Mencari Tulang Rusuknya

Kalau kau membutuhkan sosok lelaki berseragam, pergi jam 8 (pagi) pulang jam 6 (sore), plus uang pensiun tiap bulan, maka dia tak cocok untukmu.

Jika kau menginginkan lelaki ber-style abang-abang masa kini seperti SMASH, SUJU, BIGBANG, atau sejenis boyband, maka abaikan saja tulisan ini.

Jika kau wanita, pencinta sejati, santun dalam sikap, memiliki kerendahan hati dalam ber-Tuhan, siap menikah bukan pacaran, maka kau tidak salah jalan. Silakan lanjutkan.

Tapi jika kau berpikir bahwa menikah dikarenakan perkara umur sahaja, maka selamat tinggal. Kau tak perlu berkenalan denganku.

Here we go…

Baru sadar, setahun belakangan ini aku benar-benar memikirkan pasangan hidup untuk abahku. Memang, aku juga meminta teman hidup untukku sendiri. Tapi namanya dan nama kakakku menjadi prioritas dalam sujud. Sedang untuk prakteknya, aku mendahulukan abah. Bukan karena beliau saudara tertua dalam keluarga, tapi kulihat ia sudah pantas untuk itu. Jadi di blog ini aku akan bercerita tentangnya. Tentu saja tak lepas dari modus kalau-kalau ada pembaca perempuan tertarik dengan abahku.

Namanya Numinggus Iswansyah. Aneh kan namanya. Biasa, buah karya ortu. Usianya 32 tahun sekarang. Karena keturunan melayu, aku dan saudaraku memanggilnya abah. Artinya abang. Perawakannya cukup tinggi, hidung mancung, berkulit sawo matang, berzodiak Leo. Kenapa kusebutkan zodiaknya? Itu penting. Agar kau bisa mengetahui seperti apa karaktek leo yang dibahas dalam ilmu perbintangan. –Berusahalah sedikit- sekaligus memudahkanku menulis hal lain tentangnya.

Dia sudah Haji. Calon penguasaha kaya raya. Maksudku, dia sudah punya pekerjaan sendiri, juga cukup kaya. Untuk mobil dan rumah, menyusul. Tabungannya cukup untuk biaya pesta besar, tanpa minta seperak dibelah kampak dari orang tua. Dia mandiri, gigih, pemurah. Kalau sudah bertekad, dia persis lirik lagu dangdut ‘Bola’ yang dinyanyikan Ona Sutra. Gunung tinggi kulalui, topan badai kuhadapi, sungai Musi keseberangi.

Kupikir, tak seorangpun di dunia ini menginginkan hidup miskin bukan? Tak terkecuali kami yang terlahir dari keluarga berkecukupan. Kalau dibilang mewah, itu gelar dari orang-orang, dengan senang hati kami terima. Tapi krisis ekonomi tahun 1998 menerpa ayah. Kalau boleh kukatakan, kejatuhan Presiden Soeharto berimbas pada usaha ayahku. Pelan-pelan bisnisnya menyusut. Kendati demikian, kami dianugerahi iman yang kuat oleh Tuhan. Maka ke-kurang kaya-an merupakan hal biasa. Selanjutnya, kami dipaksa Allah menjadi tangguh, petarung, pekerja, pemikir, pejuang.

Mungkin selintas peristiwa di atas dapat membuka matamu tentang kami, terutama abahku. Sebab dia tokoh sentral di sini.

Jadi, abahku memulai usahanya dari minus. Artinya, ngutang sewaktu mau buka usaha. Bagaimana perjalanan hidupnya sebelum jadi seperti sekarang ini, usahlah kuceritakan. Pedih, penuh duka. Tapi entah mengapa aku tak yakin kalau ia berduka atas perjalanan hidupnya. Dia bisa pura-pura bodoh, pura-pura miskin. Tapi dia tak pernah membiarkan kegagalan, kepedihan, kemiskinan menguasai hatinya.

Abahku, gemar berwira usaha. Meski dia tahu betul resiko seorang pengusaha, tapi dia telah memilih untuk jatuh dan berpeluh. Sesekali bersungut kalau bangkrut.

Impiannya, kaya tanpa batas. Dia tidak takut kaya rorak. Ohya, kau tahu Warren Buffet? Begitulah kira-kira perumpamaan kaya rorak itu. Warren Buffet pula lah yang memanas-manasinya jadi orang terkaya. Makanya dalam hal kekayaan, abahku tidak pernah sependapat dengan ayah yang hanya mencukupkan diri dengan kebun kelapa 10.000 batang serta rumah kontrakan 100 pintu.

Gaya abahku biasa saja. Dia rapi, keren, wangi, dewasa. Nah, kau tahu Icon Bollywood, Shah Rukh Khan? Semacam itulah abahku. Perkara penampilan, tak banyak yang bisa kuceritakan pada kalian. Sebab aku tak terlalu peduli dengan penampilan seseorang. Cukup rapi, wangi, tidak gemuk apalagi buncit, tidak menjadi pusat perhatian karena gaya ketinggalan zaman-nya yang keterlaluan.

Sebagai pengusaha muda, dia tahu merk. Dia penyuka barang-barang branded. Sekedar info, sepatu kulit pertamanya adalah Pakalolo. Asli, bukan KW. Hadiah dari ayah saat dia masuk Pesantren (setingkat SMP). Kira-kira tahun 1993 dia dapatkan. Sampai sekarang sepatu itu masih sering di-kiwi.

Tapi dia lebih mencintai uang daripada berjuang demi barang-barang branded itu. Singkatnya, dia tidak konsumtif. Kalau punya satu barang ber-merk, akan dia gunakan hingga benar-benar usang.

Dalam hal percintaan, dia adalah singa pemalu. Dia tidak berbakat menulis puisi romantis. Dia penggombal paling buruk sedunia. Menjijikkan.

Jika menyukai perempuan (pake banget), dia menghunus jurus pamungkas: diam, melirik, senyum tertunduk-tunduk. Sungguh, aku ingin menyinggahkan buku Di Bawah Bendera Revolusi-nya Presiden Soekarno ke kepalanya. Bisa kau bayangkan buku tua setebal  640 halaman itu kan?

Berkaca dari pengalamannya dalam bercewek-cewek, dia benar-benar parah. Setelah diberi signal berkali-kali, baru dia berani mendekati perempuan yang dia sukai. Itupun berakhir gagal. Kurang ajar memang.

Mengenai dia, ayah pernah mengatakan sudah angkat tangan. Padahal ayah yang mewariskan sifat pemalunya pada abahku. Namun kemudian ayah sadar, bahwa ia harus bertanggungjawab pada anaknya. Seperti ucapannya, ayah memang membuktikan itu. Hingga beberapa perempuan telah ditunjukkan, tapi tak ada satupun yang berhasil.

“mungkin dia mau secantik Luna Maya” suatu hari ayah menumpahkan kerisauannya. “bingung ayah. Tak tau ayah lagi macam apa yang dia mau”

Kau ingin aku menjawab apa ketika berhadapan dengan ayah? Yang ada aku ikut bingung. Abahku bilang, Luna Maya-lah yang tercantik. Bagi ayah, perempuan cantik itu tidak kurus dan tidak gembrot. Pilihan ayah jatuh pada Titi Kamal. Sedang cantik menurut gambaranku adalah seorang penulis yang mengagumkan, pembicara yang cerdas, berjilbab, tangguh, pandai renang, cantik, berkarakter, soleha. Kombinasi Siti Aisyah, Helvy Tiana Rossa, Sinichi Kudo, Mac. Giver, Nancy Ajram, JK. Rowling, Emma Watson, Jennifer Garner, dan Oprah Winfrey. *hahh… capek. Tadi nyebutinnya mesti satu nafas*

“Lalu kau ingin perempuan macam apa sih bang?”  Akhirnya aku ikut kesal juga padanya. Sapa suruh jadi pemalu!

“secantik Sonya Pandawarman, tapi lebih bagus lagi kalau pakai jilbab” Dia tersenyum padaku. “bukan dari keluarga kaya, juga bukan PNS” tambahnya buru-buru.

“di mana dicari yang begitu?!” tanyaku mulai galak.

“begini loh dek Nana…” ajaib, abahku tidak marah, tapi intonasinya sangat mencurigakan. Dia turunkan suaranya ke nada dasar ‘do’. Seketika aku tahu bahwa dia sedang berkonspirasi dengan waktu untuk menjebakku. “adek-adek abah kan cantik-cantik, pintar, soleha. Itu motivasi buat abah untuk mencari calon istri yang cantik dan soleha. Macam dek Nana ni, cantik, pintar, soleha. Berarti kan masih ada perempuan begitu di dunia ni.” Terangnya panjang lebar seraya memegangi perut dan menyindirku bahwa seorang adik tak boleh membiarkan abahnya dalam keadaan lapar menuju sholat Jumat.

Ya, atas pujiannya itu aku harus menebusnya dengan sepiring mie goreng dan teh manis dingin.

Oh, mengapa tulisan ini jadi sangat panjang? Padahal tadinya aku berniat menulis satu halaman saja. Kini saatnya kuakhiri.

Kepada tulang rusuknya, kau akan jadi perempuan pertama yang akan mendengar kisah sesungguhnya. Percayalah, demi Allah dia akan selalu berusaha membuatmu istimewa. Terlepas dari perangai singa yang kadang-kadang sukar ia kendalikan. Kupikir, karena ketulusan hatinya, dengan mudah kau bisa memaafkan itu, membantunya menjadi lebih sabar dan tidak emosional.

Jika setelah tulisan ini kupaparkan tapi masih tidak berhasil juga, atau tak ada yang bertanya tentangnya, apa boleh buat, aku akan mendaftarkan abahku menjadi peserta Take Him Out Indonesia.

PS:

kumohon, berhentilah mengatakan ‘belum jodoh’. berhentilah menceramahiku soal takdir. karena aku sudah hampir khatam buku Al- Hikam dan Tajul ‘Arus. Jika kau pernah membaca buku itu, kau tahu lah maksduku.

6 pemikiran pada “Mencari Tulang Rusuknya

  1. Heya i’m for the primary time here. I found this board and I in finding It really useful & it helped me out a lot. I hope to provide something again and aid others like you helped me.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s