Refleksi Hari Kartini

Jika April tiba, ada dua penanda yang tentunya amat lekat di ingatan masyarakat, yaitu April Mop dan Hari Kartini. Kedua peringatan ini memiliki cerita berbeda di baliknya. April Mop adalah hari di mana kejutan atau canda yang berisi kebohongan dibolehkan, sedangkan Hari Kartini adalah momen tentang kisah sukses seorang perempuan, seorang tokoh yang jadi panutan dan kebanggaan seluruh masyarakat khususnya perempuan di Indonesia.

Siapa yang tak kenal dengan kalimat ‘habis gelap terbitlah terang’? Seorang perempuan yang dalam masa pingitannya kerap resah dan merasa dibui oleh tradisi. Jiwanya berontak terhadap segudang kewajiban yang harus diemban perempuan sedangkan di sisi lain hak-hak perempuan dikebiri, tak dimaknai.Ya, Raden Ajeng Kartini, begitu namanya disebut, lahir tanggal 21 April 1879, merupakan anak kelima dari Bupati Jepara, R. M. Adipati Ario Sosroningrat.

Sebelumnya, telah cukup sering para penulis, para aktivis, para feminis, meluahkan kesan mereka tentang kepahlawanan seorang Kartini. Juga telah hadir beragam analisis dari para pembicara dan para pemimpin memperbincangkan seorang putri yang mendobrak tradisi pingitan, adat dan kebiasaan Jawa di zaman penjajahan Belanda. Namun jarang sekali ditemui telaah tentang mengapa ia menjadi pahlawan sepanjang masa. Mengapa haul beliau acap diperingati dan dijadikan patron pergerakan dan kebangkitan kaum perempuan. Mengapa pula kisah-kisah beliau menyedot perhatian dan minat orang banyak.

Padahal meski samar, tentunya kita telah pernah mendengar nama Dewi Sartika dari Bandung, Tjut Nyak Dien dari Aceh, Maria Walanda Maramis dari Minahasa Utara, Martha Christina Tiahahu dari Maluku, dan pahlawan perempuan lainnya yang berjuang membela kehormatan negara dan bangsa Indonesia. Jasa dan pengorbanan mereka tak main-main. Mereka melawan hierarki, terjun ke medan perang, menenteng senjata, menghadang serangan dan penjajahan sampai titik darah penghabisan. Lantas, apa yang membuat nama Kartini begitu harum dan bergema di seluruh nusantara?

Untuk menemukan jawabannya, mari kita mundur ke tahun di mana Kartini masih tegak berdiri, meredam-redam gejolak cita-cita yang tersandung adat budaya, yang selalu bermimpi akan kebebasan dan nasib perempuan yang berperadaban.

Kartini dibesarkan di lingkungan bangsawan Jawa, dengan tradisi patriarkal yang sangat mengurat mengakar dalam silsilah keluarganya. Meski berada di tengah-tengah keluarga yang berpikiran maju – cucu Pangeran Ario Tjondronegoro seorang Bupati Demak-, namun pada masa itu, perempuan dari kalangan priyayi harus dipingit, tidak boleh mendapat pendidikan layaknya laki-laki, cita-cita mereka telah ditetapkan sejak lahir, yaitu menikah muda, dijodohkan dengan seorang keturunan bangsawan pula, dengan kemudian menjadi Raden Ayu.

Hal demikian itulah yang menyebabkan Kartini muda menjadi kesal dan berontak. Ditambah lagi, ibu dan saudara-saudara perempuannya tak pernah mendukung keinginannya. Ia diajarkan untuk tunduk, diam dan patuh terhadap saudara laki-lakinya, seolah-olah perempuan lebih rendah derajatnya dari laki-laki. Dari situ semangatnya berkobar untuk melawan ketidakadilan bagi kaum perempuan Bumiputra (sebutan kepada pribumi saat itu). Ia ingin merombak adat zamannya. Namun ia sadar, cita-cita terbentur dinding krama dan etika. Akhirnya ia putuskan membaca banyak buku dan berkirim-kirim surat kepada kawan-kawan Belandanya untuk mengusir kesendirian dalam pingitan. Seperti yang telah ia tulis dalam suratnya, ia ingin mencari pelipur dan ketetapan hati. Maka dari itu Kartini mengirim surat kepada Mr. dan Mrs Abendanon, Stella, Nyonya Van Kol, Nyonya Ovink-Soer, dan Nona Zeehandelaar.

Kemudian, setelah ia wafat, berlembar-lembar surat-suratnya tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dalam buku yang berjudul “Door Duisternis tot Licht” (1911) yang oleh Arminj Pane dialihbahasakan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” terbitan Balai Pustaka (1922). Selanjutnya berdasarkan Keputusan Presiden No 108 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai salah satu pahlawan nasional, maka dari itu setiap tanggal 21 April seluruh rakyat Indonesia memperingati hari Kartini, sebagai tanda hari perempuan Indonesia.

Berawal dari kegemarannya menulis dalam bentuk surat-menyurat itulah kemudian nama dan pemikiran Kartini dikenang sepanjang zaman. Ia tetap harum berseri meski raganya telah bersemayam di perut bumi. Melalui tulisan-tulisannya, Kartini mempunyai bukti otentik bahwa ia dengan segala pemikirannya telah ada, telah hidup dan nyata. Sedang bagi pahlawan-pahlawan lainnya yang tidak menulis, meski tetap diingat dan tercatat dalam prasasti, akan tetapi perlu usaha sangat keras untuk mencari bukti dan jasa mereka untuk Indonesia.

Oleh karena itu menulislah. Sehebat dan segagah apapun gagasan, ide dan pemikiran jika tidak dituangkan ke dalam tulisan, maka segalanya akan hampa, sia-sia, raib ditelan masa. Menulislah, sekalipun berpayah-payah. Kadang-kadang kita tak pernah tahu kemana nasib akan membawa kita bukan? Bahkan Kartini sendiri pun tak pernah menyangka bahwa surat-suratnya akan dikenang sepanjang zaman. Ia hanya menulis, dan terus menulis.

Maka menulislah, sebab yang tersurat akan abadi, yang tersirat akan binasa

 

3 pemikiran pada “Refleksi Hari Kartini

  1. Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

  2. apa alasan logisnya kenapa pada tanggal 21diperingati sebagai hari kartini,kenapa hari pahlawan wanita yang lain tidak diperingati.?

    1. hehe…
      berbicara logis, baiklah. tapi ini hanya sependek pengetauan saya.
      kartini lahir pada tanggal 21 april. itu sebabnya kita memperingati ia, yang telah ditetapkan sebagai hari pahlawan wanita. tapi yang jadi pertanyaan, mengapa kita peringati hari kartini saja? mengapa tidak yang lain? karena kartini menulis surat pada sahabat belandanya. sedangkan pahlawan wanita lain, selain tidak surat menyurat pada orang belanda, juga tak memiliki karib/sahabat orang belanda, malah sangat frontal, terbuka, terang-terangan menumpas belanda..

      NB: tanpa berburuk sangka pada kartini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s