadi penyanyi, berbondong-bondong menjadi entrepreneur, jauh-jauhmerantau sampai ke luar negeri demi sebarang titel akademi, sementara caleg-caleg rela mengucurkan dana, keringat, waktu dan tenaga demi cita-cita luhur mengabdikan diri pada bangsa dan negara. Menanggalkan ‘pakaian pribadi’ demi panggilan tugas suci. Suatu tekad yang tak boleh diragukan. Lagipula jauh-jauh hari mereka sudah menyadari, jika khianat atau berperangai lancung, maka hotel prodeo siap menampung.

“Ambil uangnya, jangan pilih orangnya!!” pekik politisi warung kopi. Ya, mereka ini juga layak disebut politisi. Sebab politisi tak mesti mengenyam sarjana, tak mesti duduk di kursi.

Dimana waktu semakin sempit, strategi semakin tak berguna, janji semakin tak bermakna, peserta politik yang terdiri dari Partai dan caleg pun berlomba-lomba mendulang simpati lewat serangan fajar. Kampanye gaya lama ini acap tak bisa dielakkan. Warga cukup menunggu namanya dipanggil utusan caleg alias Tim Sukses, maka bantuan berupa paket sembako maupun amplop berisi rupiah, (sukur-sukur dollar) mendarat di tangan. Siapa berani larang?

Pilih muka baru sebab masih banyak caleg bersih,” ujarsuara yang berhembus lamat-lamat dari balik jendela.

Hei, kita tak sedang bermain dadu yang mana pemain boleh pasrah nasibnya diundi dengan angka. Kita sedang menghadapi pemilu. Katakanlah caleg muka baru memiliki rekam jejak yang bersih, belum terjamah korupsi, tak tersentuh isu pornoaksi atau kasus amoral lainnya. Hanya saja fakta di lapangan berbicara bahwa godaan kala berkuasa sulit sekali dihindari. Ia tak pandang muka.

Pertanyaannya, apa yang terjadi setelah pemilu, setelah para kandidat terpilih dan menyusun kursi komisi? Jika ternyata memilih tidak memberikan jaminan atas kesejahteraan, tak ada perubahan, lantas kenapa harus memilih? Alih-alih sosok istiqomah dan bertanggungjawab, malah yang muncul adalah pejabat ndableg yang bisa membahayakan bangsa baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Mengutip Mahbub Djunaedi, negara ini warganya terdiri dari manusia, bukan serangga.

Saat ini mau atau tidak mau, muak atau tidak muak, pemilu adalah sesuatu yang mesti. Ibarat makan nasi, bilamana perut berhenti mengkonsumsi makanan utama negeri ini, maka lemaslah segala sendi. Begitupun partai politik. Setali tiga uang dengan legislatif.

Namun jika ada yang bertanya, apa dan siapa yang harus dipilih untuk menunaikan amar ma’ruf nahi munkar, untuk mewakili aspirasi kita mengurus negara? Kajilah baik-baik mengapa harus memilih. Tanyalah hati, lalu tentukan seobjektif mungkin.

Quidquid agis, prudenter agas, (apapun yang kau lakukan, lakukanlah dengan bijak).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s