Quelle

Sepertinya ini akan menjadi kepulanganku yang terakhir. Menaiki kereta api kelas C, aku berangkat dari kota Maliau ke kota Radamnville, menuju rumah ayah. Bertemu seluruh keluarga besarku, menatap dan memeluk mereka satu persatu.

Ucapan ‘tak sengaja’ ayah padaku via telepon kemarin, merupakan signal aku harus pergi. Sebenarnya ia tidak mengusirku. Sama sekali tidak. Aku tahu, -meski tidak yakin- rasa sayang ayah padaku masih sama. Tapi beliau ingin aku tumbuh dewasa, tangguh, dan berjuang mengejar impianku.

Baru kali ini aku benar-benar siap bertualang sendirian. Setelah sebelumnya aku selalu ragu meninggalkan ayah dan keluarga. Karena selain Tuhan, ayah dan keluarga adalah sahabat terdekatku, tempatku meluahkan peduli dan percaya.

Aku berada di sana kira-kira seminggu. Kemudian aku harus ke kota Maliau lagi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. I have no idea mau ke mana. Ke ujung dunia barangkali. Di mana aku akan bertemu orang-orang baru, hari baru, daerah baru, dan kuharap bisa menata hidup lebih baik dari yang pernah kualami.

Tentunya aku tak berharap kembali lagi. Oh, aku tidak kehilangan rasa di sana. Bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Kupikir, inilah saatnya. Aku percaya Tuhan akan menjaga ayah dan keluargaku.

Kematian, pasti akan mendatangi setiap yang bernyawa. Tak peduli seberapa tingginya benteng yang dibangun, tapi jika pena telah digariskan, tinta telah kering, maka maut akan menjemput. Jadi, kuharap kita semua bisa mengikhlaskan kehilangan. Karena kita pun telah pernah mengalaminya beberapa kali.

***

Quelle membaca ulang tulisan di netbooknya. Seyum tipis khasnya menyeruak seiring bulir bening yang jatuh perlahan. Belum pernah aku sekuat ini, gumamnya sendirian.

Panggilan kedua kereta telah berbunyi dari mikrofon raksasa. Petugas di balik mic kembali meneriakkan pengumuman, mengingatkan para penumpang agar segera naik ke kompartemen masing-masing sebab kereta akan berangkat.

Buru-buru Quelle mengetikkan satu kalimat di akhir tulisannya, pemberani adalah mereka yang diam walau dalam kesedihan yang mendalam. Ia segera menutup netbook dan melemparnya ke ransel besar. Lalu ia melangkah ke peron A, menaiki kereta yang akan membawanya ke Radamnville.

*ini fiksi coba-coba. Ditulis tadi pagi, selama 20 menit. Usah diseriusi ya. Silakan dikritik, dikasi saran, atau apa saja boleh. Terimakasih. ^_^

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s