Di-blocked

Baru saja surfing di twittland. Gak sengaja saya melihat seseorang –entah siapa namanya- me-ritwit kicauannya bang Fadjroel Rahman tentang kasus Menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Saya tak perlu sebut kasusnya, sebab poinnya ada pada Fadjroel Rahman

Mundur beberapa langkah ke belakang, saya pernah mem-follow bang Fadjroel di situs microblogging ini. Alasan pertama bukan pada bernas-nya ia punya bicara, akan tetapi sosok Fadjroel Rahman sudah melekat di benak saya sejak di Sekolah Dasar kelas V.

Ya, kali pertama saya melihat beliau di TVRI sebagai MC atau pembawa acara dalam program debat mahasiswa. Saya suka gayanya yang tegas ketika menyela diskusi yang sudah jauh di luar konteks. Saya suka gayanya yang sederhana dalam berpakaian. Saya juga suka caranya yang tegas dalam menyampaikan setiap pernyataan.

Singkatnya, orang Indonesia yang sering saya tatap lekat-lekat setelah para pejabat, ya beliau ini. Andaipun bang Fadjroel Rahman berdiri di puncak monas, saya masih bisa mengenalinya dengan jelas. Bukan karena ngefans, tapi TVRI-lah channel yang konsisten menayangkan program debat mahasiswa yang dipandu bang Fadjroel. Selain juga karena TVRI sebagai satu-satunya chanel televisi yang tersedia saat itu. Namun nilai plus bang Fadjroel bagi saya, adalah beliau tetap konsisten di ranah pendidikan dan politik. Begitu yang terlihat dari kacamata jarak jauh saya.

Seiring perkembangan zaman, bermunculanlah televisi-televisi swasta yang lebih memesonakan pemirsa. Tak terkecuali saya. Program-program televisi ini lebih variatif dan kreatif. Mereka menawarkan beragam telenovela, film barat, kartun, sinetron, juga berita. Maka televisi ber-flat merah pun terlupakan. Kalau tidak karena pidato-pidato presiden kita, ia nyaris tinggal kenangan.

Hingga kemudian saya ber-twitter, langsung saya searched nama beliau. Ketemu, dan follow. Selanjutnya saya bernostalgia tentang debat mahasiswa, dan direspon, cepat pula. Dari situ, bang Fadjroel mem­-follow saya dan cukup rajin membalas setiap pertanyaan saya. Kadang-kadang kami terlibat diskusi singkat. Kalau dipikir-pikir, seru juga kala itu.

Tapi seperti program debat mahasiswa, nampaknya kali ini saya juga harus bernostalgia. Pertemanan maya dengan bang Fadjroel  rupanya sekejap saja. Tak hanya meng-unfollow, bang Fadjroel juga mem-blocked akun twitter saya. Pantas saja saya tak pernah lagi melihat komentar-komentar beliau. Baru tersadar setelah seseorang –yang entah siapa namanya itu- meritwit kicaunya.

Menjadi persoalan?

Tidak terlalu. Karena beliau berhak melakukan itu. Hanya saja unfollow-nya menyisakan tanya. Apa sih salah saya? Sependek pertemanan maya, pernahkah perkataan saya menyinggung beliau? Alhamdulillah saya bukan golongan orang-orang pencibir. Apa karena saya intens berbalas komen dengan trio macan 2000 –akun anonim yang dibenci beliau- menjadi penyebabnya?

Memang suatu kali saya pernah mendengar ke-taksukaan beliau pada akun samaran, anonim, palsu, imitasi, atau semacamnya. Tapi sejak memutuskan menggunakan twitter, saya meregistrasikan diri memakai nama asli, biodata asli, juga poto asli.

Entahlah.

Berkaca dari kasus ini saya belajar bahwa menjadi baik, belum tentu akan dianggap baik. Berpikir bahwa kita telah berlaku wajar, mungkin di seberang sana ada yang menganggap kita kurang ajar. Merasa bahwa kita telah bersikap ramah, mungkin di sudut sana ada yang marah akibat hatinya terluka karena kita punya ulah. Begitulah dalam hubungan dengan sesama manusia. Hitung-hitungannya lebih panjang dari selat Malaka.

Sedang bertransaksi sama Allah, tak perlu khawatir akan pengampuanan. Selagi kita mau menyesali kesalahan dan bertaubat, Allah pasti maafkan. Malah Allah sangat-sangat gembira ketika mendapati taubat hambaNya, ketimbang gembiranya seorang ibu yang menemukan kembali anaknya yang hilang.

Ah, tapi saya teguh memegang maklumat, jika ada yang membenci kita, itu perkara biasa. Karena hidup ini bukan untuk membahagiakan semua orang, tetapi untuk mentaati perintah Tuhan.

Jadi kepada bang Fadjroel, perkara blocked ini tak lah sampai menghadirkan benci di sudut hati. Lagipula saya memang sulit membenci orang. Saya pun masih suka menyaksikan ILC (Indonesia Lawyer Club), kalau-kalau di sana bang Fadjroel muncul.

Akhirnya, terimakasih telah pernah menjadi teman saya. Terimakasih juga karena telah sempat membalas pertanyaan-pertanyaan saya. Semoga tetap konsisten pada perjuangan, tetap setia mengawal jalan pemerintahan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s