Binatang-binatang itu…

Berterimakasihlah pada binatang-binatang yang tanpa sengaja telah ikut memberi sumbangsih pada perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Sehingga dengan adanya binatang tersebut, memudahkan kita untuk menggambarkan suatu wujud, keadaan atau peristiwa. Di samping itu, binatang-binatang tersebut cukup membantu dalam membuat perumpamaan yang pas terhadap seseorang yang perangainya terkadang tidak kita senangi.

Sebut saja kupu-kupu malam yang disimbolkan sebagai pekerja tuna susila, padat merayap berarti kondisi jalan yang sangat ramai, lintah darat dimaksudkan pada seseorang yang meminjamkan uang kepada orang lain dengan mengambil keuntungan atau bunga sangat besar, membabi buta adalah perbuatan nekat dan di luar kendali.

Jadi setidaknya, sedikit ramahlah pada seekor buaya yang mana atas jasanya akhirnya para perempuan menemukan ungkapan tepat untuk lelaki nakal, suka menggoda, dan tak setia dengan sebutan buaya darat. Meskipun kita tidak pernah tahu perempuan mana yang pertama kali mengucapkannya, tapi kita telah sering mendengar bahwa buaya didendangkan dengan begitu manis oleh Mulan Jameela.

Selain itu, acap kita mendengar kata ketam batu disematkan pada seseorang yang sangat pelit, enggan berbagi, suka berkelit jika bicara duit. Jika diminta menyumbangkan seperempat dari gajinya untuk penggalangan dana, mungkin ia memilih kabur atau lari terbirit-birit. Mengenai asal muasal mengapa ketam batu akhirnya mendapat kehormatan sebagai simbol kepelitan, usah ditanya. Sebab tak ada yang tahu pasti dari mana lahirnya frasa ini. Padahal ketam batu yang juga punya side name kepiting adalah nama binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari upabangsa (infraordo) Brachyura, yang dikenal mempunyai “ekor” yang sangat pendek (bahasa Yunani brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit.

Kemudian giliran ulat nangka yang jadi imbas kemarahan. Kemarin saya mendengar seorang ibu mengatai anaknya yang tak berhenti bermain. Ia memanggil anaknya dengan sebutan ulat nangka. Nah, ketika saya menanyakan apa yang dimaksud dengan ulat nangka, dengan polosnya ibu tersebut mengartikan sebagai seseorang yang susah diam, senang bergerombol dan bikin onar. Singkatnya, hiperaktif.

Tapi, bukankah ulat nangka di dunia nyata adalah ulat yang menggerogoti nangka matang yang setia menggantung di pohon? Kalau diamat-amati, perangai ulat nangka ini sangatlah pemalu. Ia senang berdiam dan berlindung di balik biji nangka. Lain halnya jika ulat tersebut dijemur di bawah terik matahari. Sebab, jangankan ulat nangka, manusia biasa saja pun kocar-kacir karena panasnya.

Selanjutnya, masih tentang binatang. Namun gara-gara binatang satu ini ingin rasanya saya ngumpet sekejap ke dasar bumi. Singkat cerita, ketika itu saya berjumpa kawan lama di sekitar komplek rumah. Rupanya tanpa saya sadari ia mengamati saya hilir mudik sejak tadi. Mungkin saking penasaran ia bertanya tentang apa yang sedang saya lakukan. Lantas spontan saja saya jawab bahwa burung ayah saya lepas.

Sontak seluruh penghuni komplek termasuk kawan saya ini tertawa ‘sopan’ dan berbisik-bisik. Butuh waktu lama bagi saya mencerna tawa dan bisik-bisik itu hingga akhirnya memahami ‘kekhilafan’ saya. Ternyata masalahnya ada pada burung. Padahal sedikitpun saya tak bermaksud menunjuk burung ayah, juga tak pernah mengkiaskan kelamin sebagai burung. Akan tetapi, burung merbuk ayah saya lepas karena beliau lupa menutup sangkarnya. Begitulah yang sebenarnya terjadi.

Berkaca dari pengalaman burung tadi, sampai sekarang saya menjadi lebih berhati-hati jika menyebut burung secara transparan apalagi di tempat terbuka, meski kenyataannya saya penggemar burung bersayap, sungguh! Saya pikir ini merupakan gejala yang sangat aneh ketika seseorang terintimidasi oleh seekor burung.

Kemudian, sidang pembaca sekalian pasti sudah familiar dengan sebutan tikus yang disematkan pada politisi yang suka bermain curang dan korupsi bukan? Binatang pengerat ini tak asing lagi di telinga kita tentu saja. Setiap melihat para politisi negeri ini ’ketahuan’ korupsi, buru-buru kita menyebutnya tikus. Pun tak kalah seru dengan tikus dalam lirik lagu Iwan Fals:

Kisah usang tikus-tikus kantor/Yang suka berenang disungai yang kotor
Kisah usang tikus-tikus berdasi/Yang suka ingkar janji
Lalu sembunyi dibalik meja/Teman sekerja/Didalam lemari dari baja
Kucing datang/Cepat ganti muka/Segera menjelma/Bagai tak tercela

 Tentunya masih banyak lagi binatang yang dijadikan kiasan dan acap digunakan dalam bahasa sehari-hari. Yang di atas adalah sedikit fenomena binatang yang saya temukan. Agaknya di luar sana, masih banyak binatang-binatang yang selain jadi korban santapan, juga jadi ‘korban’ pengkambinghitaman manusia.

p3

Telah dimuat di harian Waspada (Medan), Minggu 21 April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s