Menjadi Kaya

Pernah mendengar gerutuan seperti ini:

“Sombong benar orang itu”

“Belagu sekali”

“Mentang-mentang kaya, dia bisa seenaknya”

Atau jangan-jangan kau sendiri pernah menggerutu begitu karena diperlakukan semena-mena oleh orang kaya? Kau pernah disakiti orang yang memiliki banyak uang?

Seperti dicontohkan kebanyakan cerita film dan sinetron Indonesia, orang miskin acap jadi bulan-bulanan orang kaya. Orang miskin digambarkan sebagai makhluk paling lemah, tidak bisa berbuat apa-apa. Orang miskin kerap jadi bahan olokan, dihina, dipermalukan.

Baiklah, kau tidak menyetujui pernyataan di atas dengan berargumen bahwa itu hanya terjadi dalam FTV dan sinetron. Hanya fiksi belaka, tak pernah benar-benar ada. Tapi bukankah cerita di televisi hadir karena fakta di lapangan alias realita? Dunia adalah buku cerita. Satu kisah manusia akan menjadi kisah seluruh umat manusia.

Kemudian kau menghunus jurus pamungkas yaitu agama. Bahwa Tuhan akan memberi hukuman pada setiap orang –siapapun itu- yang bertindak sewenang-wenang. Kalau tidak di dunia, Tuhan pasti akan menyiapkan tempatnya di neraka.

Kemudian tak sengaja kau membaca kitab bahwa setiap pendosa akan dijebloskan ke neraka. Dihukum sesuai kadar dan lama dosanya di dunia, diguyur timah mendidih, dikeringkan, dibentur-benturkan, dibakar sampai gosong, setelah itu dibersihkan karena Malaikat penjaga Surga telah siap dengan tangan terbuka.

Ketika menyadari ‘cinta kasih’ Tuhan bahwa rupanya pendosa tak kekal di neraka, kau pun nelangsa. Geram pada orang kaya yang telah menyakitimu.

Seiring berjalannya waktu orang-orang yang pernah menghinamu malah menjadi lebih hebat. Orang-orang kaya yang pernah menyakitimu, malah semakin lebih kaya. Sebut sajalah orang-orang itu seperti anggota legislatif yang pernah kau pilih, kepala desa tempat di mana kau tinggal, ketua kelas di sekolahmu, tetangga sebelah rumah, mantan pacar, atau bisa saja orang yang menyakitimu itu Kepala Negara sendiri.

Ketika melihat kenyataan itu, kau menjerit histeris, menangis, merutuk dalam hati karena tak bisa berbuat apa-apa. Lebih tepatnya, mereka tak sengsara. Kebalikan dari nasibmu.

Seorang bijak pernah berkata, menyimpan dendam dan kemarahan itu ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Tapi kau tidak akan mendapatkan kepuasan karena orang lain tidak jatuh terjengkang lalu mati di hadapanmu.

Tentu kau ingat hukuman apa yang dijatuhkan pada koruptor karena konon paling ampuh. Yaitu dimiskinkan. Segala harta yang dirampas dari negara, harus dikembalikan ke negara. Setiap kepemilikan yang berkaitan dengan kasus korupsi, wajib disita.

Alih-alih para koruptor lebih memilih dipenjara bertahun-tahun asal tidak dimiskinkan. Sebab bagi mereka, uang adalah perpanjangan tangan.

Sejatinya, aku bukan provokator berbakat. Tapi kau harus tahu bahwa uang bisa membeli segalanya. Hampir.

Uang bisa membeli cinta, uang bisa membeli harga diri, uang bisa menjadi sumber kejahatan, uang bisa membeli suara, uang bisa membeli perempuan muda dan cantik, uang bisa membeli kesucian, uang bisa membayar kursi kekuasaan, uang bisa membeli popularitas, uang bisa membeli agama, uang bisa membeli budaya, uang bisa surat izin perjudian, uang bisa mengarahkan moncong senjata, uang bisa membeli idealisme, uang bisa membeli kejujuran, uang bisa membeli peraturan, dan lain-lain.

Lantas, apakah uang memiliki batas yang ia bisa beli? Entahlah. Kalaupun ada, jawabannya udara barangkali.

Kesimpulannya, menjadi kaya merupakan kenikmatanan.

Oya, kedengarannya sedikit ekstrim jika kita berbicara mengenai betapa berkuasanya menjadi orang kaya, betapa sulitnya menjadi orang miskin. Sebab hidup tidak melulu soal miskin atau kaya. Akan lebih penting menjadi pribadi murah hati, berbudi luhur, bermoral dan beretika.

Ujar seorang teman –yang tidak kaya- beberapa waktu lalu. Keesokan harinya, ia meminjam uang padaku disertai janji akan dilunasi seminggu. Aku setuju karena mengingat bahwa ia pernah berujar mengenai moral. Guess what?!

“Tak ada janji yang ditepati selain terbitnya matahari esok pagi” begitu pesan ayah yang ternyata sakti. Temanku, pergi entah ke mana meninggalkan janji dan hutang, tanpa kabar, tanpa pesan.

Sekali lagi, berusahalah menjadi kaya. Dengan cara, jalan, dan kerja yang baik tentu saja. Bukan karena ingin balas dendam, bukan karena ingin terpandang, bukan karena ingin dihormati, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin banyak teman, bukan untuk hal-hal buruk. Tapi menjadi kaya adalah perintah Tuhan. Menjadi kaya dapat membuatmu menjauhi kemaksiatan. Menjadi kaya itu indah.

Tapi kenyataanya kau masih susah? Jangan salahkan tulisanku. Jangan pula menanyakan padaku bagaimana caranya menjadi kaya. Saranku, gunakan baik-baik isi kepalamu. Pahami lagi apa itu ‘kaya’.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s