Kalau bukan Tuhan, mengapa harus marah?

Pernahkah tubuhmu bergetar kencang di saat berusaha mengendalikan amarah? Pernahkan dadamu sesak di saat hati dilukai? Pernahkah airmatamu tumpah tatkala kesedihan mengusik pikiran?

Bila jawabannya iya, kita sama. Bahkan saat menulis kisah ini, aku sedang marah dan terluka. Tapi, tulisan ini merupakan usahaku untuk mengendalikan marah. Setidaknya… Aku hanya tak ingin kemarahan menguasai, hingga ia mengubahku (kembali) menjadi pribadi pendendam,  sakit hati, dan tidak pemaaf. Karena menurutku, kalau kita bukan Tuhan, lantas mengapa kita harus marah?

Dulu, aku berkawan dengan kemarahan. Aku benar-benar pemarah dan pembenci. Maka dari itu aku tahu bagaimana rasanya marah dan benci. Ternyata hal tersebut, selain menyakiti orang-orang di sekitarku, juga menyakiti diriku sendiri. Malah membuatku menjadi sosok yang sangat buruk dan gila. Jika dilihat dari luar, keadaanku baik-baik saja. Tapi sebenarnya hidupku kacau.

Hingga Tuhan memaksaku berubah. Jadilah tepung roti. Apa enaknya tepung roti? Apa rasa tepung roti kalau tidak diolah? Adakah keindahan yang terpancar dari tepung roti? Kau pasti paham maksudku.

Sekarang, jika orang-orang marah dan benci padaku, pemahamanku tentang sikap mereka jelas saja sudah berbeda dari aku yang dulu. Menurutku, mereka tidak punya atau kurang pengetahuan tentangku. Atau mereka keliru menafsirkan firman Tuhan bahwa kemarahan, hanya akan menjauhkan diri dari kemuliaan. Atau mereka tersinggung dengan ulahku. Atau juga mereka belum cukup bijak mengendalikan kemarahan. Ataupun mereka masih dalam proses untuk berbenah diri.

Ada masanya orang-orang mengerikan bisa berubah menjadi pribadi mengagumkan. Begitu pula sebaliknya, orang-orang mengagumkan bisa berubah menjadi sosok mengerikan. Tak seorangpun bisa menerka akan seperti apa kita nanti. Tapi pada dasarnya kita adalah orang-orang baik. Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Baik menciptakan hambaNya dengan sifat aniaya? Tapi manusialah merusak dirinya sendiri, membuat kerusakan di muka bumi.

Bagiku hidup adalah perjalanan. Seseorang bisa saja tersesat dalam pribadi buruk, pemarah, kejam, beringas, bahkan mengerikan. Namun atas kemurahanNya, Tuhan meniupkan cahaya hidayah agar hambaNya berubah, balik arah.

Berbicara mengenai luka, kadang orang-orang terdekat acap membuat kita terluka. Kan? Tapi kembali lagi pada sejarah, bahwa mereka adalah keluarga. Kita tak bisa memilih, karena mereka telah ditakdirkan hidup bersama kita. Singkatnya, cobalah menemukan cara terbaik untuk saling menyayangi.

Karena itu sekarang, belajar sajalah untuk menerima keluarga kita, walau seperti apapun mereka. Belajarlah memahami mereka, meski mereka mungkin memiliki keterbatasan dalam beberapa hal. Bagaimanapun juga, mereka masih memiliki hal baik untuk dihargai, untuk disukai, dan mampu membuat tertawa, meski sesekali. Jika kita membenci mereka hanya karena mereka tidak seperti orang-orang yang kita inginkan, itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri.

Mereka menyebalkan? Pemarah? Bikin kesal? Jawabku, ya begitulah. Malah kadang aku ingin hilang ingatan supaya tak perlu merasa lelah memahami mereka. Atau ada malaikat yang membawaku terbang sejauh-jauhnya dan tak pernah kembali. Tapi mungkin jika pertanyaan ini disodorkan pada keluarga kita, mungkin mereka juga akan mengatakan jawaban yang sama. Belajarlah untuk sabar, ikhlas, juga memaafkan.

Tapi yang lebih penting menurutku adalah terus memperbaiki diri. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk memutuskan akan jadi sosok seperti apa kita ini. Jadi jangan disia-siakan. Kelak kita dipanggilNya, semogalah buku catatan kebaikan lebih tebal dari buku keburukan.

6

Satu pemikiran pada “Kalau bukan Tuhan, mengapa harus marah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s