Buka Aura

Beberapa kawan menyarankan untuk buka aura. Tidak hanya menyarankan, bahkan mereka rajin memberi alamat dan nomor kontak ‘orang pintar’. Kalau dihitung, sudah 15 orang yang berpartisipasi.

“masak tiap kenalan cuma sebatas kirim salam. Rata-rata suami orang pula” celetukannya memaksa saya tersenyum meringis sambil manggut-manggut. Hendak membantah, tapi itulah kenyataan. Ingin setuju, tapi saya terlalu malu mengakui kebenaran. “buka aura aja, biar laki-laki lebih cepat tertarik sama kita. Biar cepat dapat jodoh” akhirnya ia menawarkan solusi kala kami antri di counter BRI.

Telinga saya masih berfungsi dengan baik, tentu saja tidak salah dengar. Meski demikian saya putuskan bertanya mengenai buka aura. Ada yang tersumbat dalam diri saya, begitu jawabnya. Kenapa? Bingung? Saya heran jika kalian tak bingung dibuatnya.

Baru kali ini saya mendengar pengetahuan semacam itu. Waktu saya tanyakan apakah buka aura sama dengan susuk, pelet dan semacam praktek perdukunan lainnya, ia katakan tidak. “ini bukan ilmu kemenyan. Tapi pakek Al-Quran.” Nah, tambah bingung lagi kan?

Jujur saja, saya tak pernah yakin pada kemukjizatan selain pada apa yang Tuhan berikan. Tapi sebaliknya, saya mempercayai hal-hal ghaib sebagaimana mereka telah lama berlaku di dunia ini. Seperti tongkat Nabi Musa berubah jadi ular, Nabi Sulaiman bisa bicara dengan binatang, Nabi Ibrahim bisa menghidupkan yang mati dan lain sebagainya. Tapi bukankah semua ke-ghaib-an yang dimiliki Nabi berasal dari Tuhan? Tuhan, Sang Pemilik Semesta ini, akan memberikan izinNya pada apa-apa yang Ia kehendaki.

Lantas mendatangi orang pintar untuk buka aura agar cepat dapat jodoh, tak pernah terpetik di hati. Katakanlah ada yang tersumbat dalam diri saya atau sesuatu yang menjadi penghalang datangnya belahan jiwa. Namun bukan berarti saya harus mengadu pada ‘orang pintar’ yang konon mengobati pakai Quran.

Bukankah Tuhan lebih dekat dari urat leher sendiri? Bukankah setiap hamba dipersilakan menghadapNya kapan saja tanpa perantara? Nah, prinsip itu yang saya percaya. *semoga Allah senantiasa membimbing hati ini untuk taat*.

Rasanya rugi bila saya mendatangi (baca: mencoba) peruntungan pada ‘orang pintar’. Karena di dasar hati ini tak pernah yakin dengan hal-hal begituan. Sedangkan sarat suatu ilmu/obat menjadi manjur dan mujarab adalah yakin dan percaya atasnya. Begitu kan? Ahh, bagi saya, cukup Allah sahaja. Hasbunallahu wa ni’mal wakiil…

Namun, saya terperangah mendengar teman saya tadi. Betapa peduli kawan saya ini sampai-sampai ia sempat mengingat kesendirian saya serta sukses membuat saya memikirkan hal itu, pada akhirnya. Lalu di sela-sela antri, saya yang biasanya menunggu panggilan teller sambil main games, jadi punya kesibukan lain yaitu memikirkan ucapannya seraya bertanya-tanya dalam hati,

Sebegitu parahkan ke-jomblo-an ini? Betapa memprihatinkan kah kesendirian saya di usia 28?

Saya yang bertanya, saya pun tak tahu jawabannya. Yang penting saya terus berusaha memperbaiki diri, berikhtiar dan berdoa. Sisanya biar Allah saja yang menyelesaikan tugasNya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s