Kebangkitan Nasional : K-Pop Vis A Vis Tari Tradisi

“Jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah”

Sejatinya sebagai manusia, kita senang bernostalgia. Mereka-reka kejadian dulu, membanding-bandingkannya dengan masa kini. Sebagian terjebak dengan masalalu, sebagian lagi memutuskan untuk berjuang demi masa depan yang abu-abu.

Setidaknya sebagai bangsa, kita tak pernah melupakan sejarah. Dengan hati-hati kita maknai kalimat di atas, tiap kata demi kata yang terucap dari Soekarno, seorang bapak Founding Fathers sekaligus Presiden pertama Indonesia. Masa lalu, memori, kenangan, dan apapun namanya, akan tetapi fokusnya masih sama, yakni sejarah, di mana kita bermain-main dengan kisah.

Lantas, adakah sejarah yang terlewat?

Berbahagialah, akhirnya Julius Caesar menemukan almanak yang memuat pertanggalan sehingga memudahkan menghapal hari-hari besar. Apalagi sekarang, almanak dilengkapi ‘tanda merah’ pada hari-hari besar nan penting itu. Maka tak terlewatlah hari kemerdekaan, jadwal Ramadhan, tanggal kenaikan Yesus, hari guru dan beraneka ragam hari-hari bersejarah itu.

Namun pada akhirnya kita hanya melakukan ritual saja. Membiasakan kebiasaan yang telah pernah dilakukan oleh para pendahulu sebelumnya. Mungkin kita tak lupa dengan sejarah, tapi belum siuman akan makna di baliknya.

Sekilas Sejarah Kebangkitan Nasional

Hingga pada tanggal 20 May 2013, seluruh bangsa Indonesia kembali memperingati hari bersejarah yaitu Hari Kebangkitan Nasional. Momentum yang diperingati secara nasional ini –di mana  masa perjuangan Bangsa Indonesia pada awal dimulainya abad ke– 20-, kemudian banyak mengalami perubahan-perubahan yang signifikan karena kegagalan-kegagalan perlawanan fisik yang telah dilakukan oleh para pahlawan bangsa dan para pendahulunya pada masa perjuangan sebelumnya.

Kebangkitan Nasional merupakan bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang.

Sebagaimana tertera dalam buku sejarah, Budi Utomo lah yang merupakan organisasi pelopor di bidang pendidikan dan sosial pada era Kebangkitan Nasional tersebut yang didirikan tepat pada tanggal 20 Mei 1908. Banyak dari mereka yang bergabung dalam organisasi-organisasi tersebut, kemudian mulai merintis jalan baru menuju cita-cita perjuangan Bangsa Indonesia selanjutnya. Namun, tokoh-tokoh lain yang juga ikut mempelopori gerakan ini antara lain Soetomo, Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, dan Douwes Dekker.

K-Pop Vis A Vis Tari Tradisi

Sudah sering diajarkan di sekolah-sekolah mengenai hari-hari bersejarah, baik itu latar belakang kejadiannya maupun siapa aktor atau pelakunya. Sampai berbusa-busa mulut pengajar itu menerangkan tentang Kebangkitan Nasional, pun disertai ujian untuk mengukur sejauh mana para siswa mengingat sejarahnya agar tak malu pada teguran Soekarno. Lalu, berhenti pada ujian. Entah apa perkembangan Kebangkitan Nasional, entah bagaimana memaknainya, entah bagaimana pula mempraktekkannya, bukan suatu persoalan. Sebab yang menjadi ukuran adalah hafal mati! Habis perkara.

Dan lazimnya hari-hari besar di Indonesia, tentulah ditandai dengan upacara bendera yang tak lebih hanya berupa seremonial belaka. Presiden berpidato, Bapak Walikota menyampaikan sepatah dua patah kata, Pak Camat hormat bendera, Kepala Sekolah ikut ambil bicara. Apalagi yang kurang? Semuanya ikut berpartisipasi, ikut mendukung Hari Kebangkitan Nasional diperingati. Andaikata para harimau di hutan bisa berbicara, barangkali mereka pun akan turut serta. Lalu, kemana anak didik? Mereka terkomando, berbaris rapi di depan. Sisanya pingsan di belakang.

Selanjutnya, di manakah nilai Kebangkitan Nasional? Di sebelah mana ia membekas?

Keesokan harinya pidato tentang Kebangkitan Nasional melayang jauh bersama uap air yang mendidih di atas tungku. Pelajaran tentang sejarah Kebangkitan Nasional sirna bagai jelaga tersapu gerimis sepanjang hari. Tak melekat di jangat, pun tak menempel di jidat. Kemudian pelan-pelan terlihatlah efek upacara bendera yang dilakukan panas-panasan itu. Di ujung sana anak-anak muda kembali ber-Harlem shake, bersuka cita memperagakan Gangnam Style, asik masyuk mempelajari K-Pop (Korea Pop, sebutan untuk tarian korea). Tarian yang berasal dari negari ginseng tersebut sudah mengaliri tiap jengkal nadi. Sementara itu tari tradisi melipir malu. Kalah saing, kalah pamor terhadap tarian model baru.

Sanggar-sanggar budaya dan tari tradisional Indonesia miskin peminat. Mempelajari tari melayu, tari batak, tari saman, tari pendet, dan segala tarian tradisional, seakan-akan menggelikan dan dicap kampungan. Kalau boleh dikatakan ‘masih untung’, maka tarian tersebut akan muncul jika ada acara penyambutan kedatangan pejabat, pembukaan atau peresmian kantor pemerintahan, juga ditampilkan sebagai salah satu sarat untuk memenangkan ajang perlombaan. Segelintir saja yang masih kekeuh mempelajari alih-alih mengagumi.

Padahal tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri. Oleh sebab itu, terdapat lebih dari 3000 tarian asli yang ada padanya.

Dalam perkembangan kehidupan kebangsaan sekarang, semestinya kita lebih peka terhadap pengaruh budaya asing yang bebas masuk ke Indonesia bagaikan lewat jalur by pass. Kita harus menanamkan pengetahuan pada masyarakat khususnya para pemuda untuk mengenal seni dan budayanya lebih dulu, sebelum berbagai budaya asing diserap dan ditiru. Karena seni dan budaya adalah akar negara ini. Sebagai pondasi yang dapat merekatkan masyarakatnya. Jika seni dan budaya negara sendiri dibiarkan dan tidak dilestarikan, maka pelan-pelan budaya luar akan menginvansi Indonesia. Tidak hanya dari sisi seni, tari dan budaya, tapi juga dari sisi ekonomi, politik, dan lainnya.

Hendaknya semangat Kebangkitan Nasional dapat melecut kita agar sadar bahwa hari besar bukan sekedar sebuah seremonial sahaja, akan tetapi lebih kepada meneruskan perjuangan bangsa demi untuk perbaikan martabat negara. Semoga!

*Tulisan ini dimuat di Harian Waspada, Minggu 16 Juni 2013*

cs2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s