Tersenyum untuk menyakiti?

Selain saya, mungkin di seberang sana masih banyak orang-orang yang memutuskan untuk tetap setia menggunakan Facebook sebagai sarana berkomunikasi dengan rekan-rekan, kerabat dan handai tolan. Terlebih lagi sangat dibutuhkan oleh pedagang online yang bisa dengan mudah memasarkan komoditi dan produk mereka pada masyarakat. Nampaknya Facebook, dalam hal ini menjadi sarana yang lebih efektif ketimbang rekannya sesama jejaring sosial, yaitu Twitter.

Meski demikian, saya tidak lagi begitu aktif berselancar di sana. Tak seperti dulu di mana saya masih antusias berbalas komen bersama kawan-kawan se-list friend. Rajin meng-upload poto pribadi, poto keluarga, poto kucing, sampai poto-poto di luar konteks kewajaran seperti poto kaki dan jari tangan. Pada saat itu saya tak benar-benar memahami apa faedahnya hingga saya berbuat demikian. Asal bertindak saja.

Padahal saya mengenal dan mulai berfesbuk di usia 23. Se-tua itu harusnya saya sudah berakal. Semestinya saya tahu mana yang pantas dan tidak pantas, mana yang wajar dan tidak wajar, mana yang penting dan tidak penting. Nyatanya akal saya tak dan belum matang laksana balita yang memandang api sebagai mainan. Sungguh memalukan.

Alasan ketidak-aktifan saya tersebut dikarenakan rasa bosan. Ya, saya bosan membaca nama-nama dan komentar alay yang kini acap menghiasi laman timeline. Saya bosan berdebat tentang perkara yang tak urgen untuk diperdebatkan. Saya bosan pembicaraan yang memancing kemarahan. Saya bosan dan tak suka dipuji. Terlebih lagi saya bosan menjadi pribadi yang sekedar menyampah dan menyebarkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kecerdasan serta tidak menambah pengetahuan.

Ketika sendirian, saya coba bertanya-tanya dalam hati seraya minum kopi Kapal Api.

Bukankah perkembangan hidup dan asupan pengetahuan adalah tanggungjawab setiap pribadi? Betul. Bukankah saya punya hak untuk berbuat dan bertindak –apapun itu- di fesbuk saya sendiri? Betul. Lantas mengapa saya harus merasa resah dan gelisah memikirkan informasi apa yang diperoleh orang lain ketika melihat timeline saya?

Jawabannya sederhana saja. Sebab saya tidak ingin jadi pemicu kebobrokan. Sudah banyak dosa yang saya ciptakan, begitu banyak maksiat yang saya perbuat, betapa besar keburukan yang saya hadirkan. Oleh karena itu, pantang disebar luaskan sekalipun untuk kasus semacam poto kaki dan jari tangan. Bukankah Allah sudah mengingatkan dalam firmanNya bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya kelak.

Jadi, ketika (lagi) saya membuka fesbuk, sampailah saya pada satu account bisnis online yang memasarkan hijab, kerudung, busana muslim, dan segala keperluan perempuan. Tak perlu saya sebut detil-nya, karena ia hanya akan mempertanggungjawabkan apa yang ia tulis pada Allah sahaja. Ia menulis demikian:

“Jika ada seseorang yang membencimu, janganlah kau membalas membenci orang itu. Berbahagialah dan tersenyumlah di depan mereka, karena hal itu yang akan menyakiti diri mereka yang membencimu.”

Jika dibaca selayang pandang, maka tak ada apa-apa. Lalu apa? Selanjutnya saya baca berulang-ulang, kemudian saya menemukan kata ‘menyakiti’ di sana.

Saya tanyakan pada admin, apakah berbahagia dan tersenyum pada orang yang membenci kita adalah bertujuan untuk menyakiti? Untuk membuat mereka tersakiti?

Seburuk itukah arti senyuman?

Mengapa bukan kita saja yang belajar memahami, bahwa ketika seseorang membenci kita, itu berarti sangat sedikit pengetahuannya tentang kita. Atau bisa saja ia mendengar hal buruk tentang kita dari desas-desus yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Sontak saya berlari menuju cermin, mematut-matut diri sambil tersenyum. Saya hendak mencari-cari senyum saya yang mana yang nantinya bisa menyakiti orang yang melihat. Jika ada, saya harap Allah tak pernah lagi menghadirkan senyum di wajah saya. Saya mohon Allah ambil saja anugerah ‘senyum’ yang pernah Ia titipkan pada saya.

Saya juga pernah ditipu, disakiti dan dikecewakan. Bahkan berkali-kali oleh saudara, teman, rekan, juga kolega sendiri. Saya balas menyakiti. Serius! Harus lebih sakit dan pahit hingga akhirnya mata mereka tak bisa terpejam dikarenakan perihnya. Ini terjadi sewaktu akal saya tak berfungsi, sewaktu masih bodoh dan jahiliyah sekali. Ampuni hamba ya Robb…

Sepanjang hidup, telah banyak rekan-rekan, saudara-saudara yang saya singgung serta sakiti hatinya baik dari perbuatan dan perkataan. Namun, kalau senyum saja pun bisa difungsikan untuk menyakiti, lalu apalagi yang tersisa dari diri saya untuk membuat mereka merasa nyaman? Apalagi yang bisa saya berikan untuk membuat orang-orang merasa bahagia?

Perlu dipahami, (senantiasa) berbuat baik pada orang yang telah menyakiti kita adalah suatu sikap bahwa kita telah cukup dewasa untuk mentoleransi ketidaksukaan kita terhadap mereka. Adalah suatu tanda bahwa kita telah cukup dewasa untuk mengendalikan ketidak-sukaan menjadi sikap ramah yang sempurna.

Folks, sekarang ini banyak informasi yang belum tentu benar bersliweran di mana-mana. Berhati-hatilah menerimanya. Jangan asal serap. Karena informasi bukanlah pengetahuan. Maka dari itu, teliti dan pahami.

2 pemikiran pada “Tersenyum untuk menyakiti?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s