Etik

Di sebuah chatting maya di mana tulisan menjadi suara, dan icon pengganti sua. Tanpa kursi, tanpa kopi, tanpa jabat jemari. Dari sanalah penyebab tulisan ini tercipta.

Dua orang saling bercakap-cakap di salah satu jejaring sosial. Seseorang, bertanya pada temannya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian temannya itu menjawab dengan menggunakan Inggris yang baik dan nyaris sempurna. Lalu, apa yang salah? Tidak ada yang salah. Hanya saja, ketika seseorang bertanya dalam bahasa Indonesia, mengapa kita memilih bahasa Inggris untuk menjawabnya? Kurangkah perbendaharaan bahasa ‘bagus’ Indonesia untuk mewakili isi kepala? Ini soal etik. Perkara kecil memang. Tapi sebagian kita terbiasa meremehkan sesuatu dan menganggapnya tak berarti apa-apa.

“Hai Na, apa kabar?” tegur seorang teman yang tak sengaja ketemu di salah satu acara

“Hei, im great. How are you?”

Salah satu percakapan di atas bisa menjadi bukti bahwa etika saya belum sempurna. Kami, sama-sama orang Indonesia. Kawan saya itu menanyakan kabar saya dengan bahasa Indonesia. Lalu saya jawab pakai bahasa inggris. Tapi ketika saya di-english-kan, saya malah menjawabnya pakai bahasa Indonesia.

Jika menganalisa sikap sendiri, biasanya ke-kurang etisan ini muncul karena saya ingin mempraktekkan bahasa inggris saya yang kacau. Saya ingin belajar agar bisa praktis english dengan benar. Tak tahunya lawan bicara saya bahasa Inggrisnya lancar seperti air mengalir. Karena takut ketahuan oon, maka saya gunakan bahasa Indonesia.

Akhirnya baru saya mengerti bahwa sikap seperti itu tidak baik, nyeleneh, dan memperlihatkan kurangnya etik. Setelah itu saya selalu membiasakan diri menjawab pertanyaan sesuai konteksnya. Ketika ditanyakan dengan bahasa Inggris, saya jawab pakai bahasa Inggris. Begitu pula sebaliknya. Ketika diajak bicara menggunakan bahasa Indonesia, saya jawab dengan bahasa Indonesia. Saya ingin dihargai orang lain, dari itu saya juga harus menghargai orang lain.

Well, terutama sekali tulisan ini tertuju pada diri sendiri. Sebuah kritik untuk menjadi yang lebih baik. Sebab saya pun acap melakukan hal serupa. Lupa, mungkin menjadi alasan satu-satunya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s