Adzan

Menjadi wanita soleha –karena authornya wanita-, tak cukup dengan menutup aurat atau berkerudung sahaja. Undang-undang Tuhan musti dipatuhi, sunah Nabi musti diteladani, peraturan-peraturan lain baik tertulis maupun tidak tertulis harus ditepati. Selain rapi, tak mengumbar syahwat, juga biar makin cantik. Itu kan yang kita butuhkan. He-ehh sambil angguk-angguk pasti nih.

Mengenai agama, jikalau dijabarkan satu per satu, agak rumit. Meski bukan seorang paranormal, saya ramalkan kemungkinan buruk akan terjadi. Misalnya, hadirin dan hadirat bakalan pindah channel ke blog lain, mungkin saja mengantuk, keder duluan, unfollow, atau stres.

Alasan lainnya, saya bukan ahli agama. Alangkah tak elok jika membicarakan hal-hal samar atau kurang pengetahuan tentang sesuatu. Sebab otomatis akan keliru. Apalagi sampai membaginya dengan orang ramai. Ilmu sangat sedikit, oleh sebab itu saya masih terus belajar dan berbenah. Maka, saya akan berbicara satu pokok persoalan (agama) saja.

Ini kisah, menyeruak di tengah jengah. Bukan berupa pembahasan tapi semacam kegalauan nan tak tertahankan: tentang Adzan.

Nah, sebagai perempuan yang terus berusaha menuju pribadi soleha, apa yang dilakukan ketika mendengar adzan? Seseorang dianjurkan untuk hening, khidmat, dan menirukan adzan serta melafadzkan doa setelahnya, sebagaimana sabda Nabi:

“Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengatakan: …(doa setelah adzan)… “Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku di hari kiamat nanti.” (HR. Bukhari dari Jabir bin Abdillah).

Lantas, bagaimana jika suara muadzzin sangat jelek, kasar dan mengerikan?

Maka saya benamkan wajah ke dalam buku, bantal, meja, atau pada benda-benda sekitarnya yang bisa menutupi kepala. Allah, maafkanlah…

Ceritanya, sewaktu kuliah di Universitas ber-flat merah, saya ngekos di jalan Padang Bulan, Medan. Kos saya letaknya persis dekat mesjid. Kira-kira sepelemparan batu. Bahagia sekali, niatnya memang demikian. Gak adem kalau jauh dari suara adzan. Di mesjid tersebut –Al Buchory namanya- jama’ahnya rata-rata mahasiswa. Mereka sering mendapat giliran adzan.

Di antara mereka, ada seorang mahasiswa berkulit hitam, posturnya tidak begitu tinggi tidak pula pendek. Saya tidak tahu siapa namanya. Tapi bila beliau adzan, hati jadi tersentuh pingin nangis, langsung wudhu’ dan bersiap menghadap.

Sayangnya, tiba di penghujung tahun ketiga perkuliahan, saya tak pernah lagi mendengar suaranya. Kata orang-orang kuliahnya sudah kelar dan dia telah meninggalkan Kota Medan. Alhasil saya harus mendengar adzan dari muadzzin berikutnya. Suaranya besar, namun menyakitkan hati.

Singkat cerita, jadwal rumah kontrakan pun sudah berakhir, saya putuskan mencari suasana baru. Saya pindah ke jalan Simpang Limun, masih di Kota Medan juga. Alhamdulillah sekali rumah kos saya juga dekat mesjid. Malangnya, suara muadzzin-nya malah lebih parah. Sangat keterlaluan!

Berhubung masih single dan available, saya memilih jadi nomaden alias berpindah-pindah. Rumah Kos berikutnya di jalan Si Singamangaraja. Masih dekat mesjid. Yang ini lumayan, suara muadzzin cukup enak didengar meski tak sesyahdu adzan di Masjidil Haram.

Selanjutnya pindah kos lagi ke jalan Helvetia. Mesjid masih dekat rumah. Suara muadzzinnya boleh juga. Gak bikin malu sama pemeluk agama Kristen yang tempat tinggalnya berada persis di sekitar mesjid.

Yak, rumah kos berikutnya di Medan Johor, dekat mesjid. Dari sekian banyak kos dan daerah yang sudah saya tinggali, di daerah ini paling lama. Hampir tiga tahun. Tapi di daerah ini pula suara muadzzinnya paling menusuk hati, mengacaukan iman, mengusik tensi. Sungguh!

Sejak pertama kali datang sampai sekarang, tak pernah sekalipun saya mendengar suara merdu dan syahdu aliih-alih seperti adzan di Masjidil Haram atau mesjid Nabawi.

Secara syariat, adzan diartikan sebagai seruan, panggilan, ajakan dalam bentuk perkataan tertentu yang berguna memberitahukan masuknya waktu shalat yang fardhu. Oleh karena itu, mestilah memanggil dengan suara baik-baik hingga orang yang mendengar benar-benar merasa terpanggil dan bersegera menjawab panggilan.

Dari searching di Google, ada saya baca kriteria seorang muadzzin selain ia muslim/berakal, baik agamanya, baligh, memiliki sifat amanah, ia juga harus mempunyai suara lantang dan bagus. Dalam artikel tersebut juga disertakan perintah Nabi Muhammad:

Sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin Zaid:

“Lakukanlah bersama Bilal, ajarkan kepadanya apa yang kamu lihat dalam mimpimu. Dan hendaklah dia beradzan karena dia lebih tinggi dan bagus suaranya dari kamu.” (HR. Tirmidzi (174) dan Ibnu Majah (698) dari Abdullah bin Zaid)

Dan juga sabda beliau:

“Jika kalian adzan, angkatlah suara kalian karena tidaklah ada makhluk Allah yang mendengar adzan kalian, baik jin, manusia, atau apa saja kecuali masing-masing mereka akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari (574) dari Abu Said Al Khudri)

Mana yang diutamakan, suara keras atau bagus?

Dalam satu risalah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Bilal untuk melakukan adzan, padahal yang melihat dalam mimpi adalah Abdullah bin Zaid dan Umar bin Al Khaththab yang tentunya mereka lebih tahu caranya daripada Bilal. Adapun tentang suara, maka suara Umar juga keras/lantang. Namun demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Bilal daripada Umar. Ini menunjukkan bahwa suara Bilal disamping keras juga lebih merdu dibandingkan keduanya sebagaimana dalam hadits:

“Sesungguhnya dia (Bilal) lebih lantang dan merdu suaranya dibandingkan engkau (Abdullah bin Zaid).” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Zaid)

Berdasarkan hadits ini maka disimpulkan bahwa suara yang bagus lebih diutamakan daripada suara yang keras. Apalagi suara adzan yang dilaungkan memakai mikrofon itu terdengar ke berbagai penjuru.

Tak seorangpun yang senang senang mendengar suara sumbang, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s