Tak Perlu Jadi Penjilat

Sejatinya saya ini tipikal yang tidak suka kongkow-kongkow atau hang-out tanpa tujuan. Seperti makan ice cream bergerombolan, ngopi-ngopi sambil ngerumpi, cakap-cakap dengan maksud ngecap, apalagi cuci mata ke mall sekalipun tempatnya super mewah dan megah.

Jadi seorang Dinna tidak pernah ke Mall? Kalau saya jawab ‘iya’, berarti saya berbohong. Tapi saya tidak suka berbohong. Setidaknya saya selalu berusaha untuk tidak mencobanya. Jadi, saya hanya ke Mall jika ingin beli pakaian, menonton dan mencari buku yang memang tokonya ada di Mall. Perlu dicatat, pergi bersama keluarga.

Ngopi? Pertama kali lidah saya mengecap kopi sewaktu bayi. Bagi saya, kopi adalah bagian dari keajaiban. Saya suka minum kopi baik itu di rumah maupun warung/café kopi. Meski tak bisa dikatakan sering, tapi saya suka mencoba aneka ragam rasa kopi seraya menekuri netbuk –menulis- barang dua atau tiga jam sahaja. Sendiri, atau bersama keluarga.

Tapi kalau ngopi-ngopi, itu awal dari membuka celah privasi. Saya tak suka bercerita tentang privasi, terlebih lagi permasalahan yang saya hadapi. Tuhan dan keluarga adalah tempat saya meluahkan segalanya.

Kadang-kadang teman lama mengundang saya makan ice cream. Khusus untuk beliau ini, saya merelakan waktu terbuang. Sebab dia perempuan yang rajin sholat, tidak suka menggosip, dan cukup mem-protek wilayah pribadinya. Lantas, apakah saya dan dia serasi? Tidak. Dia lamban, saya cekatan. Dia sabar, saya masih belajar. Dia santun, saya beruntun. Dia punya satu keinginan, saya ada ratusan bahkan ribuan. Intinya, kami sangat, sangat, sangat bertolak belakang. Singkat kata, Tuhan lah yang membuat per-temanan kami abadi.

Jika nanti kalian mendapati saya berada pada orbit demikian, percayalah, itu di luar dari keinginan saya. Dan saya pastikan ‘posisi terjebak’ itu hanya berlaku setengah jam. Tak lebih. Saya mau bertaruh untuk itu.

Jadi, saya maunya apa? Saya tak mau apa-apa. Kalau ingin bertemu, mari kita bertemu. Kalau ingin bicara, mari kita bicara. Kalau ingin silaturahmi, mari kita wujudkan dengan segera. Tapi dalam koridor bermanfaat tentu saja. Tapi jika saya hanya mendapati kesia-siaan dan hal-hal yang tak berguna lainnya, maka izinkan saya undur diri.

Namun bukan berarti saya tak pernah terjebak dengan keadaan demikian.

Jujur, kira-kira 4 tahun lalu, saya pernah merelakan kenyamanan, kebebasan, dan harga diri saya demi berada di komunitas jet set, high class, atau apapun namanya. Saya paksa tersenyum di depan orang-orang yang terus-terusan membicarakan kepopuleran, kekuasaan dan kekayaannya. Sesekali saya menimpali agar dianggap ‘sah’ menjadi anggota lingkaran kelas atas, setidaknya di tepi. Ini ciri-ciri PENJILAT. Usah diturut.

Yang ada saya jadi mual dan ingin muntah, tapi saya harus menelan muntah itu kembali. Betapa menderitanya.

Perlu saya tekankan, saya juga suka dengan kekayaan. Karena menurut pemikiran dangkal saya, seorang muslim harus kaya. Tapi tujuannya untuk kemaslahatan, bukan dipamer-pamerkan. Untuk sesuatu yang bermanfaat, bukan malah menjadi sekat. Dan ayah saya juga kaya, meski ia tak punya kuasa (baca: bukan pemerintahan).

Karena terus-terusan berada di area demikian, perlahan saya menjelma jadi sosok yang angkuh dan sangat arogan. Saya juga ikut pamer-pamer kekuasaan dan kekayaan (padahal sangat sedikit dan titipan).  Tsumma na’udzubillah…

Pengalaman mengajarkan saya untuk menjadi matang dan dewasa. Pelan-pelan saya belajar menghisab diri agar semakin mengerti apa sih tujuan Allah menciptakan saya. Saya juga berkontemplasi sekaligus menganalisa diri siapa saya sebenarnya. Akhirnya saya paham, bahwa saya seorang penyendiri, pemalu, penyayang, tegas, tak suka dipuji, dan gemar belajar.

***

Beberapa kali saya –terjebak- mengalami aktivitas ngumpul-ngumpul yang membuat kemarahan saya mengepul. Tepatnya saat saya bercokol di partai politik. Tadinya saya masih serius dengan topik caleg, target suara, strategi partai, dan pengkaderan. Namun selanjutnya saya tak tahu persis ke mana arah pembicaraan. Samar-samar saya mendengar perempuan di depan saya –yang sejak tadi mendominasi percakapan- memproklamirkan bahwa ia keponakan pengacara kondang Adnan Buyung Nasution. Berkali-kali.

Ingin beranjak, tapi merasa tidak enak. Sebab rekan-rekan saya masih terlihat asik dengan perbincangan mereka. Juga atasan saya masih betah pada orbitnya. Ingin bertahan, tapi hati tak terima. Ingin menyela dan mengolok-olok ‘Adnan Buyung-nya’, itu bukan kapasitas saya meski mudah sekali meng-KO-kan orang demikian. Dan Tuhan pun tak suka.

Tapi perempuan yang usianya kira-kira 40-an itu terus saja bicara. Ia bahkan mengabaikan pendapat rekan di sebelah saya. Selanjutnya ia bilang, ia akan minta Hatta Rajasa agar mengangkatnya jadi wakil sekretaris kabinet. Di sela percakapannya, ia memanggil kepala Cheff Restoran Hotel JW. Marriot. “aku sudah biasa makan di sini. Semua makanan kupesan dan kutaruh di meja.”  Sementara si Cheff tersenyum dan mengangguk-angguk seperti burung pungguk.

Saya yakin perempuan itu punya uang lebih banyak dari saya dan rekan-rekan. Saya juga haqqul yakin, dia lah yang membayar makanan yang terhidang di meja, termasuk mie putri hijau yang saya pesan. Akan tetapi alangkah murahnya harga kenyamanan dan kemerdekaan jika ditukar dengan semangkok besar mie putri hijau. Betapa rendahnya nilai kebebasan berbicara jika dihadapkan dengan orang yang memiliki kuasa dan harta.

Karena tak merasa takjub, saya putuskan pergi meninggalkan rekan-rekan yang nampaknya sangat terpukau. Saya permisi dengan alasan ada pemotretan. Kalau rekan-rekan memilih tinggal, silakan. Saya hargai pilihan mereka. Tapi jangan paksa saya untuk mendengarkan apa-apa yang tak menambah kecerdasan saya. Namun gegara kejadian tersebut rekan saya marah dan kami tak bicara hingga kini. Sudah 1 bulan sejak kejadian. Afwan folks, majikan saya Tuhan. Maka tak perlu memaksakan diri, tak perlu jadi penjilat.

Kepada kau, kalau mau marah dan diam sampai kiamat, sukak kau lah. Bagiku kebebasan, kemerdekaan adalah kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah pilihan.

Kepada perempuan itu, sikapmu adalah cerminan sikap saya yang dahulu. Terimakasih atas jumpa dan temu, sehingga mengingatkan saya bahwa betapa jeleknya pribadi saya di ketika itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s